Pelangi » Refleksi | Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 15:00 WIB

Diakhiri dengan Tabbaruj

Penulis : Rifatul Farida

Senang sekali rasanya mendapat kabar dari seorang sahabat akan segera menyempurnakan separuh Dien ini. Ucapan selamat dan do'a pun dipastikan turut serta mengiringi hari indah dan bahagia itu. Namun, haruskah kemudian berubah bentuk begitu, meski hanya sehari saja?

Al-Ukh yang biasanya, dalam hari-hari luar biasanya tampil begitu apa adanya, polos, dan seindah warna aslinya. Hanya dalam selang waktu semalam tampil begitu berbeda, bahkan kontras. Lalu, sebenarnya pemaknaan apa yang ingin disuguhkan di hari yang diberkahi itu?

"Hanya sehari, dan sekali seumur hidup mungkin," kata seorang sahabat lain menanggapi tanpa ingin mempersoalkan lebih lanjut.

"Hanya"? Saya mengerutkan dahi. Jelas-jelas bertabbaruj ria begitu dibilang 'hanya' dan semuanya seolah menjadi baik-baik saja? Ah, sepertinya tidak begitu halnya dengan saya.

Entah apakah saya yang terlalu mempersoalkan atau mereka yang tak mau ambil pusing. Yang jelas, dan yang saya fahami, seorang muslimah dilarang bertabbaruj kecuali di depan yang sudah menjadi haknya. Tak pernah ada toleransi waktu apakah itu semenit atau sehari, pun tak ada toleransi momen entah itu nikahan, wisudaan, atau hajatan-hajatan lainnya.

Rasanya terlalu sayang, kalo 'izzah' keakhwatannya berakhir di momen berkah itu, yang seharusnya tetap Allah yang menjadi perhatian utama, bukan manusia dan yang lainnya. Dan haruskah memang begitu? Masa 'keakhwatan' diakhiri dengan tabbaruj. Kalau toh alasannya biar kelihatan tidak pucat, perlukah setebal itu? Bukankah sekedarnya saja sudah cukup?

Ayolah, ukhti... Allah telah meninggikan kedudukan kita dengan penjagaan terbaik lewat syari'atNya. Maka, tak selayaknya kita merendahkan apa yang sudah Ia tinggikan.

KotaSantri.com © 2002-2026