
Pelangi » Refleksi | Ahad, 16 Mei 2010 pukul 15:00 WIB
Penulis : Meyla Farid
Semua orang bebas berpendapat dan menuangkan pendapatnya, baik berupa lisan maupun tulisan. Apalagi, negara Indonesia 'katanya' negara Demokrasi.
Dua bulan yang lalu, saya sempat menonton sebuah film made in Amerika. Judulnya "Hurt Locker". Film ini berkisah tentang 'perjuangan' seorang tentara yang bertugas di Irak dalam membasmi dan menjinakkan ranjau-ranjau yang ditanam di tanah Irak. Ranjau-ranjau tersebut ditanam oleh rakyat Irak, tentu saja, untuk menahan pasukan Amerika. Menurut film tersebut, yang menanam ranjau itu berada di pihak yang salah. Menurut film buatan Amerika ini, sang penjinak ranjau adalah pahlawan, dan yang menanam ranjau, yaitu penduduk asli Irak yang melindungi diri dari pasukan Amerika, adalah penjahat.
Menurut guru saya semasa sekolah, sebutan pahlawan memang subjektif. Tergantung siapa yang melihat. Misalnya, orang Belanda yang bertugas di Indonesia jaman penjajahan Belanda dahulu, bagi negara Belanda adalah pahlawan mereka. Bahkan pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, bagi mereka adalah teroris (kalau sebutan sekarang) alias penjahatnya. Tapi bagi rakyat Indonesia sendiri, tentu saja, kebalikannya. Demikian pula tentang film yang berjudul "Hurt Locker" ini.
Baiklah. Setiap orang berhak mengemukakan pendapatnya dari sudut pandangnya masing-masing.
Sekarang, kita juga dapat meng-Google berita-berita di Palestina sana. Rakyat Palestina yang 'sederhana' dalam melawan pasukan Israel, sampai sekarang masih terus berjuang membela tanah air dan agama mereka. Pasukan Israel, yang dilengkapi dengan tank-tank canggih, bom-bom canggih, dan helikopter-helikopter tempur yang tercanggih, nyatanya sering kewalahan menghadapi para mujahidin. Mereka ketakutan dengan keberanian para mujahidin. Tank-tank mereka yang besar dan teramat canggih itu pun ketakutan dengan ranjau-ranjau yang ditanam. Ranjau-ranjau yang ditanam sebagai pembelaan diri.
Saya ingin sekali mencurahkan perasaan yang berkecamuk mengenai Palestina ini. Perasaan sedih karena sebagai sesama muslim hanya mampu mendo'akan saudara-saudara kita di Palestina, padahal selemah-lemah iman adalah do'a dalam hal ini, marah karena kebiadaban Israel yang ternyata mempunyai program menghapus masa depan Palestina dengan membunuhi wanita dan anak-anak, serta kecewa dengan para pemimpin negara kita yang sibuk sendiri dengan urusan keduniawiannya.
Setidaknya, telah saya tuliskan sedikit dari isi hati yang bergelora ini. Semoga Allah menunjukkan kebenaranNya di bumi Palestina. Aamiin ya Rab al'aalamiin.
KotaSantri.com © 2002-2026