
Pelangi » Refleksi | Senin, 28 Juni 2010 pukul 16:55 WIB
Penulis : Meyla Farid
Mengagumi seorang tokoh boleh-boleh saja. Apa itu karena akhlaknya, profesinya, atau popularitasnya yang mampu memberi pengaruh positif maupun negatif kepada khalayak. Bahkan memfigurkan Rasulullah, adalah keutamaan sebagai seorang muslim. Fanatik ingin meneladaninya, adalah hal yang positif. Dengan pengetahuan dan ilmu yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Tapi jika kekaguman kepada manusia sudah menjadikan kita buta, sehingga tidak dapat memilah-milah mana yang benar dan mana yang salah, juga tidak didasarkan atas agama, yang ada berarah ke taklid buta.
Beberapa tahun yang lalu, seorang ulama muda yang berasal dari kota Bandung pernah menggegerkan Indonesia bahkan dunia dengan pilihannya berpoligami. Ketika itu terjadi, saya sendiri bertempat tinggal tidak jauh dari rumahnya. Menyaksikan sendiri perubahan drastis yang terjadi pada pesantrennya, apalagi pada semua bidang usahanya. Melihat bagaimana orang-orang, mulai dari ibu-ibu bahkan bapak-bapak banyak yang memandang dan berbicara sinis kepadanya. Bahkan, atas dasar tidak setuju dengan pilihannya yang menikah lagi itu, para jama'ah pengajian yang biasanya rutin di setiap pengajian umum yang diadakan di mesjid itu menjadi berkurang. Entah, apakah memang mereka sangat kecewa karena tokoh yang selama itu dikagumi berbuat di luar perkiraan mereka. Atau merasa dikhianati karena sang ulama muda yang memiliki paras 'ganteng' ini diam-diam menikah lagi di 'belakang' mereka, para jama'ah yang selama itu setia dan memfiguritaskannya.
Di balik perubahan drastis yang terjadi sebagai konsekuensi sosial yang diterima oleh sang ulama ini, ternyata masih banyak juga yang masih bisa berlaku rasional. Setiap pengajian di malam Jum'at misalnya, memang jama'ah berkurang drastis, tapi tidak hilang sama sekali. Masih banyak jama'ah yang ingin menimba ilmu di sana. Toh, sebenarnya, yang megisi pengajian di mesjid tersebut sejak dahulu tidak hanya sang ulama dimaksud saja. Masih banyak ulama dan ustadz lainnya yang sering mengisi ceramah. Jadi, menghindari dan 'memboikot' sebuah mesjid hanya karena mesjid tersebut identik dengan 'merk' nama seorang ulama, rasanya tidak masuk akal sama sekali. Kecuali, para jama'ah selama ini lebih memfigurkan sang ulama daripada ilmu yang mereka cari. Namun begitulah kenyataannya, masyarakat, jika sudah dikecewakan oleh tokoh yang diteladaninya, akan serta merta berbalik arah.
Sekarang yang tengah menghadapi 'dilema' figuritas ini adalah anak muda atau para fans seorang selebritis/vokalis band di negeri kita. Tidak, saya tidak ingin menyebut namanya dan tidak berniat membicarakannya. Biarlah Allah yang Maha Mengetahui yang mengatur jalan terbaik untuknya.
Yang saya bicarakan dalam tulisan ini adalah tentang figuritas yang dialami oleh para fansnya. Ternyata banyak juga yang mendukung tokoh tersebut agar tidak dikenakan hukuman. Bahkan, teman dekatnya pun dengan semangat mengajak para fansnya untuk 'bergerak' menyelamatkan sang artis. Apakah salah? Saya tidak berhak menilainya.
Dalam dua contoh figuritas di atas, yaitu figuritas tehadap seorang ulama muda yang menikah lagi, dan figuritas terhadap seorang anak muda yang belum menikah tapi telah berbuat yang tidak-tidak, mungkin ada persamaannya (di balik perbedaannya yang sangat besar). Para 'fans'nya berteriak memberontak. Ada yang kecewa, yang mungkin secara drastis kemudian ingin memboikot apa-apa yang berkenaan dengan sang idola. Tapi ternyata dalam kasus kedua, banyak yang kemudian bersuara membela.
Jadi ingat di saat kasus pertama marak terjadi. Cacian di sana-sini saya dengar, meskipun tidak ingin saya dengar. Bahkan seorang wanita yang sebelumnya dengan tanpa merasa bersalah mengoleksi foto-foto sang ulama muda nan ganteng tersebut, ketika sang ulama menikah lagi, ia langsung berbalik anti. Figuritas. Apa, bisa disebut dengan lebay juga ya. Untungnya sejak pertama kali sang ulama ini populer, saya tidak terlalu 'tergila-gila'. Membeli foto-fotonya, atau mengkoleksi hal-hal yang berkenaan dengannya. Tidak. Toh, untuk apa. Loh, seorang wanita menyimpan foto seorang laki-laki, bukankah itu sudah di luar kewajaran? Lagipula, jika saya ditanya mengapa tidak pernah mengoleksi foto-foto publik figur (baik ulama atau artis), jawabannya sederhana saja. Dia/mereka bukan laki-laki yang harus saya simpan gambarnya dalam hidup saya. Tapi setiap orang memiliki maksud dan tujuannya sendiri. Jadi sah-sah saja yang hobi mengoleksi foto/gambar lawan jenis mungkin.
Lalu, mau dibawa ke mana figuritas terhadap selebritis kita itu? Mudah-mudahan kita bisa memandang suatu persoalan dengan netral, tidak dibutakan oleh rasa suka. Bagaimana pun, jika seorang manusia melakukan kesalahan, seharusnya kita mendukungnya jika ia ingin menebus kesalahannya tersebut. Adapun ke depannya, rizki dan kehidupan itu mutlak di genggaman Allah SWT. Seperti contoh tokoh ulama di atas, setelah hampir semua sendi usaha miliknya bangkrut dan menyisakan banyak hutang, toh ia masih bisa berusaha dan tetap berkiprah sebagai ulama yang tidak keluar dari jalur-jalur agama.
KotaSantri.com © 2002-2026