
Pelangi » Refleksi | Kamis, 11 Februari 2010 pukul 15:15 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
"Jangan bicara sayang-sayangan deh kalau sama sesama manusia, mendingan berusaha menyayangi Allah dulu!"
Saya ingat, kalimat ini pernah dilontarkan oleh seorang teman dalam berinteraksi di salah satu milis muslimah. Kalimat ini tidak lain tidak bukan, merupakan ungkapan protes terhadap kebiasaan saya yang punya hobi ber"say... say... Hello" dengan enam huruf "s..y..ng" ketika mengirimkan postingan. Tidak disangka, ternyata dari kata-kata yang terkesan indah ini, akan berujung pada 'hadiah' semprotan emosi jiwa.
Dari peristiwa tersebut, saya tersadar akan satu pemikiran, "Saya yang perempuan, ternyata belum bisa mengerti perasaan perempuan." Saya baru tahu bahwa ada juga perempuan yang tidak suka dengan kata-kata sayang karena merasa kata-kata itu tak lebih dari ungkapan gombal belaka.
***
Saya terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya perempuan. Waah... Bisa dibayangkan bagaimana 'gegernya' rumah kalau empat perempuan ditambah Mrs. Mom; ibunda tercinta yang juga perempuan ikut berkumpul, bakalan heboh ngalahin stereo yang katanya bisa echo. Rumah tidak pernah sepi dari adu mulut, adu cerewet, adu kata-kata. Pokoknya berisiiiikkkk... Dari cerita sandal jepit bisa berujung ke cerita Mas Brad Pit, dari globalisasi bisa pindah haluan ke sambal terasi.
Kakak saya yang pertama, cenderung memiliki sifat plegmatis. Super anteng, kalem, nyantai dengan segala keadaan. Hingga tiga adik-adiknya merasa terayomi dengan sikap "sersannya" beliau ini, serius tapi santai. Sedangkan saya anak kedua, cenderung koleris, maunya menang sendiri dan cenderung egois jika kepepet. Satu sifat yang kadang muncul dari anak nomor dua katanya. Adik saya, anak nomor tiga, cenderung melankolis, punya sifat perasa, halus banget. Kalau bicara harus hati-hati, karena cepet banget ngeluarin bening kaca di mata. Sedangkan Si bungsu, cenderung punya sifat sanguinis semi koleris. Di antara ketiga kakaknya yang sudah memproklamirkan diri menjadi ibu rumah tangga, si bungsu tetap mantap dengan kariernya. Bahkan terakhir ini, baru saja si bungsu diangkat menjadi manager di salah satu perusahaan.
Ada yang mengatakan, dengan memiliki saudara-saurada perempuan, berarti saya mampu memahami perasaan perempuan, setidaknya tahu tentang hati perempuan. Tak jarang saya dijadikan tempat curhat oleh beberapa teman-teman perempuan. Tapi sayang, ternyata saya sebetulnya tidak sepenuhnya tahu tentang perempuan. Terutama jika sudah berhubungan dengan perasaan perempuan yang sensitif, saya angkat tangan. Karena saya yang seharusnya jadi super women bisa ikut menyelesaikan masalah, kadang malah ikutan jadi super sensitif.
Tidak salah kalau jumlah sahabat saya yang perempuan bisa dihitung dengan jari. Saya merasa kesulitan untuk punya sahabat. Meski di dalam hati ingin sekali saya memiliki sahabat-sahabat perempuan yang banyak. Tapi sayang, kadang bagi mereka yang belum kenal dekat, menganggap saya cenderung snob-sombong-jual mahal-sok tahu-sok iyeh, padahal asli saya bisa jadi pelawak kalau teman saya memang ngocol dan sudah sangat akrab.
Meski saya belum mengerti perasaan perempuan, belum berarti saya mengerti perasaan kaum lelaki. Wuiihh... nggak deh, makin keder kalau saya disuruh memahami perasaan laki-laki. Yang saya tahu, seperti dalam buku "Men are from Mars, Women are from Venus" karyanya John Gray, Phd, lelaki itu memang lebih simple karena selalu berhubungan dengan logika daripada perasaan.
Jika berhadapan dengan kaum lelaki, saya cenderung lebih apa adanya jika berbicara. Misalnya kalau ada yang salah, saya akan langsung bilang, "Yang ini salah loh, Kang, dibenerin atuh." Berbeda jika berbicara dengan perempuan, saya perlu berbikir beribu bahasa untuk mengungkapkannya. Kalimat barusan pasti akan saya ubah dengan kalimat "Yang ini sepertinya kurang betul, bagaimana kalau dipikirkan kembali."
Oleh karena itu, lewat rangkaian kata ini, saya ingin mengungkapkan; Maafkan jika saya belum bisa memahami perasaan yang namanya perempuan (apalagi laki-laki). Saya khawatir, jika dalam berinteraksi di ruang maya ini, ada beberapa orang yang tersinggung dengan reply dari saya. Tolong dimaafkan, karena sungguh, memang saya belum bisa memahami.
Sungguh, ungkapan kata sayang yang saya tuliskan atau ucapkan adalah satu ungkapan yang keluar dari lubuk hati. Tanpa bermaksud basa basi. Namun, jika kata itu malah melukai nantinya, anggap saja angin lalu.
Sampai saat ini, saya masih berusaha memahami diri sendiri. Saya ingin tahu bagaimana perasaan saya, jiwa saya, kemauan saya yang sebenarnya dengan belajar dari memahami dan berinteraksi dengan orang lain. Semoga...
Uhibbukumfillah - Love U All because Allah -
Mabashi, 13 Juni 2006
KotaSantri.com © 2002-2026