Pelangi » Refleksi | Jum'at, 13 November 2009 pukul 16:00 WIB

Mental Terjajah?

Penulis : Lizsa Anggraeny

Ada yang menarik dan tak habis untuk dipikirkan. Kenapa sebagian besar istri atau suami yang notabene orang Indonesia, ketika menikah dengan orang Jepang, begitu sangat 'bangganya' jika bisa berbicara bahasa Jepang? Dalam setiap kesempatan, setiap waktu, sepertinya lebih senang berbahasa Jepang dibandingkan bahasanya sendiri. "Sang Jepang" tak bisa bahasa Indonesia? Nggak masalah. Yang jadi masalah adalah bagaimana caranya agar "Sang Indonesia" harus bisa berbahasa Jepang. Walau masih blepotan, yang penting bahasa Jepang!

Tak jarang karena masalah bahasa, perseteruan dalam rumah tangga terjadi. Intinya sama, merasa tak dihargai. Padahal kalau mau berlapang dada, perseteruan tersebut sebagian besar mungkin terjadi karena tulatitnya bahasa.

Yang sangat aneh plus ajaibnya, meski tulatit bahasa antar suami istri sering terjadi, orang Indonesia selalu mau 'kalah' dalam berbahasa. Memaksakan diri berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang dengan sang anak, walau bahasa Jepang yang dikuasai masih pas-pasan. Kenapa dikatakan memaksakan diri? Karena saya yakin, ada beberapa bahasa Indonesia yang tidak mungkin terucapkan dalam bahasa Jepang. Terutama masalah bahasa yang berhubungan dengan perasaan. Bahasa Jepang, umumnya minim dengan bahasa-bahasa yang berhubungan dengan perasaan atau hati.

Jika menilik ke masa depan, sayang sekali jika sang anak yang memiliki bapak/ibu Indonesia tapi tak bisa bicara bahasa Indonesia. Terutama buat yang muslim, bagaimana menerangkan atau mengajarkan agama Islam pada anak-anak? Menggunakan bahasa Jepang standar saja kadang merasa kerepotan, apalagi ketika akan menerangkan Islam yang memiliki kosakata khusus, tentu makin sulit. Bagaimana menerangkan Allah? Nabi? Rasul? Malaikat? Shalat? Puasa? Zakat? Dalam bahasa Indonesia (bahasa sendiri) saja kadang sulit mengerti, apalagi menggunakan bahasa Jepang.

Belum lagi buku-buku Islam anak-anak berbahasa Jepang, sangat sulit didapatkan. Sayang beribu sayang jika anak kita tumbuh dengan kering rohani. Tidak diberi bekal pengenalan Islam sejak dini, karena ketidakberdayaan bahasa. Penyesalan yang tak mungkin dibayar dengan apa pun, penyesalan yang mungkin akan dibawa sampai maut menjemput kita. Na'udzubillahi min dzalik.

Mental terjajah? Hmm.. Apa karena Indonesia pernah dijajah Jepang, sehingga masih menyimpan mental terjajah? Ke mana hilangnya harga diri? Apa-apa yang datangnya dari Jepang terasa bagai propaganda yang indah. Tentunya termasuk bahasa, mahir berbahasa asing (baca : Bahasa Jepang) tentu saja bagus. Namun sesuaikan kemampuan berbahasa Jepang tersebut dengan situasi dan kondisi. Tak perlu tabrak lari, sikat habis. Mentang-mentang nikah dengan orang Jepang atau karena tinggal di Jepang. Maunya ber-casciscus Jepang terus. Sampai bermimpi pun tetap ingin berbahasa Jepang.

Benar kata pepatah, "Jangan kacang lupa kulitnya." Jangan mau punya mental terjajah.

KotaSantri.com © 2002-2026