Pelangi » Refleksi | Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 10:50 WIB

Mengapa Harus Rumahku, eh, Kost-ku Surgaku?

Penulis : Rifatul Farida

Setelah hampir seharian berjibaku melawan rutinitas, melawan banyak pemakluman, melawan banyak pengganggu prinsip hidup, dan lain sebagainya, akhirnya satu tempat nyaman menjadi labuhan dari semua lelah dan peluh. Ya, apa lagi kalau bukan rumahku surgaku.

Itu kalau yang punya atau tinggal di rumah sendiri. Lha, kalo yang tinggal di asrama atau kost? Jadi deh judulnya kost-ku surgaku.

Hanya saja, untuk banyak alasan, bagi anak kost yang tinggalnya barengan dengan orang-orang yang berbeda dari latar belakang, cara pandang hidup, dan gaya hidup yang gado-gado, istilah "rumahku surgaku" bisa sangat mungkin hanya di awang-awang.

Jika dikaitkan dengan dakwah fardiyah (dakwah individu), maka akan menjadi cerita yang hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Warna balon deh jadinya.

Ada apa dengan dakwah fardiyah?

Ada banyak hal yang bisa diceritakan.

"Jika kita hidup di suatu lingkungan, maka keislaman lingkungan itu adalah tanggung jawab kita," demikian kurang lebih kata-kata seorang senior yang masih saya ingat.

Enaknya jika kita tinggal sama akhwat (yang ikhwan ya tentu saja sama ikhwan), karena yang terjadi bisa saling menguatkan dan mengingatkan. Banyak hal yang bisa disinergikan untuk mewujudkan rumahku, eh, kost-ku surgaku. Syukur-syukur menjadi base camp dakwah dan banyak ruhiyah ilahiyah.

Tapi, kalau kemudian kenyataan tidak berkata demikian? Maka, siap-siaplah mengambil langkah seribu, tidak hanya untuk kepentingan dakwah dan ruhiyah pribadi, namun juga manajemen emosi serta membedakan kapan harus memaklumi, kapan harus tegas. Tapi karena banyak tidak enaknya, hasilnya bukannya tegas, malah males pulang. Sering saya mendengar cerita demikian.

Lalu, kenapa juga kost di situ kalau jadi bang Thoyib yang pergi gak pulang-pulang?

Hayuh, hadapi dengan senyuman.

Ups... Ya, benar. Senyum saja tidak cukup. Tak semudah bim salabim dan semua bakal berjalan seperti yang kita mau; musnahkan musik-musik jahiliyah dan ganti dengan nasyid haraki, obrolan dakwah ngisi tempat si gosip, TV hanya untuk berita dan hal yang menurut kita 'aman', murattal bisa membangunkan untuk shalat shubuh, dan lain-lain. Sudah membayangkannya?

Mari kita kembali pada kenyataan!

Di kamar sebelah ada yang masih masang foto-foto narsis para seleb yang tidak tahu juntrungnya bakal dibawa ke mana kisah hubungan fans dan idolanya ini, di kamar sebelahya lagi masih ada yang hobi menyalakan musik-musik jahiliyah ba'da shubuh, di kamar depan penampilan full make up menjadi andalan untuk tebar pesona. Begitu jadi satu ngumpul di ruang TV, jam gosip tayang, nyambung deh satu obrolan ke obrolan lain menemani sarapan pagi.

Kitanya lagi shalat, eh, dengar deh kamar sebelah lagi tertawa lucu nonton film (sinetron?) Korea. Kitanya lagi tilawah, saingan deh suara kita dengan lagu yang katanya hasil karya anak negeri dengan tema patah hati lalu ingin mati saja. Pas kitanya ikut kumpul, nyambung tidak nyambung, musti disambungkan dengan baik dan benar. Maka jawabannya; jika kita tidak mewarnai, maka mereka yang akan mewarnai kita.

Jika kita belum bisa bahkan tidak bisa mewarnai dan nolak diwarnai?

Mmm... Sepertinya "kost-ku surgaku" akan tetap melayang di awang-awang.

Menjadi satu keyakinan, bahwa tak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Pun, demikian dengan bertemunya kita pada seseorang atau beberapa orang, tinggal seatap, dan berinteraksi dengan mereka. Saatnya dakwah fardiyah, dan putuskan menjadi "the winner" mewujudkan kost-ku surgaku.

Tak kalah penting dari itu, mereka adalah amanah yang pada masanya kelak, akan dimintai pertanggungjawaban tentang "sumbangsih" kita menjaganya dari hal-hal yang kita tahu itu mendatangkan murkaNya.

Hamasah! Karena dakwah adalah cinta.

KotaSantri.com © 2002-2026