
Pelangi » Refleksi | Jum'at, 10 September 2010 pukul 16:00 WIB
Penulis : Abi Sabila
Repot! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan mudik. Betapa tidak, jutaan orang secara hampir bersamaan mengadakan kegiatan pulang kampung menjelang hari Lebaran. Meski kampung atau kota yang dituju berbeda-beda, tetap saja jalur yang ditempuh itu-itu juga, sehingga kemacetan lalu lintas menjadi hal yang sulit dihindari saat musim mudik tiba. Setiap pemudik, baik menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi, akan dihadapkan pada kemacetan yang melelahkan bahkan terkadang menjengkelkan, terutama hari-hari terakhir menjelang Lebaran.
Ancaman panjang dan lamanya kemacetan, tingginya biaya perjalanan, dan mepetnya waktu libur yang diberikan perusahaan terkadang memaksa sebagian orang menunda kepulangan hingga di luar Lebaran. Ahmad misalnya. Sampai menjelang bulan Ramadhan kemarin ia masih berencana merayakan Lebaran di Tangerang - kota dimana ia mencari penghidupan- sama seperti dua kali Lebaran sebelumnya. Sebenarnya kalau sekedar macet, bagi Ahmad yang sudah terbisa ke mana-mana menggunakan angkutan umum bukanlah hal yang perlu ditakutkan, seperti hidangan sehari-hari. Juga kalau soal libur, yang sudah-sudah perusahaan tempatnya bekerja selalu memberikan waktu yang cukup untuk mudik. Tapi persoalan keuanganlah yang ‘memaksa’ Ahmad merubah jadwal kepulangan, mungkin saat Lebaran Haji atau libur sekolah akhir tahun nanti.
Jauh-jauh hari, rencana ini sudah Ahmad sampaikan kepada anak dan istri, juga ketika ayah dan ibunya berkunjung ke Tangerang dua bulan yang lalu. Mereka bisa memaklumi, dan kembali mengizinkan Ahmad dan keluarganya berlebaran di Tangerang. Apalagi, tidak lama lagi mereka berencana akan ke sini lagi, menghadiri pernikahan salah satu keponakan di Bekasi. Dan sama seperti ibu bapaknya, mertua Ahmad pun ‘manut’ saja dengan pilihan sang menantu.
Tapi telepon sang ibu di hari terakhir bulan Sya’ban kemarin, serta merta merubah keputusan Ahmad. Sang ibu memang merestui ia berlebaran di Tangerang lagi, tapi Ahmad merasa, ada perasaan tertahan di balik suara ibu saat itu. Ahmad adalah anak bungsunya, keempat kakak-kakaknya sudah bisa dipastikan tidak bisa pulang Lebaran tahun ini. Bagaimana mungkin, ibu dan bapak merayakan Lebaran tanpa anak dan cucu-cucunya. Kalaupun ada kakak yang tinggal di kampung jelas berbeda rasanya, karena mereka hampir setiap hari bertemu dan berkumpul. Ahmad bisa merasakan, betapa sedihnya hati ibu jika benar-benar harus berlebaran tanpa kehadiran anak dan cucunya yang di perantauan. Hanya ketabahan seorang ibu yang membuatnya mampu menutupi perasaan sedih yang sebenarnya.
Suara tertahan ibu terus terngiang di telinga Ahmad. Terlebih ketika Ahmad ngobrol dengan teman sekantornya yang asli dari Sulawesi. Dia berencana akan merayakan Lebaran tahun ini di kampung halamannya. Ahmad semakin berfikir, sahabatnya yang lebih jauh dan sudah pasti membutuhkan biaya jauh lebih banyak, berniat pulang kampung demi berkumpul dengan keluarga dan bersilaturrahim dengan kerabat. Ahmad semakin memikirkan ibu dan bapaknya. Dan bada’ Ashar hari terakhir bulan Syaban, Ahmad memutuskan untuk berlebaran di kampung halaman bersama ibu, bapak, dan juga kerabat. Masalah biayanya, wallahu a'lam, Ahmad pasarahkan kepada Allah Yang Mahakaya. Bukankah silaturrahim itu selain memperpanjang umur juga memudahkah rezeki, itulah satu-satunya yang menjadi penyemangatnya.
Menjelang berangkat shalat tarawih hari pertama, Ahmad sampaikan keinginannya untuk berlebaran di kampung kepada istri dan putrinya. Sang anak langsung melonjak kegirangan, kecuali istrinya yang meskipun gembira mendengar rencana ini, tapi dia tidak bisa menyembunyikan keraguannya, terutama mengenai biaya.
“Tenang saja, Insya Allah nanti ada,” Ahmad mencoba meyakinkan sang istri, meskipun Ahmad tahu pasti bahwa sampai saat itu mereka tidak memiliki tabungan sama sekali.
Ketika Ahmad menelpon sang ibu di sahur hari pertama puasa, Ahmad masih belum memberitahu kalau mereka berencana mudik tahun ini. Baru hari kedua, Ahmad menyampaikan kabar gembira ini. Ahmad sengaja memberitahu rencananya pada sang ibu agar ibu bahagia dan juga terutama untuk mendapatkan do'a dan restunya. Bukankah do'a dan restu orangtua akan membuka jalan kemudahan, termasuk masalah keuangan yang saat itu masih menjadi masalah utama bagi Ahmad dan keluarganya.
Dan Alhamdulillah, semenjak Ahmad mengatakan niatnya berlebaran di kampung, Ahmad selalu mendapati suara ceria ibu di telpon saat sahur setiap hari. Dan restu dari ibu juga sang bapak dirasakan Ahmad benar-benar telah membuka jalan kemudahan baginya.
Kemudahan pertama adalah keluarnya pengumuman perusahaan yang memberikan libur lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kalau biasanya libur hanya satu minggu, tahun ini perusahaan meliburkan seluruh karyawannya selama dua minggu, satu minggu sebelum dan satu minggu sesudah Lebaran.
Kemudian dari segi keuangan, Alhamdulillah beberapa kali Ahmad merasakan ‘keajaiban’. Mulai dari datangnya rejeki dari seseorang yang tak pernah diduga sebelumnya, sampai kerja lembur yang sejak awal tahun menghilang, tiba-tiba datang. Juga soal biaya perjalanan mudik, libur perusahaan yang lebih awal dan terhitung masih jauh dari hari H, jelas menguntungkan karena harga tiket bus masih menggunakan tarif biasa. Untuk keperluan balik, Ahmad sudah meminta sang kakak yang tinggal di kampung untuk memesankan tiket bus jauh-jauh hari di awal puasa. Alhamdulillah tiket untuk balik ke Tangerang kini sudah di tangan dengan harga yang sesuai dengan kondisi kantong Ahmad.
Alhamdulillah, segala kemudahan dan terbukanya pintu rizki itu benar-benar Ahmad rasakan semenjak ia putuskan untuk pulang kampung, merayakan Lebaran dan bersilaturrahim dengan keluarga. Ahmad semakin yakin, bahwa silaturrahim bisa memanjangkan umur dan memudahkan rezeki. Repotnya mudik, tidak akan berarti apa-apa, semua akan lenyap tergantikan dengan indahnya silaturrahim.
“Semoga Allah memudahkan setiap perkara, dan melancarkan setiap urusan, amin. Ibu, Bapak, kami akan pulang untukmu, menikmati indahnya silaturrahim bersamamu,“ ucap Ahmad sebelum mengakhiri do'a-do'anya.
KotaSantri.com © 2002-2026