
Pelangi » Refleksi | Senin, 30 November 2009 pukul 15:15 WIB
Penulis : Abi Sabila
“Abi, sini deh!“ kudengar suara putriku memanggil dari dalam rumah, kemarin sore saat aku baru pulang kerja. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia tanyakan atau sampaikan secepatnya, sampai-sampai salamku tak dijawabnya.
Aku ulangi salamku sekali lagi. Kulihat wajah mungilnya tersenyum, keluar dari pintu. Dijawabnya salamku dan diciumnya tanganku.
“Ada apa, sayang, kayaknya ada yang penting banget?“ tanyaku sambil melepas sepatu di teras rumah.
“Kata orang-orang, tahun 2012 kiamat, abi percaya ngga?“
“Percaya, tapi tidak!“ jawabku sambil tersenyum. Kuletakkan sepatuku di tempatnya. Kugandeng tangannya masuk ke dalam rumah. Aku tahu dia masih bingung dengan jawabanku tadi.
“Abi percaya kalau kiamat itu bakal terjadi, karena salah satu dari enam rukun iman kan percaya akan datangnya hari akhir (kiamat). Tapi abi ndak percaya dengan ramalan yang mengatakan tahun 2012 bakal terjadi kiamat. Rasulullah saja tidak tahu kapan pastinya hari kiamat akan terjadi, apalagi para peramal itu. Rasulullah hanya menunjukan tanda-tanda menjelang terjadinya kiamat, tapi tidak pernah sekalipun menyebutkan kapan waktunya secara pasti. Jika ada peramal yang mengatakan kiamat akan terjadi tanggal sekian bulan sekian dan tahun sekian, jelas itu dusta. Hati-hati, percaya omongan peramal bisa membuat kita jadi musyrik,” jawabku panjang lebar.
Kulihat putriku beberapa kali mengangguk. Dia tak bertanya apa-apa lagi, aku rasa dia sudah paham dengan penjelasanku.
Bukan saja anak-anak seperti putriku, tapi beberapa teman kantorku juga belakangan ini sering membahas isu mengenai kiamat yang diprediksi akan terjadi tahun 2012. Tak hanya di kantor, di lingkungan tempat tinggalku, pembicaraan seputar ramalan ini juga masih saja menjadi topik yang sering dibicarakan. Meski rata-rata tidak percaya, tapi dari seringnya terjadi pembicaraan serupa, paling tidak membuktikan bahwa mereka sebenarnya merasa khawatir jika ramalan itu benar-benar akan terbukti.
Rata-rata mereka mengaku takut jika kiamat benar terjadi dalam waktu yang amat dekat ini. Mereka mengaku merasa takut dengan kedahsyatan hari kiamat. Tapi benarkah mereka merasa takut? Sebagian mungkin, tapi sebagian bisa kupastikan bahwa mereka berbohong.
Kenapa aku bisa mengatakan bahwa sebagian mereka sebenarnya berbohong? Jika benar-benar takut dengan kedahsyatan hari kiamat, mengapa ketika adzan berkumandang mereka tak segera menjawabnya dengan mendatangi masjid dan mushala. Mengapa mereka tak segera mengambil wudhu. Mereka tetap saja asyik, beralih dari kegiatan satu ke kegiatan lainnya. Sebagian dari mereka melaksanakan shalat ketika waktu sudah hampir berakhir, bahkan sebagian lagi tetap tak beralih dari aktifitas duniawinya sampai datang waktu shalat berikutnya. Begitulah dari waktu ke waktu, hari ke hari. Mereka lebih senang membahas kedahsyatan kiamat daripada mempersiapkan bekal untuk menghadapi kiamat.
Bohong jika mereka mengatakan takut dengan kedahsyatan hari kiamat, sebab di handphone-handphone mereka masih tersimpan film-film porno. Bahkan mereka masih menjadikannya sebagai hiburan di sela-sela kesibukan duniawi mereka.
Jika mereka takut dengan kedahsyatan hari kiamat, mengapa usai jam kerja, mereka tidak langsung pulang ke rumah menemui keluarga yang menunggunya dengan setia, tapi justru janjian dengan teman selingkuhannya yang sama-sama sudah berkeluarga.
Jika merasa takut dengan kiamat, mengapa judi masih mereka jadikan mata pencaharian. Bahkan kereta yang sedang lewat pun, jumlah gerbongnya mereka jadikan taruhan.
Jika merasa takut dengan kiamat, mengapa minum-minuman keras masih mereka jadikan suguhan di berbagai acara. Mereka menganggap mabuk-mabukan sebagai hal yang membanggakan. Mereka menjadikan zina sebagai jalan untuk mendapatkan kepuasan.
Jika merasa takut dengan kiamat, mengapa mereka dengan congkaknya menari-nari di atas penderitaan anak-anak yatim, fakir miskin yang ada di sekitar mereka. Bahkan orangtua yang telah melahirkan, merawat, dan mendidik mereka hingga besar dan menjadi orang yang sukses, mereka telantarkan.
Astaghfirullah! Jika merasa takut dengan kiamat, mengapa, mengapa, dan mengapa mereka masih melakukan hal-hal yang justru mengundang datangnya kiamat. Bibir mereka seribu kali berucap takut akan kiamat, tapi sejuta perbuatan mereka justru mengundang dipercepatnya kiamat. Mereka terlalu was-was membahas kiamat, tapi mereka selalu sibuk melakukan maksiat. Semoga ‘mereka’ bukanlah kita, istri atau suami kita, anak-anak kita, keluarga kita, dan orang-orang sekitar kita. Amin.
KotaSantri.com © 2002-2026