
Pelangi » Refleksi | Sabtu, 24 April 2010 pukul 15:33 WIB
Penulis : Meyla Farid
Mengajar di kelas dengan kebanyakan siswanya laki-laki berusia 'tanggung', kadang melelahkan. Ada yang bilang, anak-anak SMP itu masa peralihan dari sifat kekanakan (SD) menuju kedewasan (SMU). Sering sekali saya membuka pelajaran dengan kata-kata, "Kalau ibu sedang menerangkan di depan, perhatikan baik-baik dan jangan ribut. Kalau tidak, nanti ibu minta salah seorang yang paling ribut mengerjakan soal di depan ya." Atau sering-sering berkeliling dari satu barisan ke barisan lain, dan lebih sering 'mangkal' di dekat bangku anak-anak yang terlalu 'talkatif' saat KBM berlangsung.
Kadang mereka menemukan seribu satu alasan untuk membolos dari pelajaran. Alasan yang umum anak-anak (yang biasanya itu-itu juga anaknya) gunakan adalah, "Minta ijin ke kamar kecil." Ya, daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, saya ijinkan mereka dengan syarat seorang-seorang.
Hari Senin kemarin, kebetulan jadwal mengajar saya di kelas tersebut siang hari. Setelah masuk kelas, 5 menit kemudian adzan berkumandang. Beberapa orang siswa laki-laki menghampiri dan minta ijin ke luar kelas.
"Mau shalat dulu, bu. Kata guru agama tadi, shalat itu harus tepat waktu," kata salah seorang.
Saya diam beberapa saat. Duh, gimana mau melarang coba? Kalau dilarang gimana, kalau tidak dilarang, gimana juga. Dalam hati kecil saya membenarkan juga, kalau bisa ya semua boleh shalat berjama'ah. Tapi mempertimbangkan sikon, saya akhirnya mengijinkan dengan syarat 2 orang-2 orang. Artinya, setelah yang 2 orang masuk kelas lagi, baru 2 orang lainnya boleh ke luar kelas untuk shalat.
Selanjutnya saya perhatikan anak-anak yang sama konsisten dengan shalat tepat waktunya tersebut. Sebenarnya hal tersebut membuat saya malu juga, ternyata saya belajar dari seorang anak didik tentang bagaimana kita sekarang telah banyak melalaikan waktu shalat. Dahulu, ketika kita kecil, orangtua kita pun mengajarkan untuk shalat tepat waktu. Kalau dalam istilah bahasa Sunda, disebutnya 'Dur Cong', alias dari ketika bedug mulai dipukul, bergegas dan bersiap untuk wudhu dan melaksanakan shalat.
Tapi sekarang, entah prinsip-prinsip seperti itu telah tergerus jaman atau bagaimana, kita sering sekali melalaikan waktu shalat dan mempunyai beribu alasan untuk selalu menundanya. Padahal, tidak ada amalan lain yang pertama kali akan ditanyakan di akhirat kelak, kecuali amalan shalat.
Di suatu ayat pun dijelaskan, "Celakalah orang-orang yang melalaikan shalatnya," bukan yang meninggalkan, tapi melalaikan. Melalaikan waktu shalat, melalaikan syarat dan rukunnya.
Benarlah apa kata orang, "Mengambil pelajaran memang bisa dari siapa saja, termasuk dari seorang 'anak kecil'."
KotaSantri.com © 2002-2026