HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Idealnya Seorang Haji
20 November 2009 pukul 15:00 WIB
Dunia Tak Abadi
11 November 2009 pukul 16:30 WIB
Bentuk Pertolongan Allah
2 November 2009 pukul 15:15 WIB
Tengoklah ke "Dalam", Sebelum Bicara
21 Oktober 2009 pukul 16:00 WIB
Dakwah dengan Perbuatan
11 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 29 November 2009 pukul 15:05 WIB

Haji Mabrur = Benteng Krisis

Penulis : Sus Woyo

Rumahnya besar dan bertingkat dua. Tetangga dekatnya pernah memberi tahu kepada saya bahwa pembangunan rumah itu menelan biaya sampai 1 milyar. Ya, pantas saja, karena dua buah penginapannya di sebuah tempat wisata setiap hari dibanjiri tamu. Dan sudah barang tentu, karena laris manis, tempat usaha itu bagaikan mesin uang yang mendatangkan keuntungan bagi dia dan keluarganya.

Tak berlebihan jika banyak orang di tempat saya mengatakan bahwa ia orang terkaya di desa kami. Ia seorang pengusaha jasa penginapan yang pada saat krisis ekonomi seperti ini seolah tak ada problem, apalagi mengalami kebangkrutan. Mobilnya juga sangat bagus dengan memilih merk yang cukup bergengsi.

Beberapa waktu lalu, saya diajak seorang Kiai muda untuk pergi ke rumah orang kaya tersebut. Saya diajak untuk menemani beliau mengajar ngaji. Dengan mengambil kitab rujukan, tafsir Al-Ibriz-nya KH. Musthofa Bisri Rembang. Sebuah kitab tafsir yang ditulis dalam bahasa Jawa pada tahun 60-an, dan cukup populer di kalangan komunitas Islam tradisional.

Setelah pengajian selesai, saya sempat ikut ngobrol dengan anggota keluarga tuan rumah. Kami juga sempat berbicara ke sana ke mari tentang apa saja. Tentang hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, ataupun dunia kontemporer pada umumnya. Yang paling menarik dan berkesan dari obrolan kita malam itu adalah ketika berbicara soal haji.

Karena melihat kemampuan ekonomi keluarga ini yang sudah tak diragukan lagi, iseng-iseng saya bertanya pada dia. "Pak, kapan Bapak mau naik haji?" Dengan tersenyum, ia menjawab. "Sebenarnya, saya sudah mampu untuk berangkatnya, tapi saya belum mampu untuk pulangnya."

Saya sempat tak mengerti dengan perkataan dia. Bahkan Kiai muda dan seorang teman yang duduk di samping saya juga hanya senyum-senyum saja mendengar kalimat dari tetangga saya yang kaya itu. Saya belum mengerti apa maksud yang ia katakan.

Sampai pada akhirnya ia menerangkan kepada kami perihal kalimat itu. Bahwa secara ekonomi, ia sudah mampu untuk beribadah ke tanah suci. Dalam arti mampu membiayai perjalanannya ke sana. Tapi ia merasa belum mampu pada saat pulangnya.

Kata dia, ia merasa masih senang hura-hura. Masih senang bergaya anak muda. Masih senang melirik kanan dan melirik kiri kepada lawan jenisnya. Dan bagi dia, karakter seperti itu belum sesuai dengan karakter seseorang yang baru pulang dari tanah suci.

Pendek kata, ia mampu membeli peci putih dan jubah putih di tanah suci, tapi ia merasa belum mampu untuk menjalankan hakekat yang ada dalam peci dan jubah putih itu. Sebab, idealnya seseorang yang baru saja menunaikan ibadah haji harus bisa mengaplikasikan ritual haji di tanah air sendiri.

Dan -barangkali- dalam rangka mempersiapkan pergi ke tanah suci kelak, sekaligus "mampu untuk pulangnya", saat ini keluarga orang kaya itu rajin mengadakan pengajian mingguan di rumahnya dengan mengundang tetangga-tetangga sebelah. Dengan pembicara yang dipanggil khusus ke rumahnya.

Sebuah awal yang baik, sebab kita sudah tahu bahwa ibadah haji itu bukan hanya karena mampu secara fisik dan ekonomi saja, tapi kemampuan ilmu keislaman justru tak kalah pentingnya. Sehingga jika unsur-unsur itu terpenuhi, insya Allah bisa meraih haji mabrur, dan mampu mempertahankan mahkota kehajiannya setelah sampai di tanah air.

Dan semoga ia sedang memulai untuk menuju hal seperti itu, dengan harapan juga, tetangganya yang masih miskin ikut kecipratan kemabruran hajinya kelak. Jika seorang haji bisa memberi kemanfaatan kepada sekelilingnya, tak mustahil jutaan haji di Indonesia bisa menjadi benteng krisis. Tak hanya krisis ekonomi saja, tapi krisis ahlak yang makin tak tertahankan memasuki dunia modern ini.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Prof | Cloth Design
Moga KotaSantri.com bisa jadi situs Jejaring yang Populer n meng-Global! Amin!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2005 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels