Pelangi » Refleksi | Ahad, 12 Juni 2011 pukul 10:30 WIB

Do'akan Dia

Penulis : Rifatul Farida

Pernah suatu kali seorang akhwat curhat pada saya tentang kegundahan hatinya. Ini soal hubungan horisontal dua manusia. Namun, artinya bukan hanya berhenti sebatas hubungan sosial, tapi pada persaudaraan.

"Akhwat ini baik, cerdas, tegas, vokal. Kami memang sering beda pendapat, tapi itu kan hal yang biasa dalam sebuah organisasi," tuturnya suatu pagi.

"Ana mencoba mengevaluasi, kenapa tidak punya ikatan hati padanya, mungkin hati ana yang terlalu kotor. Tapi, kenapa dengan yang lain ana bisa? Bukankah ini hal yang aneh?" lanjutnya.

"Pernah memberikan hadiah padanya?" tanya saya.

"Ya, pernah. Sudah ana lakukan semua untuk bisa dekat dengannya. Bahkan beberapa kali ana pernah ke rumahnya, dan begitu juga sebaliknya. Tapi, yang namanya hati tidak bisa dibohongi, ukh."

"Benar sudah semuanya?"

Ia mengangguk.

"Pernah kesal sama dia?" tanya saya selanjutnya.

"Beberapa kali. Ya, karena perbedaan pendapat itu. Tapi ana berusaha untuk tidak berlarut, ana harus menyadari kalau kami bersaudara."

"Pernah mendo'akannya?"

Ia menggeleng pelan.

"Kalau begitu, do'akan dia," kata saya.

Ya, sering itu yang terlupa dari kita; do'a.

Do'akan dia yang jauh dari kita, do'akan dia yang membuat kita kesal, do'akan dia yang sulit hatinya kita tembus, do'akan dia yang begitu keras kepala. Do'akan dia!

Karena do'a kita bukan hanya untuk yang kita sayangi saja, bukan hanya untuk orang-orang terkasih saja. Tapi untuk semua orang yang sangat ingin kita melihat ada kebaikan dalam dirinya dan hidupnya.

Mari, berdo'a untuk mereka. Meski mereka tak pernah mengetahuinya.

KotaSantri.com © 2002-2026