Pelangi » Refleksi | Kamis, 8 Oktober 2009 pukul 16:09 WIB

Imam Shalat Kami

Penulis : Eko Prasetyo

Sosok seseorang memang tidak bisa dilepaskan dari penampilannya. Wajar. Sebab, hal pertama yang dinilai dari seseorang itu adalah penampilannya. Namun, itu pun tidak menjamin bahwa orang tersebut baik. Sebab, kepribadian pun turut memengaruhi penilaian orang lain. Karena itu, ada pepatah bahwa jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Benar! Sebab, kita tidak akan bisa mengerti karakter seseorang hanya dari melihat luarnya saja.

Tidak jauh dari kantor saya, terdapat gedung perguruan tinggi swasta. Di situ, ada bangunan masjid yang sekarang dalam proses renovasi. Meski begitu, masjid tersebut sering digunakan untuk shalat Jum'at dan pengajian mahasiswa setempat. Tidak hanya mahasiswa yang shalat di situ, tapi juga karyawan-karyawan di gedung perkantoran tempat saya bekerja. Jika petang menjelang, suara muadzin mulai mengumandangkan adzan Maghrib yang terdengar sampai ruang kerja kami. Suaranya lantang dan indah. Mungkin, muadzin tersebut tartil dalam membaca Al-Qur'an.

Tiap ashar sesampai di kantor, saya menyempatkan untuk shalat di masjid tersebut. Pada saat bersamaan, ada seorang petugas kebersihan yang membersihkan dan mengepel masjid itu. Dia memang sering terlihat membersihkan masjid pada pagi atau sore hari. Mungkin saja dia berasal dari luar Surabaya. Sebab, tidurnya pun di situ. Namun, tiap Minggu dia tak tampak, mungkin pulang ke rumahnya.

Rajin, itulah kesan saya kepadanya, laki-laki yang sering mengepel masjid itu. Usianya mungkin sekitar 40 tahunan. Saya sendiri tak seberapa mengenal beliau. Jikalau hanya menilai sosok seseorang dari luarnya, tentu kita bisa saja tertipu. Begitu pula saya terhadap bapak yang sering membersihkan masjid itu. Awalnya, saya tak begitu memberikan perhatian lebih kepadanya. Sebab, saya jarang mengikuti shalat Maghrib berjama'ah di masjid tersebut, lebih sering di mushala kantor.

Namun, manakala saya untuk kali pertama mengikuti shalat Maghrib berjama'ah di masjid itu, hati ini terkesiap. Rupanya, bapak yang sering mengepel masjid kampus tersebut adalah muadzin yang sering mengumandangkan adzan Maghrib. Dialah pemilik suara indah saat beradzan itu.

Belum berakhir sampai di situ, saya dan beberapa rekan kantor berdiri di deretan shaf pertama. Tak lama kemudian, bapak yang menjadi muadzin tadi maju di posisi paling depan. Ya, dia mengimami shalat Maghrib berjama'ah tersebut. Mulai takbiratul ihram, bacaan Al-Fatihah, dan surat selanjutnya, dilantunkan juga dengan merdu. Indah. Membuat kami khidmat mengikuti tiga rakaat cinta tersebut. Subhanallah.

Mulai saat itu sampai hari-hari selanjutnya, saya sering mengikuti shalat Maghrib berjama'ah di masjid kampus itu. Sama sekali, saya tidak menyangka bahwa bapak yang sehari-hari mengepel masjid tersebut adalah imam shalat kami. Kalau saja waktu tak mempertemukan saya yang berdiri pada shaf di belakang imam shalat itu, mungkin si pengepel itu masih dipandang sebagai pengepel. Namun, tidak petang itu. Tiba waktu bersujud. Saat kening masih menyentuh sajadah, sebelum tubuh ini duduk bertahiyat pada rakaat terakhir, saya berdo'a memohon ampun.

Allah menyadarkan saya dan mengingat kembali pada satu hadits Nabi SAW, "Pandanglah orang yang ada di bawah kalian dan janganlah memandang orang yang di atas kalian. Sebab, sesungguhnya hal tersebut lebih mendorong kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim).

Ini adalah agama yang lurus dan tak ada keraguan di dalamnya. Setiap denyut nadi kehidupan membawa hikmah yang bisa dipetik manfaatnya. Angin berdesir, menjamah hati lalu mengetuk kalbu untuk tak alpa mengucap syukur kepada Ilahi. Laki-laki muadzin sekaligus imam shalat tadi membuka mata hati ini agar tak mudah meremehkan saudara seiman meski hanya seorang tukang pel sekalipun. Sebab, Allah tak melihat hambaNya dari pakaian dan kedudukannya, tapi hati dan ketakwaannya. Langit belum menampakkan cahaya rembulan pada petang itu. Tapi, terang hati ini sudah cukup karena hikmah dari bapak imam shalat itu. Cahaya hati memang tak tampak, tapi terangnya mampu mengunduh rasa haru dan ketenangan batin.

KotaSantri.com © 2002-2026