
Pelangi » Refleksi | Jum'at, 7 Mei 2010 pukul 16:25 WIB
Penulis : Ida Ernawati
Siang yang panas menyengat seluruh tubuhku ketika aku ke luar dari mobil. Kami (muslimah) berlima akan berenang, olahraga yang sama sekali tidak aku kuasai sepanjang hidupku. Kalau untuk tenis meja, bulu tangkis, bola voli aku tidak pernah mengalami kesulitan.
Tetapi berenang? Amboi... Belum pernah terpikir aku bisa menguasai olahraga itu. Pertama, mungkin karena aku tidak mau membuka aurat di depan umum; Yang kedua, badanku tidak tinggi, sehingga kalau berenang aku harus mengambil area anak-anak yang cukup dangkal.
Tetapi kemarin, ketika mbak Dwi menawari aku untuk ikut kursus berenang bersama muslimah lain, aku tiba-tiba bersemangat untuk ikut. Katanya sudah ada lima orang yang mendaftar. Kami akan manfaatkan waktu ketika bapak-bapak melakukan shalat Jum’at. Lagi pula muslimah yang ada di kantorku rata-rata sudah berkeluarga. Jadi hanya hari Jum’at lah mereka bisa melakukan olahraga itu.
Tidak terasa waktu berenang sudah mau habis, maka orang yang pertama kali meninggalkan kolam untuk berganti pakaian adalah aku. Teman lain yang pandai tentu masih malas-malasan untuk naik. Itulah uniknya, setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda. Kalau aku disuruh berbicara di depan umum tidak menjadi masalah, tetapi menghadapi air? Takut sekali.
Sampai kantor, suasana masih sepi. Aku bergegas menuju ruanganku melihat jika ada tugas-tugas mendadak. Ternyata tidak ada. Aku mulai sibuk dengan komputerku lagi. Melihat website kantor apa ada informasi yang baru atau perlu memasukkan artikel baru. Aku cek ke korlakku LPP dan tugas-tugas rutin lainnya. Tidak ada masalah.
Tiba-tiba badanku meriang. Aku mulai merasa lelah sekali. Hal ini sempat kuutarakan pada teman yang kebetulan sedang ada di ruanganku. Kata dia, nanti akan terasa pegal sekali. Apalagi untuk orang yang jarang melakukan olahraga seperti aku. Badanku yang lemas kupaksakan untuk bertahan. Masih jam 15.00, jam pulang kantor jam 17.00.
Aku paling malas pulang lebih cepat, karena potongan tunjangannya sekitar 1,25%. Jadi aku tetap bertahan saja. Badanku mulai lemas, toh aku bisa duduk sambil beristirahat. Tetapi aku merasa kecapaian. Tuhan tolong aku, aku tidak mau merepotkan orang lain. Kalau aku tetap bertahan sampai jam lima, bisa jadi aku tidak bisa pulang sendiri. Ini akan merepotkan orang.
Aku pertimbangkan terus ini, bagaimana ya. Pulang? Tidak. Pulang? Tidak. Akhirnya aku tidak kuat lagi untuk bertahan. Aku pamit pada sesama kasi, aku benar-benar tidak enak badan. Nanti bisa digosok balsem, pikirku. Jam empat lebih lima menit aku pulang ke rumah agar aku bila langsung beristirahat. Akhirnya hari Sabtu pagi aku sudah membaik. Alhamdulillah...
Senin pagi aku sampai kantor lagi. Aku yang pertama datang. Kulihat absen sore masih tergeletak di meja. Aku hanya tanda tangan di absen pagi ini, untuk yang Jum’at sore sama sekali tidak kusentuh. Aku ingin menjadi diriku sendiri yang takut hanya kepada Allah. Aku tahu, mungkin pimpinanku tidak melihat, tetapi Allah Yang Maha Melihat pasti melihatku.
Ya Allah, jadikanlah hamba orang yang tidak pernah mendustai diri.
Jadikanlah hamba orang yang takut hanya kepadaMu.
Mungkin masalah absen ini hanya masalah kecil, tetapi di akherat nanti, kebohongan ini pasti akan dipertanyakan. Bukankah perbuatan sebiji sawi pun pasti akan mendapatkan balasanNya? Allah tidak akan pernah tidur dalam melihat gerak-gerik hambaNya. Aku pernah teringat cerita dari seorang ustadz yang sangat membuatku merinding.
Seorang ustadz yang cukup terkenal melaksanakan ibadah haji. Pada saat senggangnya, dia sempat membeli kacang di Mekkah. Sambil ngobrol akrab dengan penjual kacang, dia tanpa sadar mengambil sebiji kacang dan terbawa pulang.
Ketika sampai tanah air kembali, dia yang rajin selalu berdo'a dalam shalatnya. Suatu saat, dia tertidur dan bermimpi aneh. Ada suara yang mengatakan bahwa hajinya tidak mabrur. Bukankah aku sudah melaksanakan semua rukunnya? Apa yang membuat hajinya tidak mabrur? Suara itu menjawab, ”Sebiji kacang.”
Ustadz itu terbangun dengan tiba-tiba dan dia beristighfar karena dia teringat dengan sebiji kacang yang tidak sengaja terbawa olehnya. Dia menangis sejadi-jadinya dan memohon ampun kepada Allah. Dalam setiap shalatnya, dia melakukan tobat agar Allah Yang Maha Pengampun memberi ampunan kepadanya.
Akhirnya, dengan tekad yang bulat, sang ustadz berangkat lagi ke Saudi Arabia. Mencari tukang penjual kacang itu. Sampai berhari-hari dia tidak menemukan. Setelah lama dia mencari, didapatkan kabar bahwa penjual kacang itu sudah meninggal. Akhirnya dia cari anaknya si penjual kacang itu. Dia menemukan anak tersebut dan menceritakan semua kejadiannya.
Kata sang anak, ”Ahli waris bapak kami bukan cuma saya, masih ada tujuh orang.” Sang ustadz mencari ke tujuh ahli waris dan menceritakan kepada mereka satu persatu. Akhirnya ke delapan ahli waris bernegosiasi mengenai ganti sebiji kacang itu agar semua ahli waris ikhlas. Dan setelah diberikan ganti rugi, semua ahli waris sudah mengikhlaskannya. Ustadz itu bersyukur kepada Allah bahwa dia diberi tahu kesalahannya sebelum ajalnya.
Bayangkan, itu baru cerita mengenai satu kesalahan yang menurut kita masalah kecil. Tetapi itu tetap perbuatan yang dipertimbangkan oleh Allah Yang Mahaadil. Masihkah kita melakukan perbuatan yang sama dari hari ke hari ataukah kita akan beranjak dari kebiasaan yang dibenci Allah? Masih ada waktu sebelum Dia memanggil kita, sahabat. Gunakanlah waktu kita yang tersisa untuk melakukan perbuatan yang disukai Allah.
Jika kita senantiasa melaksanakan perbuatan-perbuatan yang disukai Allah, maka Allah akan mencintai kita. Jika Allah sudah mencintai kita, penduduk langit pun akan mencintai kita. Setelah itu, malaikat-malaikat pembawa Rahmat akan turun ke bumi dan hanya kemudahanlah yang akan kita dapatkan. Amin...
Wallahu a'lam.
KotaSantri.com © 2002-2026