
Pelangi » Refleksi | Sabtu, 21 November 2009 pukul 15:15 WIB
Penulis : Mundzakir
"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir." (QS. Al-Hasyr : 21).
Begitulah firman Allah yang wajib kita yakini. Bersyukur sekali sebagai seorang hamba kita masih diberikan pentunjuk berupa Al-Qur’an dengan segala kemuliaannya. Ia pun senantiasa menemani diri disaat orang lain tak peduli dengan kondisi diri kita sendiri. Misalkan kita mengalami kegalauan hati, ketika kita baca Al-Qur'an, maka akan terasa tentram dalam hati ini.
Sungguh dahsyatnya Al-Qur’an jika kita mau menelaah ayat di atas. Gunung saja bisa pecah belah. Dan Hanyalah manusia yang Allah percaya untuk senantiasa bersamanya (Al-Qur’an). Indahnya bahasa Al-Qur’an yang tak dapat satu penyair pun yang bisa menandingi indahnya runtunan bahasa Al-Qur’an.
"Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-A’raf : 204).
***
Kala itu, diriku sedu dengan pandangan suram seolah kehilangan sesuatu. Tetesan air mata pun mengalir deras saat kudengar seorang saudara meninggal dunia. Jarak yang jauh seolah tak memungkinkan aku untuk melihat yang terakhir kali atau bahkan ikut menguburkan jasadnya. Tubuh menjadi lemas dan tak berdaya, kala itu diriku memang shock dan seolah sulit untuk berfikir. Kulihat tumpukan kitab-kitab di kost-ku. Di posisi teratas pun kulihat ada Al-Qur’an yang seolah ia mempersilahkan diri ini untuk dibaca.
Di keheningan malam, tepatnya sepertiga malam, aku pun masih tersedu teringat berita bahwa saudaraku telah meninggal. Bergegaslah aku usap air mataku dengan basuhan air wudhu dan menyambut ajakan Al-Qur’an. Aku mulai membukanya, tepat di Surah Ali Imran Ayat ke 118. Baru aku baca 3 ayat, tiba-tiba handphone-ku berbunyi tanda sebuah SMS. Entah kenapa, aku tiba-tiba mendahulukan membaca SMS daripada melanjutkan tilawah.
“Mas, tolong tilawah di sampingnya.”
“SMS yang ngaco. Gak mungkinlah, masa orang mati bisa mendengarkan tilawah dan gak mungkin aku di sampingnya, lagi pula kan diriku berjauhan dengan jenazahnya,” gumam diri dalam hati.
SMS itupun tak aku balas dan aku gak peduli. Tiba-tiba terdengar telepon dari nomor yang sama. Akhirnya aku berfikir, mungkin yang dimaksud adalah tilawah yang mengantar kepergiannya. Lalu kuangkat telepon itu dan tak sepatah kata pun kuucapkan kecuali lantunan tilawah, berlanjut terus tanpa mempedulikan HP-ku. Baru sampai ayat yang ke 145, kulihat layar HP-ku nyala tanda ada pesan masuk.
“Mas, jasadnya mengeluarkan air mata. Biarkan dokter periksa ya.”
Tanpa kupedulikan sampai di akhir tilawahku, aku baru berfikir, kok aneh ya orang mati mengeluarkan air mata? Andaikan aku di sampingnya, pasti akan kulihat keadaannya. Gak lama kemudian, kokok ayam mulai terdengar tanda adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang. Lantas aku bergegas persiapan ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Seusai shalat subuh, aku mendapatkan kabar bahwa “dia masih dikaruniakan hidup” walau kondisinya masih kritis. Alhamdulillah, semoga aku masih bisa berjumpa denganmu, wahai sahabatku.
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran : 145).
Sebuah hikmah yang tak akan terlupakan. Hanya Dia-lah yang menghidupkan dari yang mati dan mematikan dari yang hidup. Bikin Hidup lebih Hidup dengan Al-Qur’an.
KotaSantri.com © 2002-2026