
Pelangi » Refleksi | Ahad, 21 November 2010 pukul 23:30 WIB
Penulis : Muhammad Aris Saifuddin
"Hufttt, kapan sih bisa jadi Artis?"
Kalimat itu yang membuat saya tergelitik ketika membacanya, sebuah status yang ditulis oleh salah satu teman saya di jejaring sosial dunia maya. Mungkin orang lain yang membacanya juga akan berpendapat sama dengan orang pada umumnya, bahwa artis adalah segalanya bagi orang awam. Tetapi bagi saya, kepikiran untuk menjadi artis saja ogah banget.
Saya jadi teringat ketika saya membaca sebuah artikel tentang layangan, artikel tersebut saya temukan ketika sedang browsing di dunia maya sekitar semingggu yang lalu. Artikel tersebut sangat menarik untuk dibaca sebagai sebuah renungan bagi kita, dan itupun sangat bagus menurut saya, tapi tidak tahu menurut orang lain.
Seorang anak berdialog dengan ayahnya siang itu.
"Yah, aku ingin sekali seperti layangan itu, warnanya menarik dan bisa terbang tinggi sehingga bisa melihat-lihat dengan leluasa apa-apa yang di bawahnya," ujar sang anak kepada ayahnya.
Sang ayahpun memandangi anaknya dengan penuh harap.
"Nak, lihatlah layangan itu! Lihatlah sekali lagi, memang layangan itu kelihatan bagus, warnanya yang cerah membuatnya menarik, kemampuannya terbang membuat iri kita. Tetapi, anakku, coba kita renungkan kembali, tidak tahukah kamu bahwa layangan tersebut digerakkan oleh tangan dan benang yang ada di bawahnya? Layangan tersebut sebenarnya malah tidak bisa bebas seperti kita, karena segala tingkah lakunya dikendalikan oleh tangan dan benang, sehingga dia tidak bisa ke mana-mana sesuka hatinya. Coba tengoklah kembali layangan yang di atas itu, mau ke kiri atau ke kanan saja diperintah oleh bawahannya, yaitu "Tangan" dan "Benang"," sang ayah menimpalinya.
Sang anakpun kini mulai agak kebingungan setelah mendengar kata-kata dari ayahnya tadi. Mungkin dalam pikirannya membenarkan juga perkataan ayahnya. Siapa juga yang mau berada di atas tapi segala tindakannya diperintah oleh sang "Tangan" dan "Benang" yang berada di bawahnya.
Jika kita telaah sekali lagi, mungkin cerita renungan di atas ada kemiripan antara layangan dengan artis. Keduanya mempunyai peran yang sama, yaitu berada di atas dan membuat yang di bawahnya iri atas segala keindahan yang mereka miliki tapi keduanya juga dikendalikan oleh "Tangan" dan "Benang" yang ada di bawah mereka, mereka sebenarnya malah tidak bisa bergerak bebas seperti kita.
Artis sebagai pemeran sinetron, mereka harus menuruti apa kata sutradara, bahkan mereka mau untuk menghabiskan waktu mereka sampai berlarut malam di lokasi syuting. Dan banyak juga dari kalangan mereka yang terjerat kasus hukum karena menggunakan narkoba. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi? Dan menurut pengamatan saya pula, mereka terjerat narkoba karena mengalami depresi dengan kegiatan keartisan mereka, bukan saja masalah syuting sampai larut malam, tetapi mereka harus pula menjaga kepribadian mereka di depan publik yang sebenarnya bukan kepribadian yang sebenarnya mereka miliki.
Ahhhh… Susah juga ternyata jadi layangan. Sekarang masih mau juga jadi layangan, kawan?
KotaSantri.com © 2002-2026