
Pelangi » Refleksi | Senin, 28 Desember 2009 pukul 15:50 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Siang terik di padang Kerak, utara Jerusalem. Ribuan pasukan romawi tegak menjunjung salib-salib. Sementara pasukan Salahudin syahdu dalam tasbih mengalun. Udara gurun dan debu pasir memisahkan ratusan meter jarak keduanya. Hari ini perang mengangkat senjata adalah wajib bagi muslim dewasa, adalah serombongan kafilah muslim terbantai dalam safar menuju baitul maqdis, Palestina. Pedang telah diangkat, dan darah telah menetes. Waqtuluuhum haitsu tsaqiftumuuhum. Saat ringkikan kuda mengusik desiran angin gurun, saat itulah pedang diangkat, dan kaki-kaki kuda dipacu, dan mata pedang diadu. Mata panah beterbangan. Pekikan takbir terdengar melatari raungan kesakitan pasukan Romawi.
Seribu tahun kemudian, di depan sebuah mihrab, sekumpulan manusia duduk melingkar. Masjid kampus itu terlalu sepi untuk malam Ahad yang terlalu ramai di pusat kota. Diskusi tentang makrifatullah mengalir, sementara ilmu-ilmu tersampaikan. Di malam itu, di masjid yang sepi itu, ramai-ramai ribuan malaikat menutup kepakan sayapnya, berhenti di pelataran masjid dan sekitar mihrab, menunduk syahdu lalu bertasbih, bermunajat, mendo'akan delapan orang dalam diskusi makrifatullah-nya.
Seperti pola kehidupan manusia, aktivitas dakwah dan jihad mengalami metamorfosis seiring dengan perkembangan zaman. Ia berubah mengalir mengikuti lekuk tubuh peradaban yang juga berubah. Tak peduli anda hidup hari ini, atau kemarin, atau besok, maka dakwah dan jihad akan tetap diusung oleh mereka yang mencintai dan dicintai Allah, dalam bentuknya yang selaras dengan perubahan. Andai perang menggunakan konfrontasi fisik dahulu adalah dakwah yang memang harus diambil untuk menyeru manusia kepada jalan kebenaran, untuk mempertahankan harga diri umat, maka perang hari ini adalah mengangkat pedang ilmu dan menebas dengan kekuatan pemikiran. Itulah jihad ilmu, yang secara logika adalah juga merupakan sebuah perang. Perang ilmu.
Perang, perubahan dakwah dan jihad itu menemukan bentuknya pada banyak hal. Menggunakan pemikiran dengan fasilitas teknologi, memanfaatkan dunia modern adalah juga genderang yang ditabuh dalam perjalanan panjang dakwah dan jihad. Genderang perang yang juga kita temukan di forum-forum pelajar di sudut mushala, atau aksi-aksi mahasiswa di jalanan, atau mereka yang duduk di depan komputer dan menyerukan dakwah melalui blog dan portal. Dunia berubah, begitu pula dakwah dan jihad.
Maka dalam proses itu, dakwah dan jihad harus tetap memegang esensinya, berakar pada tanah yang benar. Perang dengan dakwah pemikiran dan fasilitas dunia modern ini, layaknya juga dianggap perang, sesuatu yang membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan, bukan ditempatkan di level bawah dari perang fisik. Memang berbeda, namun harus tetap dengan dasar yang sama, menyeru manusia kepada kebenaran, harus tetap disiplin, harus tetap berhati-hati, dan yang paling pasti, harus tetap menguatkan ukhuwah antara para pejuang perang, kekuatan yang menghimpun hati para da'i. Untuk itulah seharusnya para pejuang – mujahid, meluruskan barisan, merapikan gerak, dan bersama menunujukkan eksistensi. Karena hanya dengan itu ia menjadi kuat, dan memberi lebih banyak pengaruh.
***
Masjid kampus malam itu masih sunyi, saat malam semakin melarut, Umar menutup forum dengan do'a rabithah. Delapan orang itu tertunduk dalam syahdu. Malaikat di halaman masjid dan sekitar mihrab mengamini, jangkrik dan rerumputan serta lentik gemintang memuji. Di sela-sela do'anya Umar terisak, dalam tawadhu. Renungannya berkelana pada agenda dakwah yang ia jalani malam itu, pada langkah-langkah yang menggiring orang-orang ke masjid kampus. Ia menyadarinya sebagai sebuah peperangan, dimana ia adalah satu prajurit di antara ratusan ribuan prajurit lain, dimana ia yakin bahwa ia tidak sendiri. Ia tengah ada di tengah medan perang. Ribuan prajurit lain bergemuruh dengan desingan pedangnya dan dakwah pemikirannya.
KotaSantri.com © 2002-2026