Pelangi » Refleksi | Selasa, 20 April 2010 pukul 16:15 WIB

Bacaan Shalat

Penulis : ruhendi

"Udah lama tidak berjama'ah shalat shubuh. Ah, besok pagilah," gumamku dalam hati.
Kebiasaan tidur jam 2 dinihari setelah pulang kerja, sehingga bangun pagi mendengar adzan Subuh terasa agak berat. Walaupun menunggu adzan Subuh satu jam lebih lagi tetap saja mata tidak bisa diajak kompromi, tapi kalau sudah diniatkan akhirnya bisa shalat Subuh berjama'ah.

Pagi itu alarm pukul 04.10, aku bisa bangun dengan segar. Udara pagi hari yang sejuk membuat aku bersemangat. Dengan waktu tempuh sekitar 8 menit, tiba juga di masjid jami di komplek perumahan dekat mess tempat aku dan teman-teman kantor tinggal.

Adzan Subuh pukul 04.30, aku sudah berada di masjid. Masjid yang tampak megah setelah satu bulan yang lalu direnovasi. Setelah shalat tahiyatul masjid dan menunggu beberapa menit, jama'ah yang lain datang. Akhirnya seorang jama'ah iqamah tanda shalat jama'ah segera dimulai.

Setelah berkumpul semua jama'ah, hanya terbentuk satu shaf (baris), sebagian besar bapak-bapak yang sudah tua ditambah anak kecil setingkat SD yang biasa mengaji Al-Qur'an setelah shalat. Sepertinya di mana-mana sama bila jama'ah Subuh paling banyak 2 shaf saja.

Rakaat pertama, bacaan Al-Fatihah imam dan surat Al-Baqarah ayat 48 sampai 55 terdengar fasih, walaupun sang imam sudah berumur sekitar 60 tahun. Begitu pun pada rakaat kedua, bacaan surat setelah Al-Fatihah membaca dua ayat dari surat Ali Imran, ayat 103 sampai 105.
Ah, kalau aku belum tentu hapal bacaan surat Al-Baqarah dan Surat Ali Imran yang tadi imam baca. Ada rasa kagum pada sosok imam shalat Subuh tadi.

***

Ketika ada libur kerja malam Selasa, kusempatkan shalat Maghrib berjama'ah di mushala terdekat dari mess. Untuk bisa bersosialisasi dan mengenal akrab dengan penduduk sekitar, salah satu caranya dengan ikut shalat berjama'ah di masjid.

Mushala yang berukuran kurang lebih 5 x 6 meter, saat itu jama'ah shalat Maghrib hanya terdiri 2 shaf dengan jama'ah kurang lebih 18 orang.

Aku jadi makmum masbuk. Ketika datang di mushala itu, imam sedang membaca ayat ketiga dari Surat Al-Fatihah. Segera aku Takbiratul Ihram dan mendengarkan bacaan imam. Sang imam yang berumur kurang lebih 50 tahunan bacaannya kurang fasih ketika membaca surat Al-Fatihah, begitu juga surat Al-Humajah. Terdengar bacaan yang semestinya dibaca panjang (2 harkat), tapi ini tidak. Juga ketika membaca 'Ain dibaca A (alif) pada ayat terakhir. Beda huruf akan berbeda juga maknanya.

***

Sebenarnya bukan maksud untuk jadi pengkritik atau sok pintar tentang pengetahuan ilmu tajwid dan makharijul huruf sang imam shalat Maghrib itu, hanya memang terkadang kita kurang memperhatikan bacaan Al-Fatihah atau surat lainnya dalam shalat.

Terkadang kita merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang didapat waktu mengaji di masa kecil yang biasanya diisi dengan hafalan, itu masih beruntung. Sehingga ketika dewasa, hanya bacaan yang sudah terbiasa kita lafalkan yang kita pakai dalam shalat. Apalagi yang sama sekali tidak mengaji ketika kecil, bagaimana dengan bacaannya?

Tuntutan bagi imam shalat adalah harus benar-benar menguasai ilmu tajwid dan juga ilmu lainnya. Oleh karena itu, mari perbaiki hafalan kita dengan membuka kembali Al-Qur'an, lalu membaca dan membandingkannyan dengan yang telah kita hafal, apakah sudah benar atau tidak? Kemudian menambah hafalan surat dan mengetahui terjemahan dari hafalan kita, itu lebih baik lagi. Hal ini tidak bisa dianggap sepele, apalagi kita jadi imam shalat.

Lalu, bagaimana dengan bacaan shalat kita?

KotaSantri.com © 2002-2026