Pelangi » Refleksi | Selasa, 2 Februari 2010 pukul 15:51 WIB

Proses Menuju Ridha Allah

Penulis : Sus Woyo

Di antara delapan saudara bapak saya, ada satu orang yang bersifat sangat menjengkelkan kakek dan nenek saya. Dia adalah adik bapak saya. Menurut cerita kakek dan nenek, sejak kecil, dia banyak sekali membuat hal-hal yang kontradiksi dengan keinginan orangtua.

Ia mengalami masa remaja ketika cengkeh di daerah saya sedang menjadi komoditi yang luar biasa bagusnya. Bahkan menjadi satu-satunya hasil pertanian yang paling mahal harganya. Saat itu, kakek saya dengan mudah bisa menyekolahkan beberapa anaknya ke kota, saat di kampung saya belum banyak orang menyekolahkan anaknya sampai tingkat Sekolah Lanjutan Atas atau yang sederajat.

Sayang sekali, kesempatan emas itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh paman saya itu. Dari masa kanak-kanak sampai remaja, ia tidak mendapatkan pelajaran agama sebagus adik atau kakaknya. Ketika kakak dan adiknya ngaji di mushala kakek saya, dia tak pernah nampak. Ketika adik-adiknya begitu getol masuk SLTA dan meneruskan ke kota, ia justru keluar di kelas dua SMP.

Sejak itu, hidupnya berguncang-guncang terus. Pernah merantau di beberapa tempat seperti Jakarta, Bogor, dan Bandung, tapi tak sesukses teman seangkatannya. Ketika beberapa teman seangkatannya berbondong-bondong masuk pabrik semen terbesar di Indonesia saat itu, ia hanya tahan beberapa hari saja. Alasannya, tidak merantau pun dia masih bisa hidup di kampung sendiri.

Hal-hal seperti itulah yang sangat menjengkelkan kakek dan nenek saya. Tak hanya sebatas itu, ketika masuk jenjang perkawinan pun ia masih menjadi sosok yang menjadi buah bibir karena perbuatannya yang selalu tidak umum dengan saudara-saudaranya yang lain.

Ketika anaknya baru berusia sekitar tiga tahun, istrinya meninggal. Sepeninggal sang istri, ia menjadi berkali-kali kawin. Akhirnya ia terlempar dari kampung halaman dan lama tidak pulang, karena ia telah memperistri seseorang di daerah Pangandaran. Dan ini merupakan perkawinannya yang keempat kali.

Tiba-tiba beberapa waktu lalu, saya sangat rindu dengan dia. Sudah hampir empat tahun saya tidak bertemu muka. Lebih rindu lagi ketika mendengar dan melihat lewat mass media bahwa Pangandaraan, saat itu, termasuk daerah yang paling parah disapu tsunami.

Saya berusaha menghubungi beberapa keluarga yang tahu nomor telepon terdekat rumahnya. Saya juga menelpon anaknya yang sekarang bekerja di sebuah perusahaan Jepang. Dan juga kepada anaknya yang satu lagi, yang masih kuliah di Bekasi. Ternyata ia tak tahu informasi tentang bapaknya. Bahkan saya sempat mau mencarinya di daerah kabupaten Ciamis itu, jika memang tak ada kabar tentang dia.

Tak kusangka sebelumnya, ketika saya pulang ke rumah orangtua saya, yang hanya beda kecamatan, saya mendapati ia ada di rumah kakek saya. Saya bergembira. Ia pun nampak sangat bergembira bertemu dengan saya. Setelah sekian lama kita larut dalam memenuhi kehidupan masing-masing.

Ada perubahan sangat besar yang berhasil saya tangkap ketika pertama kali berjumpa kembali dengannya. Penampilan lahirnya yang begitu "nyantri", sempat mengagetkan saya. Sebab saya belum pernah melihat ia begitu PD dengan baju koko dan kopiah hitamnya. Dan ia memakainya tak sebatas ketika shalat saja. Tapi setiap saat.

Saya makin terangguk-angguk ketika setiap kali suara adzan berkumandang. Dia begitu cepat lari ke mushala kecil milik keluarga kami. Sebuah perubahan yang bagi saya adalah luar biasa. Dan lebih luar biasa lagi ketika semalam suntuk ia berbicara kepada saya tentang kebesaran Tuhan, keimanan, hari kiamat, takdir, dan posisi dia sekarang terhadap gemerlapnya dunia yang semakin hedonis ini. Sebuah tema yang tak pernah saya dengar dari mulutnya sebelum ini, kecuali tema-tema tentang kesusahan hidup.

Di sebuah kamar kecil milik orangtua saya, dini hari itu saya seperti mendapat siraman dari ulama shaleh yang begitu takut pada Penciptanya. Kekuatan kata-katanya yang meluncur dari mulutnya, meyakinkan saya bahwa ada kekuatan ruhani di dalamnya.

Biar pun pagi harinya, saya sampai demam karena tak tidur semalam, dan sakit perut karena terlalu banyak minum kopi, tapi saya betul-betul bersyukur padaNya. Karena di tengah kesibukan banyak keluarga saya yang lain, membicarakan tentang hedonisme keduniaan, ia justru membawa saya menyelam di kedalaman samudera Illahi.

Saya tak menyangka jika dari mulutnya saat ini, yang keluar adalah kalimat-kalimat yang selalu mengandung kebesaran dan keberadaan Allah. Dan ketika menyikapi dirinya yang sampai sekarang masih serba kekurangan, ia tak lagi menanggapinya sebagai keluh kesah seperti masa-masa lalu. Sikap qana'ah, atau menerima apa adanya mulai tercermin dalam setiap langkah hidupnya.

Terus terang, saya makin iri dengan ia yang bergerak terus menuju keridhaan Allah. Sedangkan saya masih tertatih-tatih dalam proses panjang menuju ridhaNya.

KotaSantri.com © 2002-2026