
Pelangi » Refleksi | Selasa, 18 Mei 2010 pukul 15:45 WIB
Penulis : Ajeng Miftahul Jannah
Beberapa tahun yang lalu, seorang sahabat pernah menggantungkan harapan terhadap saya, yang bagi saya waktu itu, sangat tinggi. Niat beliau baik, ingin agar adiknya jadi mujahidah tangguh di lingkungan yang sama sekali belum bisa menerima perubahan saya waktu itu. Saya mengeluh, merasa ekspektasinya terhadapa saya sebagai beban yang berat, apalagi saya sendirian. Kemudian beliau minta maaf, dan mengatakan, jadikan saja ekspektasi itu sebagai motivasi buat saya untuk terus memperbaiki diri.
Dari situlah saya tumbuh.
Orang-orang mulai menganggap saya orang yang kuat, selalu bersemangat, seakan tak ada beban. Mereka tidak tahu, bagaimana saya selalu mengeluh di setiap risalah yang saya kirimkan pada sahabat saya tadi, akan ketidakmampuan saya untuk berjuang. Bagaimana saya menangis ketika menghadapi perbedaan-perbedaan dengan lingkungan saya.
Beberapa kali saya menjadi mentor/fasilitator sanlat remaja dan mahasiswa. Ada simulasi pohon ekspektasi. Salah satu tugasnya adalah memotivasi peserta untuk berusaha memperbaiki lebih baik lagi sesuai ekspektasi yang mereka buat selepas sanlat.
Tak jarang saya meringis. Bagaimana mungkin, saya memotivasi mereka untuk berusaha memperbaiki diri, sementara saya sendiri tidak istiqamah? Bukankah itu termasuk kabura maktan ‘indallah, man laa taf’uluu maa laa taf’aluun? Saya bergidik membayangkan adzab Allah. Na’udzubillahi min dzaalik.
Kemudian saya berapologi, bahwa apa yang saya lakukan, hanyalah upaya untuk berfastabiqul khairaat. Benarkah? Wallahu a'lam. Semoga bukan cara saya untuk membela diri.
Dulu, saya sering kali suudzan pada orang-orang di sekeliling saya. Kok mau sih mereka berteman dengan saya? Padahal saya bukan siapa-siapa. Saya sering tidak pede dengan diri saya. Saya tidak secantik dan segaul teman-teman saya di Paskibra, saya juga tidak sepintar teman-teman saya yang duduk di kelas IPA. Saya tidak sealim teman-teman saya di rohis, saya bukan orang yang berprestasi, saya bukan top leader di organisasi, lalu kenapa?
Di bangku kuliah saya mulai mencari dengan mengikuti berbagai organisasi, baik formal di kampus, ataupun di luar kampus. Tapi justru karena itu, orang-orang malah jadi lebih menilai saya. Ugh… Karena ekspektasi mereka itu saya pernah memilih untuk jadi seperti yang mereka bayangkan, bukan jadi diri sendiri. Dan hasilnya?
Lelah… Saya kadang tidak tahu, apakah yang sudah saya lakukan itu benar? Kadang saya ingin lari, tapi, bahkan malam pun sudah tidak menyediakan gelapnya untuk sekedar sembunyi.
Saat milad beberapa tahun yang lalu, seorang teman menyarankan, untuk menulis ulang kekurangan apa saja yang saya rasakan terhadap diri saya, kemudian membingkainya, agar saya senantiasa termotivasi untuk memperbaiki diri. Tapi saya terlalu pengecut untuk hal itu. Saya terlalu takut untuk melihat, bahwa saya masih jauh dari apa yang orang bayangkan.
Sampai pada suatu hari, seorang sahabat mengingatkan saya untuk belajar. Belajar untuk menerima dan menyukai diri saya apa adanya, belajar untuk menerima kondisi keluarga dan lingkungan saya apa adanya, belajar untuk membuka diri (atas kekurangan dan kelebihan kita) dan jujur terhadap diri sendiri, belajar untuk merasakan bahwa saya tidak sedang menipu Allah, hingga akhirnya, kita akan sampai pada titik pasrah, sehingga kita mampu melihat sisi-sisi positif dari kehidupan kita, yang mungkin tidak kita lihat saat kita belum bisa menerima diri apa adanya. Dan ekspektasi kita terhadap orang lain pun tidak melulu karena perhitungan duniawi.
Sepertinya mudah. Entahlah…
Seperti yang pernah seseorang katakan dulu, di balik perjuangan yang sulit, akan ada hikmah yang luar biasa indahnya, asalkan kita mau bersabar. Saya menyadari, selama ini lebih banyak bergantung pada makhluk, daripada pada Sang Khaliq. Padahal, berharap pada makhluk/manusia, harus siap kecewa, bukan?
Entahlah…
Sekarang saya hanya berusaha, untuk ikhlas dalam setiap aktivitas, ikhlas menerima diri apa adanya, ikhlas menerima orang lain apa adanya, sehingga suatu saat, orang pun bisa menerima saya apa adanya.
KotaSantri.com © 2002-2026