Pelangi » Refleksi | Selasa, 5 April 2011 pukul 10:00 WIB

Shalat itu Bukan Hanya di Kantor

Penulis : Mujahid Alamaya

Awal Februari lalu, saya mendapat tugas dari kantor untuk mendampingi sebuah tim ke luar kota selama beberapa hari. Karena mayoritas anggota tim tersebut nonmuslim, saya sempat khawatir tidak bisa leluasa untuk shalat. Beruntung ada beberapa anggota tim yang muslim ikut serta. Saya jadi lega. Nanti tidak perlu canggung jika hendak menunaikan kewajiban shalat.

Dalam perjalanan di jalan tol, sudah masuk waktu Ashar. Saya pikir senior saya yang muslim akan menyarankan untuk istirahat sebentar di rest area. Setelah beberapa rest area terlewati dan kendaraan tidak berhenti juga, saya jadi gelisah. Akhirnya saya memberanikan diri menyuruh pengemudi untuk berhenti, "Nanti di rest area kita berhenti dulu, sekalian shalat ashar."

Tidak lama kemudian, berhentilah kami di rest area. Saya bergegas menuju masjid yang ada di sana. Saya kira rekan-rekan muslim yang lain bakal menyusul ke masjid. Setelah ditunggu hampir setengah jam, mereka tak kunjung datang. Akhirnya saya kembali ke parkiran mobil dan menemui mereka. Setelah semua selesai dan berkumpul, kami langsung melanjutkan perjalanan.

Saya sempat bertanya-tanya kenapa mereka tidak shalat. Saya berpikiran positif saja, mungkin sudah dijamak dengan dzuhur tadi siang. Saya pun tenang-tenang saja.

Tiba di tujuan, sudah masuk waktu maghrib. Setelah menyimpan barang-barang di penginapan, saya langsung menuju mushala. Selesai shalat dan kembali ke penginapan, saya kira mereka sudah shalat di dalam penginapan, tapi ternyata mereka belum shalat. "Aneh, kok mereka tidak shalat? Padahal ketika di kantor, saya pernah melihat mereka shalat," batin saya.

Hari-hari berikutnya pun demikian. Saya tidak pernah melihat mereka shalat. Jika hendak shalat, saya selalu bilang kepada mereka. Senior saya pun pernah berkata kepada saya untuk shalat bersama-sama. Bahkan, senior saya tersebut beberapa kali berkata kepada saya, "Sudah shalat? Saya belum, nanti deh di sana." Tapi saya tidak pernah melihat sama sekali ia dan rekan-rekan muslim yang lain shalat.

Karena seringnya mereka melihat saya shalat, merekapun menyebut saya dengan 'ustadz'. Apalagi setelah mereka tahu jaket yang saya kenakan beratribut muslim, sebutan 'ustadz' pun sering mereka lontarkan.

Selesai tugas tersebut, kembali ke rutinitas di kantor. Seperti biasa, saya selalu shalat di mushala kantor. Dan ternyata, saya kembali melihat mereka shalat. "Kok mereka hanya shalat di kantor saja? Astaghfirullaah... Kalau di rumah, apa mereka shalat? Wallahu a'lam," batin saya.

"Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa’ [4] : 103).

"Shalat adalah tiang agama. Barangsiapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agamanya." (HR. Baihaqi).

Shalat itu tiang agama. Wajib dilaksanakan pada waktunya, di manapun, dan dalam kondisi apapun.

Semoga saja saya tidak salah duga. Mereka waktu itu memang shalat, tapi saya tidak melihatnya. Saya harap demikian.

KotaSantri.com © 2002-2026