Pelangi » Refleksi | Kamis, 8 Juli 2010 pukul 16:15 WIB

Tujuh Ribu Rupiah

Penulis : Meyla Farid

Tujuh ribu rupiah. Ini adalah sejumlah uang yang pernah diberikan seorang ibu baik hati yang bertemu di sebuah stasiun kereta api pada tahun 2000 silam. Kisahnya tidak dapat saya lupakan, berhubung pengalaman itu termasuk salah satu pengalaman yang membekas dalam ingatan. Juga, mungkin, sebagai catatan amal sang ibu tersebut lewat saya.

Cerita bermula di penghujung hari Jum'at di tahun 2000.

Jadwal kuliah semester pertama di kampus itu adalah hari Senin sampai Jum'at. Terakhir, jadwal mata kuliah jam satu siang. Maka jam 3 sore hari Jum’at itu saya sudah terbebas dari kewajiban belajar hingga dua hari ke depan.

Sejak sehari sebelumnya, yaitu hari Kamis, saya sudah janjian dengan kakak laki-laki saya yang bekerja di bagian lain kota Bandung untuk pulang kampung sama-sama. Waktu itu kakak saya sudah memegang telepon seluler (hape). Sedangkan saya masih belum memilikinya. Maka janji akan bertemu pun kami 'sahkan' melalui jalur telepon di wartel umum, dimana saya yang menelepon ke hape kakak.

Pulang kuliah, selepas Ashar, saya bergegas berangkat menuju tempat kos kakak. Kami memang janjian akan bertemu di kosan kakak, kemudian berangkat sama-sama ke stasiun, lalu naik kereta jurusan kampung halaman kami.

Saya turun di pinggir jalan menuju kos-kosan kakak. Menyebrang, menyusuri gang sebentar, lalu tibalah di rumah tempat kos kakak. Tapi malang, rupanya kakak sudah berangkat duluan ke stasiun karena urusan pekerjaan, kakak memang bekerja di jawatan PJKA. Dengan panik, saya mencari wartel terdekat dan menelepon ke hape kakak. Cukup lama tersambungnya ketika itu, kalaupun tersambung hanya nada sambung yang saya dengar. Setelah saya telepon ketiga kalinya, barulah kakak mengangkatnya.

"Kak di mana, kok nggak ada di kosan?" Saya langsung menyemburkan pertanyaan. Maklum, saat itu saya juga sedang panik melirik biling wartel yang melaju cepat, sedangkan uang di tas saya tinggal sedikit lagi, pas-pasan untuk ongkos pulang.

"Ke stasiun aja, kakak tunggu ya. Naik kereta yang jam 5, nanti kakak juga naik kereta itu, nanti ketemu di dalam kereta saja. Sekarang kakak lagi di stasiun lain nih, nggak bisa ke sana sekarang."

"Iya, ya sudah."

Saya langsung menutup telepon ketika melihat biaya yang tertera di biling wartel. Tepat sekali dengan jumlah uang yang saya punya ketika itu, hanya menyisakan seribu rupiah saja.

Dengan galau saya membayar biaya wartel. Lalu menyetop angkutan umum jurusan stasiun. Saya ketika itu terus berdo'a, supaya bertemu kakak tepat pada waktunya. Bagaimana tidak, uang saya benar-benar tinggal seribu rupiah dan pas untuk ongkos angkutan umum yang saya naiki menuju stasiun saat itu.

Turun dari angkutan, saya tidak memegang uang sepeser pun. Saya langsung memasuki stasiun, mencari jalur kereta api jurusan kampung halaman saya dan kakak. Untungnya, sebelumnya kakak sempat memberitahu harus naik kereta apa.

Waktu melewati gerbang pemeriksaan karcis, saya sempat ditegur karena tidak memegang karcis. Dengan terpaksa saya berbohong kalau saya tidak akan naik kereta dan hanya menunggu kedatangan kerabat saja.

Saya duduk di kursi tunggu penumpang kereta kelas ekonomi. Saat itu perasaan saya benar-benar pasrah. Laa haulaa. Tidak memegang uang seratus rupiah pun. Bahkan belum bertemu kakak. Dan entah apa saya nantinya tidak akan salah naik kereta. Lalu, tiba-tiba seorang ibu berusia 50 tahunan menyapa. "Mau ke mana, Neng?" Saya menjawab seadanya. Ibu-ibu itu nampak bersahaja, dengan berpakaian kebaya yang biasa dan raut wajah yang sepertinya saya kenal, mungkin seorang petani atau semacamnya. Sederhana sekali. Saya jadi 'berani' mengobrol dengan beliau. Dan tiba-tiba saya pun bercerita tentang keadaan yang serba membingungkan itu.

Ibu itu ternyata bersimpati. Dia bertanya dengan penuh perhatian, "Memangnya berapa, Neng, ongkos kereta yang akan Neng naiki?" Saya menyebutkan seadanya. Tiba-tiba ibu tersebut merogoh tasnya dan menyodorkan uang seharga tiket kereta yang harus saya naiki. "Apa ini, Bu?" Saya sedikit terkejut dan malu. Terkejut, tidak menyangka 'curhatan' saya dibalas dengan hal seperti itu. Malu, karena saya tidak bermaksud meminta-minta. Saya waktu itu masih punya keyakinan akan bertemu dengan kakak di sana, dan saya percaya kakak yang akan menggantikan biaya kereta saya.

"Tidak apa-apa, ambil saja. Ibu juga punya anak perempuan seperti Neng, Ibu tidak ingin anak Ibu juga kebingungan seperti Neng. Ambil ya, cuma buat ongkos kereta saja Ibu punyanya." Saya yakin, ibu itu bukan orang kaya. Dari penampilannya saja saya sudah bisa menebaknya. Dan sejumlah uang seharga tiket kereta waktu itu, tahun 2000, sangatlah berharga buat saya dan juga ibu tersebut. Malu, tapi karena tidak ada pilihan lain lagi, saya terima juga pemberian ibu itu. Saat itu, pemikiran saya juga sangat sederhana. Menerima keadaan dan tawakkal, percaya Allah selalu ada untuk kita, dan bersyukur saat ternyata ada orang sebaik itu yang mau menolong.

Saya yang masih 'belia' waktu itu hanya mengucapkan terima kasih sekedarnya. Ibu itu nampak lega. Saya lupa, bagaimana rupa ibu tersebut. Yang saya ingat, wajahnya tidak jauh berbeda seperti wajah para ibu lainnya. Yang suka bekerja keras, sederhana, berdandan alakadarnya, pakaian pun apa adanya.

Ketika kereta yang saya tunggu tiba, saya langsung pamitan dan naik ke dalam gerbongnya setelah membeli karcis seharga tujuh ribu rupiah.

Masih was-was karena belum bertemu kakak, saya duduk nyaman di kursi kereta kelas ekonomi. Lalu muncullah kakak saya, berjalan dengan tergesa. Dan ketika melihat saya, dia nampak lega.

Saya menceritakan kisah saya pada kakak. Kisah kehabisan uang gara-gara harus telepon dia, juga kisah ketika saya Alhamdulillah bertemu dengan seorang ibu yang baik hati dan tanpa diduga membayarkan karcis kereta saya. Kakak pun berkata, "Sudah berterima kasih kan?" Begitu. Kakak memang tidak suka terlalu banyak berkata, tapi sekali bicara langsung mengena ke tujuannya.

Beberapa waktu setelah peristiwa itu, saya masih selalu teringat dengan kebaikan sang ibu misterius yang bertemu di stasiun kereta api itu. Saya bahkan tidak tahu namanya, tidak tahu dari mana asalnya. Yang saya tahu, beliau sedang menunggu kereta api jurusan ke Timur. Mungkin orang Jawa, entahlah. Setelah beberapa waktu berlalu, saya semakin sadar dan berterima kasih kepadanya. Andai, saat itu saya tidak bisa naik kereta karena tidak membeli karcis, mungkin tidak akan bertemu dengan kakak saya dan sendirianlah saya menunggunya di stasiun, sedangkan kakak dengan paniknya akan mencari-cari saya di gerbong demi gerbong dalam kereta.

Kebaikan yang 'hanya' tujuh ribu rupiah menurut besar nominalnya, tapi tak terhingga manfaatnya.

Ternyata masih ada orang yang berhati mulia, bahkan di kota besar seperti ini. Sampai kapan pun, saya akan menuliskan kebaikan sang ibu misterius itu dan akan saya jadikan teladan. Do'a saya pun insya Allah takkan terputus untuknya sepanjang hidup saya.

Ada juga yang menjadi pelajaran berharga buat saya saat ini, yaitu terjalinnya sebuah peribahasa “Tak Kenal Maka Tak Sayang” antara saya dan ibu tersebut, tidak masalah seberapa lama atau seberapa sebentar kami saling mengenal melalui percakapan kami di kala itu. Nyatanya, kasih sayang dapat muncul asal kita mengenalnya meski lewat perkenalan satu menit sekalipun.

Terima kasih untukmu, Ibu yang misterius.

KotaSantri.com © 2002-2026