
Pelangi » Refleksi | Senin, 14 Desember 2009 pukul 15:40 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Memasuki bulan November - Desember, di setiap pusat belanja atau pun pertokoan Jepang, ada satu ciri khas yang mencolok mata. Hiasan pernak-pernik Natal mulai terpasang di setiap sudut pertokoan. Entah itu pohon natal, patung sinterklas, lonceng, sampai pita yang berwarna-warni. Mayoritas penduduk Jepang bukanlah penganut agama Kristiani, namun gaya hidup mengikuti arus merayakan Eve Night atau pun berpesta saling bertukar kado di hari Natal begitu terasa sangat kuat.
Pun ketika saya berbelanja di salah satu pertokoan. Gaung lagu-lagu Natal terdengar di setiap penjuru, pernak-pernik hiasan terpasang di setiap sudut, dan saya pun terpaksa harus menolak plastik belanja yang diberikan kasir setelah selesai pembayaran karena bertuliskan 'Merry Christmas'. Ada pula satu peristiwa lain yang tidak bisa dilupakan sesaat setelah beranjak dari tempat kasir ini. Ketika dari arah depan, terasa kaki ditubruk oleh seorang anak kecil. Terlihat kepalanya memakai topi ala sinterklas dengan tangan kecilnya memegang sesuatu.
"Gomennasai... (Maaf...)" Tiba-tiba seorang ibu muda dengan berwajah cemas berlari mendatangi. Wajah Asia sangat khas melekat pada gurat wajahnya.
"Indonesia? Malaysia?" ujarnya melanjutkan bertanya ke arah saya yang sama-sama memiliki tipikal Asia.
"Oh, sama dong, saya juga Indonesia. Orang Islam juga loh!" ujarnya terlihat gembira ketika mengetahui satu negara dan melihat pakaian tertutup saya.
"Mama mite, kore kawaii, katte ii? (Mama lihat, ini bagus, boleh dibeli?)" Terdengar suara anak kecil tadi melirik ke arah perempuan di depan saya, sambil mengacungkan tangannya yang memegang lampu Natal. Perempuan yang ternyata ibunya mengangguk, tanda setuju.
"Loh? Kok boleh sih, mbak? Itu kan hiasan Natal!" Cukup kaget saya bertanya pada perempuan tersebut.
"Nggak apa-apa, masih anak kecil, lagian dibeli buat tukeran kado tanggal 25," ujarnya santai tanpa merasa bersalah.
"Cuma setahun sekali kan? Yuk ah, sampai ketemu lagi. Merry Christmas," ujarnya berlalu sambil melambaikan tangan tersenyum.
Deg! Rasanya dada bagai teriris mendengar kata-kata perempuan tersebut. Mencoba menghibur diri, pasti telinga ini salah mendengar. Namun entahlah, semakin berusaha menghibur diri, semakin terasa penyesalan dibarengi rasa sedih. Ke mana kebanggan diri sebagai muslim? Begitu santainya mengikuti perayaan dari aqidah yang berbeda.
Tiba-tiba pikiran saya meloncat pada seorang sahabat. Beberapa hari yang lalu, kami membahas hangat tentang alasan tidak bolehnya mengikuti acara tukar menukar kado di hari Natal, meski diadakan oleh orang Jepang yang bukan penganut Kristiani. Sebagai muslim, sahabat saya dan beberapa teman lainnya berencana mengikuti undangan acara tukar kado tanggal 25 Desember dengan 'yell' ucapan khas "Merry Christmas".
Rupanya, gempita Natal tidak hanya merasuki orang Jepang yang notabene beraliran Shinto, tapi juga mulai merasuki pemikiran beberapa orang Indonesia muslim yang tinggal di Jepang, entah karena tidak tahu atau pun ghazwul fikri terbawa arus pergaulan.
Kenapa sebagai muslim harus terpengaruh dalam gegap Natal? Bukankah sebagai muslim kita juga memiliki hari raya yang pantas dibanggakan, seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau bersabda, "Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian bersenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu, yaitu Hari Raya Qurban dan Hari Raya Idul Fithri." (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i).
Hari Raya Qurban atau Idul Adha tahun ini, perayaannya jatuh di akhir bulan November yang lalu. Begitu gempitakan kita sebagai muslim, khususnya yang tinggal di Jepang, menyambutnya? Kado apa yang kemarin disiapkan untuk menyambutnya? Sudahkah kisah Idul Adha tertanam kuat pada anak-anak kita, generasi muslim?
Hari raya yang di dalamnya memiliki ruh 'heroik' pengorbanan seorang anak shaleh bernama Ismail. Ketika perintah Allah SWT melalui mimpi datang pada sang ayah, Nabi Ibrahim AS, untuk menyembelihnya, tidak ada sedikit pun perasaan ciut dalam hatinya. Dengan tegas Ismail kecil berkata, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaaffaat : 102).
Ucapan tegas dari seorang anak shaleh yang dipenuhi cinta Illahi. Tegakah seorang ayah menyembelih anak yang didamba setelah puluhan tahun? Tidak, bukan masalah tega atau tidak tega, namun di sinilah keimanan nabi Ibrahim AS terbukti. Beliau lebih memilih melaksanakan perintah Allah SWT, meski harus mengorbankan anak tercintanya. Hingga Allah SWT memberikan mukjizat menggantikan Ismail kecil dengan seekor kambing sebagai sembelihan.
"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (QS. Ash-Shaaffaat : 107-109).
Idul Adha adalah hari raya qurban. Perayaannya tidak sekedar pesta tukar menukar kado. Namun memiliki esensi lebih dalam, perayaan berupa tukar menukar cinta kasih dengan ikut berqurban atas sapi atau pun kambing sembelihan. Yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu dua orang saja, tapi dirasakan oleh sebagian besar fakir miskin atau pun kaum dhuafa di seluruh dunia.
Sudah saatnya seorang muslim di mana pun mulai menggaungkan kemuliaan hari raya sendiri, tanpa perlu mengikuti arus perayaan hari raya aqidah lain. Perayaan dengan mengisi rapat shaf-shaf shalat sunnah di hari raya dengan khusyu, lalu berqurban atau pun membagikan zakat fitrah. Melatih menanamkan ruh kebanggaan dan kebahagiaan menyambut Id pada anak-anak sebagai generasi penerus izzah Islam.
Betapa bangga rasanya jika suatu saat meriahnya Hari Raya Islam menggaung di seluruh dunia, termasuk negeri Sakura.
KotaSantri.com © 2002-2026