
Pelangi » Refleksi | Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Sebuah anugerah yang sangat luar bisa ketika sampai detik ini Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk beribadah kepadaNya, di tengah mobilitas kesibukan yang menguras energi, konsentrasi, dan jatah waktu berporsi besar dalam tuntutan rutinitas hidup yang terjalani. Dan selayaknya sebagai seorang muslim, menjadikan setiap waktu dan kesempatan yang ada dalam ketaatan karenaNya.
Ramadhan tinggal dalam hitungan hari akan segera menyambangi, mengiring waktu yang sedang kita runut. Tamu agung ini pun sudah tercium aromanya di beberapa kesempatan kajian maupun tabligh akbar bertemakan tentang persiapannya. Bahkan mulai dibahas keutamaannya.
Sejenak, di tengah hiruk pikuk gemuruh panas pulau Batam, ada jiwa yang menggejolak dalam keteraturan gerak. Berjibun agenda dalam bulan mulia telah menggunung tinggi di depan mata. Tentu saja setiap amanah bukanlah hal kebetulan yang harus diemban, namun tak lain adalah sebuah tanggung jawab yang harus diejawantahkan ke dalam aplikasi wujud amal nyata, yang terkonsep dalam amal jama’i.
Menjadi panitia Ramadhan, dengan agenda tarhibnya yang memadat. Mewajibkan kita untuk selalu mempunyai tenaga ekstra dibanding yang lainnya. Dan adalah suatu kepuasan tersendiri dalam balutan penjagaan niat hanya karena ridhaNya (insya Allah), ketika amanah-amanah yang berada di aktivitas Ramadhan terjalani dengan baik, sukses, dan mencapai target-target yang telah ditentukan sedari awal, atau minimal tak ada kendala yang berarti.
Namun, tunggu! Bagaimana dengan pencapaian agenda pribadi Ramadhan sang panitia?
Adalah kemudian hal yang menjadi polemik ketika dengan alasan mengurusi berjibun agenda Ramadhan, kita mengorbankan agenda pribadi kita di bulan yang juga berjuluk syahruttarbiyah ini. Ada kalanya karena kesibukan amal jama’i yang menyita waktu dan konsentrasi, kita secara disadari atau tidak disadari mengabaikan agenda pribadi, untuk kemudian di ujungnya menyodorkan berbagai alasan untuk pemakluman-pemakluman terhadap diri sendiri terhadap capaian Ramadhan pribadi kita yang tidak sesuai target (baca : gagal).
Aktif dalam kepengurusan Ramadhan adalah hal yang luar biasa, karena ada kerelaan dan kerja nyata di sana. Namun menjadi hal yang bermasalah kalau ternyata justru menjadi penyebab utama terteternya agenda pribadi kita. Bagaimana mungkin kita menjadi panitia tadarus 3 juz khatam di bulan Ramadhan, sementara 1 juz pun secara pribadi kita tak punya cukup waktu untuk mengkhatamkannya. Bagaimana mungkin kita mengurusi agenda i’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan, sementara kita melewatkannya karena pontang-panting ke sana ke mari mempersiapan agenda pasca Ramadhan, seperti takbir keliling, tabligh akbar, dan Idul Fitri.
Ternyata ada yang salah dari manajemen diri kita sebagai seorang pengurus masjid, aktivis dakwah, panitia kegiatan, atau apa pun namanya. Ada porsi-porsi waktu yang belum bisa kita bagi secara tepat dan adil.
Menjadi konsekuensi yang tak mungkin dinafikkan ketika kita berkomitmen mengemban amanah dakwah ini, maka ada pengorbanan-pengorbanan yang harus disumbangsihkan. Namun bukan berarti membenarkan diri kita untuk tidak berlaku tawazun (seimbang) apalagi mendzalimi diri sendiri. Bukankah Allah SWT tidak suka orang yang dzalim?
Ramadhan akan segera menampakkan kemilau cahayanya. Semoga Ramadhan yang lalu cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk mengkalkulasi kembali target-target amal kita, baik amal pribadi maupun amal jama’i. Mari, tetap menjadi pribadi yang muslih, shalih, dan menshalihkan. Merengkuh keberkahan di bulan Ramadhan dalam muara niat karenaNya.
Marhaban ya Ramadhan.
KotaSantri.com © 2002-2026