Pelangi » Refleksi | Jum'at, 17 September 2010 pukul 16:09 WIB

Setelah Ramadhan Berlalu

Penulis : ruhendi

Mengikuti shalat Idul Fitri tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kali ini aku shalat dekat dari rumah, cukup dengan hanya berjalan kaki kurang dari lima menit. Masjid dekat rumah itu merupakan masjid jami' (besar) di lingkungan tempat tinggalku dan biasa dipakai untuk melaksanakan Shalat Jum'at.

Setelah berkeluarga, ada nuansa berbeda dibanding dengan ketika masih hidup sendiri. Ya, setelah berkeluarga dan mempunyai anak, hari Lebaran tahun ini sungguh mengesankan. Peci, baju koko, dan sarung yang sudah rapih telah disiapkan istriku sejak malam hari. Sebelum berangkat, kupandangi wajah anakku yang baru berumur sebulan lebih dan masih tertidur pulas serta kukecup keningnya.

Suara takbir, tahlil, dan tahmid dari masjid terdengar jelas sampai rumah. Ku segera mempersiapkan diri dan berangkat ke masjid. Cuaca pagi itu cukup sejuk dan tidak terlalu panas bila dibanding hari biasanya. Terasa hati ini begitu tenang, damai ketika mulai keluar dari rumah. Kuikuti suara takbir, tahlil, dan tahmid cukup melapalkannya dengan pelan sambil berjalan menuju masjid.

***

Di depan tangga masjid, keponakanku laki-laki yang sudah kelas 1 SD menyapa dari belakang sambil berlari. ”Om, tunggu. Aku baru bangun, segera mandi dan ini pergi ke masjid,” ujar keponakanku. ”Oo, yuk masuk,” jawabku. Rupanya dia bangun kesiangan dan sudah ditinggal bapaknya yang lebih dulu pergi ke masjid. Hmm, begitu semangatnya anak ini untuk shalat Idul Fitri dengan setelan baju koko, peci, dan celana kotak-kotaknya. Kusarankan padanya jangan nakal dan banyak tingkah ketika shalat Id dimulai.

Tidak lama, pengurus DKM mengumumkan bahwa shalat Id akan segera dimulai, setelah membacakan laporan zakat yang telah berhasil dikumpulkan dari masyarakat di lingkungan tersebut dan menyebutkan khatib dan imam yang akan memimpin shalat Id.

Setelah shalat Id, khatib naik mimbar dan mulai khutbahnya. Di awal khutbahnya, khatib berbicara tentang Ramadhan yang sudah berakhir. Kala matahari tenggelam, langit senja pun berangsur-angsur menjadi gelap. Takbir mulai menggema, tanda adzan telah berkumandang. Semarak masjid diramaikan oleh langkah-langkah riang anak-anak, menyertai jama’ah yang mulai berdatangan. Di dalam masjid, jama’ah khusyuk menghadap Rabb-nya. Mereka bermunajat, bersujud, menghinakan diri pada Penciptanya.

Usai shalat, takbir bersahut-sahutan, terdengar keras dari corong suara di atas masjid. Tak terasa, Syawal telah menyambut kita. Bulan telah berganti, Ramadhan berada pada masa akhirnya. Entah, mungkinkah tahun esok kita masih menjumpainya. Namun, yang patut kita renungi, apa yang telah kita perbuat pada Ramadhan kali ini.

Terasa berdesir hati ini dengan apa yang diungkapkan khatib dan mengingat hari-hari sepanjang bulan Ramadhan begitu banyak cobaan, godaan, dan memerlukan kesabaran menghadapi segala hal.

Khatib berpesan dua hal, setelah Ramadhan berlalu, amalan ruhaniah kita harus tetap dilaksanakan di bulan sesudah Ramadhan dan menekankan pentingnya mengendalikan amarah kita. Pada bulan Ramadhan kita memperbanyak tadarus, sedekah, juga amaliah lainnya. Semoga amaliah-amaliah ini tetap istiqamah dilakukan di bulan-bulan selanjutnya sampai kita berjumpa dengan bulan Ramadhan lagi. Juga emosi kita yang harus tetap bisa dikendalikan.

Inilah pelajaran yang kudapat ketika mendengar khutbah Idul Fitri kali ini. Dengan ungkapan kata-kata yang indah dari khatib, ku benar-benar menyimaknya dengan serius dan menafakurinya.

***

Kebetulan tanggal 1 Syawal kali ini adalah hari Jum'at, sehingga setelah pagi shalat Idul Fitri, siangnya siap-siap melaksanakan shalat Jum'at. Di masjid yang sama, ku mengikuti shalat berjama'ah Jum'at.

Dalam khutbah shalat Jum'at, khatib memaparkan hadits tentang Ramadhan yang sudah berakhir dimana Rasulullah SAW menangis. Walau diucapkan dengan bahasa Jawa Kromo yang halus, kupahami sedikit dan mencoba menebak-nebak arti dari kata-kata bahasa itu. Akhirnya, sesampai di rumah ku menemukan hadits yang menerangkan hal itu.

Kata khatib, akhir Ramadhan ini adalah sesuatu yang sangat menyedihkan dalam imajinasi Nabi Muhammad. Memang, selepas Ramadhan kita segera memasuki hari raya Idul Fitri. Namun Nabi Muhammad tidak melulu menggambarkannya sebagai hari kebahagiaan dan kemenangan, melainkan juga mengingatkan akan musibah yang teramat berat.

Dengan datangnya hari kebahagiaan dan kemenangan itu, berarti kita kehilangan sesuatu yang amat berharga. Bahkan, kata Nabi, kehilangan sesuatu yang amat berharga itu merupakan musibah. Inilah gambaran imajinatif Nabi Muhammad tentang akhir Ramadhan; Di malam terakhir bulan Ramadhan, langit, bumi, dan malaikat pada menangis karena musibah yang menimpa umat Muhammad SAW. “Musibah apa, ya Rasulullah?” tanya sahabat. “Kepergian bulan Ramadhan.”

Nabi Muhammad berkata tentang kepergian bulan Ramadhan, sebagai musibah itu menggambarkan dengan baik betapa berharganya bulan Ramadhan. Bukan saja orang-orang shaleh yang merasa kehilangan dengan kepergian bulan Ramadhan, melainkan juga langit, bumi, dan malaikat. Perasaan kehilangan langit, bumi, dan malaikat atas kepergian bulan Ramadhan tampak sedemikian dalam, sehingga digambarkan bahwa langit, bumi, dan malaikat bukan saja bersedih, melainkan semuanya pada menangis.

Patutlah kita bersedih hati, sebab Ramadhan seakan-akan tak pernah lagi meninggalkan jejak kebaikan dalam diri kita. Ramadhan seolah bulan tanpa makna, tiada yang spesial, sehingga kita tidak memperlakukannya dengan istimewa. Allah telah memberi keistimewaan pada bulan Ramadhan, agar kita bersemangat dalam mengakselerasi derajat ketakwaan kita.

Khatib juga membacakan surat Al-Baqarah ayat 183, ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

”Semoga kita meraih predikat takwa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, atau minimal sudah melekat pada diri dan masyarakat kita sebagian dari karakteristik orang-orang yang bertakwa (muttaqiin),” ujar khatib menutup khutbahnya.

***

Dua khutbah ketika shalat Idul Fitri dan shalat Jum'at itu begitu membekas dalam hatiku. Semoga semua amaliah Ramadhan kita diterima Allah SWT dan setelah Ramadhan berlalu, ada perubahan kualitas perilaku kita ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji. Amin.

KotaSantri.com © 2002-2026