|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|





Jum'at, 20 November 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Sus Woyo
Ketika teman sepermainannya bisa meneruskan sekolah ke SMA, ia tidak bisa karena kondisi orangtuanya yang tidak mampu. Ia ikut saudara ibunya yang sudah mapan di Jakarta. Di ibukota itulah ia mulai bekerja. Mula-mula ikut membantu saudaranya yang membuka usaha dagang.
Sejak pindah bekerja di rumah seorang keturunan Arab, niatnya untuk beribadah haji tiba-tiba muncul. Tapi tentu saja ia sangat menyadari, bahwa sebagai seorang sopir, kemungkinannya untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, sangat tipis. Karena butuh biaya banyak.
Tiga tahun bekerja di Jakarta, ia memutuskan untuk pulang. Niatnya untuk naik haji tidak surut. Ia segera mendaftar sebagai seorang calon TKI ke Arab Saudi. Alasannya, dengan menjadi seorang TKI ke Arab Saudi, kemungkinannya untuk beribadah haji lebih besar. Karena sudah berada di kawasan tanah suci.
Uang dibayarkan, 'medical check' dilaksanakan dan proses menunggu pun dimulai. Tunggu punya tunggu, visa bekerja di luar negeri tak juga turun. Ternyata, informasi selanjutnya yang didapat, uang yang seharusnya sudah masuk PJTKI itu dimakan calo di daerah. Ia gagal ke Arab Saudi. Gagal pula keinginannya untuk beribadah haji.
Tak surut semangatnya. Gagal ke Arab Saudi, ia mencoba mendaftar ke Brunei Darussalam. Kali ini tidak ada halangan yang serius. Dua tahun bersama saya di Brunei. Sekembali dari negeri Sultan itu, niatnya untuk bekerja sebagai sopir di tanah suci tidak kendor.
Ia mencoba mendaftar lewat PJTKI lain ke negeri raja Fahd itu. Namun kali ini pun ia gagal lagi. Sebab waktu itu, di Timur Tengah situasi politik sedang menghangat, karena invasi Amerika ke Irak.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, ia kembali ke Brunei. Niat haji tak juga luntur. Bahkan tambah menggebu. Namun lagi-lagi niat itu pun belum juga terlaksana. Kali ini, calon isterinya yang sedang bekerja sebagai TKW di Singapura, mengajaknya untuk menikah. Musim haji tahun lalu pun ia belum terkabul untuk bekerja di Arab Saudi.
Setelah menikah, niatnya ziarah ke tanah suci sembari jadi TKI, ternyata tidak pudar. Ia justru makin menggebu, dan setelah menikah nanti akan langsung ke sana bersama sang isteri. Namun kali ini kendala datang justru dari isterinya sendiri. Ia tidak mau bekerja di Arab Saudi, dengan alasan majikan di sana cenderung lebih keras ketimbang di negara-negara lain.
Dia pasrah kepada Allah. Niatnya menziarahi makam Rasul yang ia cintai belum terkabul. Saat berjumpa dengan saya beberapa waktu lalu, ia berkomentar tentang belum berhasilnya ke tanah suci itu. Kata dia, "Ternyata masih banyak sekali bentuk ibadah lain yang belum bisa saya kerjakan dengan baik. Saya akan mantapkan dulu ibadah harian saya sebelum kelak bisa ke tanah suci. Sebab setelah saya teliti sendiri, ibadah harian saya masih berantakan dan seenaknya."
Kalimat itu sangat sederhana, tapi jika direnungkan, ternyata betapa dalam maknanya. Ia mengatakannya kepada saya nyaris seperti berkelakar, namun setelah saya pikir rupanya merupakan bentuk kritik membangun juga kepada kita yang belum bisa melaksanakan ibadah haji.
Memang idealnya, atau paling tidak -alangkah baiknya-, sebelum naik haji kita sudah terbiasa mantap dengan ibadah-ibadah harian lainnya setiap hari di rumah. Sehingga pada saat kita sudah mampu memenuhi panggilanNya, insya Allah kita bisa dengan mudah melaksanakan rukun dan sunnahnya ibadah haji.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.