Pelangi » Refleksi | Sabtu, 4 September 2010 pukul 15:00 WIB

Indonesiaku Sayang

Penulis : Meyla Farid

Pukul sembilan malam ini, tayangan sebuah sinetron (sinetron lagi!) terhenti sejenak oleh sebuah tayangan langsung. Bapak Presiden kita yang terhormat, Pak SBY, sedang berpidato yang disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi di tanah air kita, Indonesia, dimana dalam pidatonya secara tersurat membahas tentang konflik yang terjadi antara Indonesia dengan negara tetangganya, Malaysia. Lebih spesifiknya lagi, Bapak Presiden membahas tentang insiden di batas perairan wilayah negara kita.

Namun saya harus jujur bahwa pidato yang disampaikan oleh Bapak Presiden tidak membuat saya 'faham'. Mungkin karena konsentrasi saya yang sedang menurun atau karena memang saya tidak faham. Maafkan saya, Pak Presiden, karena hanya mampu menangkap 'kesan' yang memperihatinkan setelah mendengar pidato tersebut, entah mengapa. Mungkin karena saya tidak faham tersebut.

Berhubung saya tidak memahami pidato itu, maka tidak nyambung kan kalau saya membahas isi pidatonya. Baiklah, kita coba hubungkan sedikit demi sedikit penyebab dan semua alasan mengapa Bapak Presiden kita sampai berpidato malam ini (yang memotong tayangan sinetron).

Negara tetangga kita, Malaysia, yang menurut pelajaran sejarah yang saya pelajari ketika masih SD, adalah serumpun dengan kita. Bisa dikatakan, Indonesia tempat kita dilahirkan adalah bersaudara dengan Malaysia. Di pelajaran-pelajaran sejarah maupun geografi, kita selalu diajarkan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah bersaudara dalam segala hal. Karena itu, ketika ada penyanyi yang berasal dari Malaysia mengeluarkan hits-nya di Indonesia, saya ikut senang dan ikut nge-fans, tidak membeda-bedakan bahwa ia bukan seorang seleb dari negeri sendiri, saya merasa penyanyi-penyanyi itu juga dari negeri sendiri. Atau dari 'saudara' negeri sendiri. Sebutlah penyanyi Ami S, Ella, Siti Nurhaliza. Saya merasa mereka tidak ada bedanya dengan penyanyi yang berasal dari negeri sendiri. Kesan yang saya rasakan tentang penyanyi-penyanyi ini sebagai perwakilan dari hasil jerih payah para guru di sekolah jaman saya dahulu yang mengajarkan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah bersaudara dan serumpun. Saya mencintai negara itu sebagai saudara negara sendiri.

Tahun-tahun terakhir ini saya sering di'kecewa'kan oleh perasaan saya sendiri tentang saudara negeri saya ini. Tentu saja tidak kepada semua penduduk saudara negeri kita itu, namun kepada pemerintahannya (mungkin) dan kebijakan-kebijakan mereka yang, sebagai seorang penduduk Indonesia, rasanya sangat tidak adil dan sangat melecehkan Indonesia. Misalnya saja, pengakuan sepihak dari saudara negeri kita tersebut terhadap beberapa kebudayaan asli Indonesia, yang mereka akui sebagai budaya asli mereka. Insiden terbaru, tentang klaim batas wilayah perairan yang menjadi topik utama dalam pidato Bapak Presiden SBY malam ini.

Mungkin tidak seratus persen negara tetangga itu patut disalahkan. Merupakan kelalaian bangsa Indonesia sendiri, yang menyadari bahwa negeri ini sebagain besar terdiri atas perairan (laut dan samudera), namun baru di saat pemerintahan Gus Dur, Menteri Kelautan didirikan. Juga kelalaian bangsa kita sendiri yang terlalu santai dalam menjaga tanah air sendiri.

Setelah negara lain mengklaim budaya yang berasal dari negeri ini, barulah negeri ini tersadar bahwa kita memiliki budaya yang diklaim orang lain tersebut. Setelah negara lain mengklaim kekayaan-kekayaan yang dipendam negeri ini, barulah negeri ini menyadari memilikinya dan menggeliat memprotes. Jadi sekarang mungkin sebagian besar dari kita terbengong-bengong dan 'takjub' dengan kegigihan bangsa lain dalam memperjuangkan yang mereka yakini milik mereka. Lalu bangsa kita? Aduh, sudah dibilang kita baru sadar bahwa kita memiliki kekayaan-kekayaan itu tatkala mereka (akan) mengklaim! Jadi seolah sedang tidur nyenyak dan terbangun dengan tiba-tiba. Kita kaget sekali, ternyata negara kita memiliki banyak sekali kekayaan yang membuat iri negara lain.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada masalah-masalah 'konyol' dalam negeri kita sendiri, seperti kasus video porno artis, korupsi, pengadilan yang mengambang, dan sejenisnya. Sampai kita lupa pada kekayaan-kekayaan yang dimiliki negeri ini. Tidak heran jika suatu waktu ada orang asing yang mengklaim bahwa tanah ini milik ia, air ini milik ia, dan sebagainya, karena kita selama ini memang tidak pernah mengacuhkannya.

Oh, Indonesiaku Sayang.

KotaSantri.com © 2002-2026