Pelangi » Refleksi | Kamis, 9 Desember 2010 pukul 15:15 WIB

Keputusan Ada di Tanganku

Penulis : Meyla Farid

Sekarang atau tidak akan sama sekali. Brosur-brosur itu, deretan nama itu, dan janji-janji yang kubuat sendiri beberapa bulan yang lalu terhadap diri sendiri. Saat memikirkan langkah pertama yang akan kuambil, rasanya memang berat. Tapi saat kujalani, satu-satu, mulai pagi hingga malam hari ini, ternyata aku sangat menikmati langkah-langkah ini. Proses-proses ini. Meskipun ada satu dua hal yang menghamparkan rintangannya, tapi aku yakin bisa melewatinya.

Satu langkah pertama yang kulakukan, rasanya Allah membuka seribu jalan untuk langkahku selanjutnya.

Pagi ini, saat aku berjalan menyusuri jalan yang sebenarnya hampir setiap hari aku lalui, aku melihat pemandangan yang tidak berbeda dari biasanya. Orang-orang berjalan dengan langkah-langkah kaki yang menunjukkan kalau mereka sedang berlomba dengan waktu.

Para pedagang makanan sejak subuh hari sudah memarkir gerobak mereka di sepanjang pinggir jalan. Ada gerobak nasi kuning, lontong kari, bubur ayam, bandros, surabi, kue-kue basah, sampai gerobak sate dan kupat tahu. Hampir semua gerobak makanan itu dikerubuti orang. Sebelum berangkat tadi, aku pun sempat membeli nasi kuning di salah satu gerobak itu.

Suasana pagi yang hidup ini makin meriah dengan beberapa sepeda yang hilir mudik di sepanjang jalan. Seorang pengguna kendaraan beroda dua dan bebas polusi itu sempat melontarkan salam disertai senyum ramahnya padaku. Aku pun mengangguk kecil dan menjawab salamnya, dan sepeda itu pun kembali meluncur dengan kecepatan sedang melewati orang-orang. Sesekali, dia pun melontarkan senyum, salam, dan sapanya kepada orang-orang yang dilewatinya. Aku tersenyum melihat kebiasaan orang tersebut. Indah dan bagus sekali, menurutku.

Langkah-langkah kakiku terhenti sejenak di ujung jalan kehidupan ini. Aku harus menyeberangi jalan kedua yang penuh dengan lalu lalang kendaraan bermesin yang berlari dengan kecepatan yang tak kenal ampun. Kalau tidak berhati-hati, apapun bisa terjadi. Sebelum menyebrangi jalan yang hiruk pikuk itu, aku sadar satu hal. Tidak ada orang lain yang menemaniku menyebrangi jalan ini. Karena itu aku tidak bisa bergantung pada orang lain. Tidak bisa mempercayakan keputusan atas hidupku sendiri di tangan orang lain. Dengan hati-hati akhirnya aku menyebrang, meninggalkan zona comfort di belakang. Kemudian aku terus melangkahkan kakiku. Dan berakhir di sini, lagi, untuk sekedar mencurahkan segalanya.

KotaSantri.com © 2002-2026