
Pelangi » Refleksi | Jum'at, 8 Januari 2010 pukul 16:15 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
"Fushigi hakubutsukan e youkoso oidekudasaimashita (Selamat datang, terima kasih anda telah datang ke musium keajaiban). Di sini anda bisa menitipkan segala perasaan..."
Begitulah kalimat yang selalu mengawali kolom 'Drama Time' pada buletin bulanan Nihongo Journal sepanjang tahun 2003. Diceritakan bahwa di musium tersebut, terdapat sebuah benda yang disebut kotak kebahagiaan. Jika sedang merasa resah, sedih, kecewa, maka kita dapat meminjam kotak tersebut untuk menyimpan segala rasa yang tidak diinginkan hingga berubah menjadi rasa yang kita inginkan berupa kebahagiaan.
Setiap membaca kembali kolom drama tersebut, rasanya ingin sekali jika kotak kebahagiaan tersebut benar-benar ada. Akan saya titipkan semua beban yang saat ini terasa menumpuk yang membuat hari-hari berat. Beban amanah yang diliputi perasaan merasa tidak didengar, tidak mendapat respon, tidak mendapat dukungan dari orang-orang yang katanya mendukung akan bekerja bersama dalam tim dengan saya yang diamanahi sebagai ketua. Saya ingin lepas, bebas dari amanah ini. Hari-hari akan bebas tanpa perlu lagi memikirkan program-program yang akan dijalankan ataupun mengirimkan rancangan kerja yang mungkin tak akan mendapat tanggapan.
Akhirnya, mulailah saya berusaha mencari kotak kebahagian dengan mempelajari arti bahagia. Teori Aristoteles mengatakan yang dimaksud kebahagiaan adalah suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang sesuai dengan kehendaknya (bersifat relatif). Misalnya kebahagiaan bagi orang miskin adalah kekayaan, bagi orang sakit adalah kesehatan. Sedangkan Imam Al-Ghazali mengatakan kebahagiaan itu adalah akar kata sa'ad atau su'ud yang berarti keberuntungan, mujur, dan tidak sial. Sa'adah berarti kebahagiaan yang dirasakan oleh manusia dalam hidupnya. Tidak puas dengan pengertian itu semua, saya mulai bertanya pada beberapa sahabat dekat tentang arti kebahagian. Tentu saja jawabannya berbeda rupa, karena seperti teori Aristoteles, kebahagiaan itu bersifat relatif.
Sebenarnya kebahagiaan seperti apa yang ingin saya cari? Bukankah selama ini telah bahagia? Saya mulai mengamati diri sendiri. Betapa saya telah diberi anugerah tangan, kaki, mata, telinga, dan semua anggota tubuh lainnya yang berfungsi sempurna. Saya telah diberi kelebihan dapat menuangkan beberapa pikiran ke dalam tulisan yang katanya tulisan tersebut layak untuk dinikmati orang banyak. Juga diberi kenikmatan dapat tinggal di negara asing - Jepang tanpa ada kekurangan.
Semakin mengamati diri, semakin saya sadar bahwa sebetulnya saya telah memiliki kotak kebahagiaan itu. Ia berada dalam 'sumur' hati terdalam, tempat kebahagiaan terpendam yang kadang tidak pernah disadari dalam wujud rasa syukur. Astaghfirullah.
Saya mulai membayangkan wajah orang-orang dekat yang mungkin saat ini telah mendapatkan kotak kebahagiaan dalam 'sumur' hatinya. Teringat salah seorang teman yang baru beberapa minggu lalu harus kehilangan sebelah kaki, diamputasi karena kanker tulang yang dideritanya. Tidak ada sedikit pun terbias rasa sedih yang ia utarakan dalam surat yang dikirimkan. Ia hanya menuliskan, "Semua milik Allah, saya masih bisa bahagia dengan hanya satu kaki. Inilah bukti cinta Allah pada hambanya, memberi cobaan," katanya.
Saya pun teringat sahabat lain yang beberapa bulan lalu harus kehilangan buah hati untuk selamanya. Tidak ada nada kesedihan dalam pembicaraan ketika saya telpon. Ia hanya mengatakan, "Semua milik Allah, mudah-mudahan itu menjadi tabungan pahala," diiringi dengan suara senyuman seolah ingin meyakinkan saya. Tidak ada keluhan ataupun nada penyesalan telah kehilangan seorang cahaya mata.
Juga teringat pada orang yang paling dekat, yaitu adik bungsu perempuan yang akhir-akhir ini selalu mengatakan, "Masih bisa tersenyum." Di usianya yang menjelang 30 tahun, ia tetap tegar mengadapi kegagalan menikah karena seseorang yang telah melamarnya mengundurkan diri. Padahal persiapan makanan, gedung telah dipesan. Menghadapi kepanikan ini semua, adik saya hanya berkata, "Masih bisa tersenyum, tenang aja," seolah menenangkan kepanikan keluarga.
Saya baru sadar sekarang, kenapa dua sahabat saya dan adik bungsu bisa berkata sedemikian tegarnya. Mungkin mereka telah menemukan kotak kebahagiaan dalam sumur hatinya. Meskipun kebahagiaan itu berada di tempat gelap dan harus merasakan kenyataan pahit, tapi tetap mereka temukan. Mereka telah mendapatkan kotak kebagiaan hakiki berupa kebahagiaan ahl al-tsawab (orang-orang yang berbahagia mendapat pahala dari Allah SWT) yang merupakan tamam al-khairat (kebaikan tertinggi) dengan cara bersabar menerima ketentuanNya.
Bagaimana dengan saya? Beban berat yang saya rasakan tidaklah sebanding dengan mereka yang harus menghadapi kehilangan sesuatu yang berarti. Saya justru harus bersyukur karena Allah masih memberi cobaan 'enak' dalam bentuk diamanah sebagai ketua untuk menguji kesabaran. Saya akan mendapat kotak kebahagiaan jika lulus dari ujian kesulitan dan beberapa cobaan dalam menjalankan amanah ini.
Saya pun harus berterima kasih pada teman-teman yang saat ini sama-sama bekerja dalam kepengurusan. Tanpa mereka, saya tak berarti apa-apa. Semua beban perasaan ketika merasa tidak didengar, tidak mendapat respon, tidak mendapat dukungan, harus saya hilangkan.
Tidak perlu mempersoalkan masalah kecil seperti itu karena ada hal lain yang harus saya persoalkan berupa sasaran besar. Yaitu bagaimana menjalankan amanah ini sebaik mungkin agar dapat mengembangkan potensi teman-teman yang telah mempercayakan amanahnya pada saya. Yang kelak amanah ini akan saya pertanggungjawabkan untuk kelayakan memperoleh sertifikat kebahagiaan ahl al-tsawab. Sebuah kotak kebahagiaan hakiki yang dicari setiap orang yang percaya akan adanya janji Allah.
Saya kembali tersadar, kunci untuk mendapatkan kotak kebahagiaan sebetulnya ada pada diri sendiri. Saya adalah apa yang saya pikirkan. Jika saya berpikir bahagia, maka akan bahagia dan menemukan kotak kebahagiaan tersebut di dalam hati. Saya harus berlapang dada menerima semua cobaan Allah dengan kesabaran dan ikhlas untuk mendapatkan kotak kebahagiaan.
Wallahu a'lam bishshawab.
***
Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya." (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud).
Sepenggal kisah aishliz et Japan @ April 2006
KotaSantri.com © 2002-2026