
Pelangi » Refleksi | Rabu, 23 September 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Selama lebaran kemarin, khususnya hari pertama lebaran, saya benar-benar tidak makan nasi. Sehari penuh, saya hanya makan ketupat sampai empat kali. Ya, karena ketika bersilaturrahim ke rumah saudara, saya disuguhin ketupat. Sebenarnya saya berusaha untuk tidak makan ketupat terlalu banyak, tapi karena merasa tidak enak ditawarin terus, akhirnya saya memakannya walaupun sedikit.
Keesokan harinya, entah kenapa, pencernaan saya menjadi terganggu. Rasanya tenggorokan menjadi tidak enak, apalagi ketika menelan makanan. Perut saya pun seperti melilit. Dan tentunya, hal ini mengakibatkan selera makan saya berkurang. Lagi-lagi, di hari selanjutnya, karena stok ketupat masih tersedia, mau tidak mau, saya harus memakannya. Mubadzir kalau sampai dibuang.
Melihat fenomena ketupat di hari lebaran, seperti yang saya alami, adalah merupakan sesuatu yang wajar. Tapi akan sangat tidak wajar jika sampai berlebihan. Faktanya, di beberapa rumah, banyak ketupat dan ‘teman-temannya’ yang tersisa. Entah sisanya tersebut dimasak lagi agar masih bisa dimakan atau dibuang begitu saja. Yang pasti, sampai beberapa hari setelah lebaran, saya masih melihat sisa-sisa dari makanan khas lebaran tersebut.
Saya jadi berpikir, kalau sampai tersisa begitu, apalagi kalau sampai dibuang, mungkin kita termasuk orang yang tidak bersyukur, karena telah menyia-nyiakan nikmat Allah SWT begitu saja. Tapi, alangkah lebih baik jika kita memasak ketupat dalam jumlah yang banyak, kemudian mengajak mereka yang kurang beruntung, seperti anak yatim dan dhuafa, fakir miskin di sekitar kita, untuk makan ketupat di rumah kita. Atau bisa juga kita yang mengantarkan ketupat ke tempat tinggal mereka. Dengan demikian, ketupat yang kita masak akan lebih bermanfaat. Insya Allah.
"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raaf : 31).
KotaSantri.com © 2002-2026