Pelangi » Refleksi | Sabtu, 19 September 2009 pukul 15:00 WIB

Tanggung Jawab Ukhuwah

Penulis : Rifatul Farida

Peristiwa gempa kemarin merentetkan guratan-guratan rasa yang cukup berarti di lahan sanubari. Memberi pelajaran sangat berharga tentang siapa sejatinya kita dan di mana kita berada. Tentang rapuhnya rasa aman dari segala musibah dan tentang hidup yang bisa berakhir kapan saja tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

Terlihat jelas kepanikan yang luar biasa, dari hati manusia yang terefleksikan lewat ekspresi wajah dan laku. Dan satu kata yang kemudian tertanam di benak; menyelematkan diri sendiri! Atau barangkali adakah yang saat itu juga berpikir untuk menyelamatkan yang lainnya? Mengutamakan orang lain terlebih dahulu?

Mungkin ada, tapi sepertinya fakta dengan gamblang telah menjelaskan lebih banyak yang mementingkan keadaan diri sendiri. Manusiawikah? Tentu saja, ya. Hanya saja sebuah rasa itsar (mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri) atau menimal pembukti syarat merasakan manisnya iman dengan memperlakukan saudara sendiri selayaknya diri sendiri terjawab sudah ada tidaknya tersemat di hati. Meninggalnya beberapa orang yang terinjak-injak di tangga sebuah kampus justru dikarenakan kepanikan teman-temannya sendiri yang berebut menggunakannya sebagai jalan turun untuk kemudian ke luar.

Teringat akan peristiwa belasan abad silam, sebuah kisah berharga yang mendecakkan kekaguman hati. Adalah perang Yarmuk, perang yang terjadi di tahun 13 H / 634 M antara kaum muslimin melawan pasukan Romawi (Bizantium), negara super power kala itu. Romawi memiliki pengalaman perang yang mumpuni, peralatan perang yang lengkap, logistik lebih dari cukup, 240.000 pasukan, jumlah yang jauh lebih banyak dibanding kaum muslimin yang hanya 45.000. Ya, 5 : 1. Namun perang itu dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin, dengan izin Allah SWT.

Usai perang, tergeletaklah beberapa pejuang Islam dengan badan penuh luka. Mereka adalah Ikrimah bin Abi Jahal, yang di sekujur tubuhnya terdapat tidak kurang dari 70 luka, Al-Harits bin Hisyam (paman Ikrimah), dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah (dalam riwayat lain Suhail bin ‘Amru).

Saat ketiganya dalam keadaan kritis dan kehausan, datanglah seseorang membawa air. Ketika air akan diberikan kepada Al-Harits dan hampir meneguknya, ia melihat Ikrimah yang sedang kehausan, maka dia berkata, “Bawa air ini kepadanya!”

Air beralih ke Ikrimah putra Abu Jahal, ketika ia akan meneguknya, dilihatnya Ayyasy yang juga dalam keadaan haus, maka dia berkata, “Berikan ini kepadanya!”

Air beralih kepada Ayyasy. Namun sebelum sempat air diminum, takdir telah mendahuluinya. Ayyasy syahid sebelum meminum air itu. Bergegas sang pembawa air kembali kepada Al-Harits dan Ikrimah, akan tetapi ketika ditemui, keduanya juga telah syahid.

Mereka, telah memberikan teladan kepada generasi selanjutnya bagaimana seharusnya memperlakukan saudara sendiri. Manusiawikah? Tentu saja, ya, ini jauh lebih manusiawi. Ada rasa senasib sepenanggungan yang dirasakan sama. Begitu indahnya ukhuwah ketika itsar terengkuh di dalamnya.

Kembali pada peristiwa gempa yang telah mengguncang bumi kita berpijak kemarin. Sebuah pengalaman berharga yang sudah seharusnya menjadi ibrah bagi setiap diri. Mari kita raba sensitivitas rasa yang seharusnya ada di setiap hati kita. Menakar kembali tentang rasa kepedulian terhadap sekitar. Itu yang dekat di mata, tapi ternyata lebih terasa jauh di hati.

Lalu, bagaimana yang jauh di mata? Ambil saja contohnya Negara para Nabi, Palestina. Kepanikan yang kita rasakan beberapa menit di peristiwa gempa lalu telah dirasakan hampir setiap hari dan bahkan setiap saat oleh saudara kita di sana sejak dari puluhan tahun yang lalu. Ya, puluhan tahun.

Setiap ada dengungan pesawat yang lewat di atas kota atau desa mereka adalah sebuah sinyal kematian, karena sangat mungkin dengungan itu membawa berkilo-kilo bom dan menjatuhkannya kapan saja dan di mana saja, meluluhlantakkan setiap yang ada. Dan mereka, warga sipil itu, tak mampu berbuat apa pun kecuali pasrah akan takdir dalam permohonan do'a keselamatan.

Masihkah mereka yang jauh di mata akan sama pula jauh di hati? Sementara yang dekat di mata pun masih dipertanyakan keberadaannya di dalam setiap hati kita.

Ah… Semoga saja, sekelumit rasa panik dalam peristiwa gempa kemarin mampu mengevaluasi setiap hati tentang eksistensi kita dan rasa ukhuwah, menjadikan kita lebih mengerti tentang keadaan sauadara-saudara kita di bumi belahan lain yang masih saja dikebiri hak-haknya. Untuk kemudian membangkitkan kembali rasa solidaritas kita. Hingga benar-benar mampu menjadi seperti layaknya yang disabdakan sang Nabi SAW, bahwa “Orang-orang muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit; jika kepalanya sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR. Muslim).

Atau minimal mampu mengevaluasi diri tentang aplikasi hadits yang menjadi pondasi ukhuwah dalam kehidupan kita, bahwa “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak mendzalimi atau mencelakakannya. Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya sesama muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dari Abdullah bin Umar RA).

Wallahu a'lam.

KotaSantri.com © 2002-2026