
Pelangi » Refleksi | Selasa, 9 Maret 2010 pukul 15:40 WIB
Penulis : Abi Sabila
Berhati-hatilah menjaga lisan, kapan pun, di mana pun, dan dengan siapa pun. Begitulah pelajaran yang kupetik dari cerita salah satu jama'ah, saat kami sedang duduk-duduk di teras mushala Baiturrohim sambil menunggu datangnya waktu Isya, usai mendatangi undangan syukuran pernikahan.
Pelajaran berharga ini terjadi saat Pak Karim (bukan nama sebenarnya) beserta keluarga sedang rekreasi di salah satu tempat wisata alam. Seperti tempat wisata pada umumnya, banyak pedagang yang menjajakan dagangannya di sekitar pintu masuk wisata. Salah satunya adalah seorang lelaki setengah baya yang menghampiri rombongan pak Karim dan menawarkan dagangannya berupa tongkat dari ranting pohon. Tongkat semacam ini memang banyak dijajakan di tempat wisata tersebut, mengingat jalan menuju lokasi yang menanjak dan cukup licin. Pihak pengelola wisata sendiri sudah mengantisipasi hal ini dengan membuat pagar di sepanjang sisi jalan untuk menjaga keselamatan pengunjung. Namun keberadaan tongkat alakadarnya ini terkadang sangat dibutuhkan, khususnya bagi para pengunjung yang takut terpeleset atau kelelahan di tengan perjalanan.
“Tongkatnya, Bu, hanya seribu rupiah,” lelaki setengah baya itu menawarkan sebatang tongkat kepada bu Karim.
“Seribu? Jadi bayar toh, kirain gratis!“ bu Karim agak terkejut, dia mengira tongkat itu adalah fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola tempat wisata.
“Ya bayar, Bu, ini dagangan saya. Pihak pengelola tidak menyediakan fasilitas ini untuk para pengunjungnya,“ jawab sang penjual kalem.
“Ternyata di mana-mana sama ya, semua harus bayar. Hanya buang angin saja yang tidak bayar,“ meski kesal, akhirnya Bu Karim membeli sebatang tongkat yang dijajakan lelaki setengah baya tersebut.
Perjalanan pun dilanjutkan, melewati jalanan yang menanjak, berkelok, dan cukup licin di beberapa lokasi. Namun, baru sekitar dua ratus meter dari pintu gerbang, tiba-tiba Bu Karim merasakan perutnya sakit, mulas, dan memaksa dia untuk segera ke kamar mandi. Beruntung, di sepanjang jalan menuju lokasi banyak terdapat wc umum. Namun meski sampai tiga kali bolak-balik ke kamar mandi, Bu Karim sama sekali tak merasakan perutnya menjadi lega. Bu Karim heran, sebab di kamar mandi bu Karim hanya (maaf) buang angin saja. Dan begitulah berulang sampai tiga kali.
“Bagaimana, Bu, apa masih terasa sakit?” tanya pak Karim mulai cemas.
“Masih, Pak,“ bu Karim pun menceritakan apa yang dialaminya di dalam kamar mandi.
“Mungkin ini ada kaitannya sama omongan Ibu tadi. Ibu kesal kan waktu ditawarin tongkat di pintu gerbang? Ibu bilang hanya buang angin saja yang tidak bayar, sekarang ibu tiga kali ke kamar mandi, hanya buang angin dan harus bayar tiga kali,“ pak Karim merasa ada yang aneh dengan sakit perut istirnya.
“Astaghfirullah. Betul, Pak, barangkali ini balasan atas omonganku pada penjual tongkat tadi,” bu Karim mulai cemas, jangan-jangan yang dikatakan suaminya itu benar, sakit perut tersebut ada kaitannya dengan omongannya yang mungkin tidak sopan atau bahkan menyakiti perasaan orang lain.
Bu Karim pun menyesali semua omongannya, dan berniat untuk meminta maaf kepada sang penjual tongkat saat mereka pulang nanti. Berkali-kali bu Karim beristighfar dan berdo'a dalam hati, berharap sakit perutnya segera sembuh. Dan Alhamdulillah, perlahan sakit perutnya pun mereda dan mereka bisa melanjutkan perjalanan dan berekreasi hingga sore hari.
Sesuai niat mereka, sebelum pulang mereka mencoba mencari sang penjual tongkat itu untuk meminta maaf, namun mereka tak berhasil menemukannya. Barangkali sang penjual tongkat sudah pulang atau sedang menjajakan dagangannya di tempat lain. Karena waktu sudah semakin sore, maka bu Karim memutuskan untuk tidak melanjutkan mencari sang penjual tongkat. Dalam hatinya dia berharap sekali bahwa sang penjual tongkat sudah memaafkan omongannya tadi pagi.
***
Allah berfirman, “Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid.” (QS. Qaff : 18).
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penggalan ayat dan hadits tersebut di atas mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dalam bertutur kata. Kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Bahkan dalam sebuah hadits lain, Rasulullah menyebutkan, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.
Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah di atas.
KotaSantri.com © 2002-2026