
Pelangi » Refleksi | Senin, 10 Agustus 2009 pukul 16:15 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Menjadilah indah, maka engkau akan melihat semuanya menjadi INDAH. Dengarkan Hang FM jam 9.30-10.00 ada SALPA bersama Ariel. Syukron.
Begitulah SMS yang saya terima pagi ini, saya ketik ulang tanpa mengurangi satu huruf pun. Seorang Broadcaster sejati yang telah mengenalkan saya pada dunia penyiaran Radio.
Diam. Ya, saya hanya diam, bukan karena SMS itu, tapi karena diri sendiri yang sedang ingin diam. Dan entahlah, tiba-tiba saja ada perasaan bahwa saya telah tertinggal jauh di suatu tempat nyaman yang cukup kalau hanya untuk sekedar memanjakan jiwa rapuh saya. Tiba-tiba saja saya melihat sosok-sosok akrab yang saya kenal telah melesat begitu cepat dalam bilangan waktu, berproses sempurna menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa.
Saya memanggilnya Bang Ariel, seorang lelaki sederhana berpotensi prima. Hanya seorang lelaki biasa, pun menjalani kehidupan kesehariannya dan cara berpikir juga seperti lelaki pada umumnya. Bedanya, dia adalah seorang broadcaster berbakat yang tak perlu diragukan lagi kelihaiannya menguasai emosi pendengar hanya lewat microfon di ruangan tenang. Itu yang kemudian menjadi istimewa di mata saya.
Sekitar sebulanan yang lalu, kami bertemu di acara nasional “Evaluasi Hasil Pemantauan Penyiaran” yang di adakan oleh KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan KPID (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah) Batam. Waktu itu saya terkejut karena dia mengenakan identitas salah satu stasiun radio dakwah yang berada di Batam, dan ternyata memang pada kenyataannya dia telah bergabung dengan Radio tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan SMS tersebut? Hubungannya adalah ada akhir kata “syukron”, sebuah kata yang sangat menjadi perhatian saya karena mengganti kata "thank’s" dan "trim’s" seperti yang selama ini saya terima. Terlihat sepele, hanya sebuah kata basa-basi bermakna sama, terima kasih. Tapi tidak bagi saya, karena satu kata itu secara gamblang telah menunjukkan seperti apa kepribadiannya kini, seperti apa pola pikirnya kini.
Seorang sahabat lagi, telah menjadi lebih baik dan lebih baik. Ada nilai signifikan yang cukup memberi arti untuk proses upgrade diri menjadi manusia bumi yang melangit.
Sementara saya, di sini, sepertinya tak ada yang pernah berubah. Kalaupun toh ada, itu tak lebih hanya proses “seleksi alam” yang tak pernah menyita penuh energi dan konsentrasi saya.
Dan kini, saya ingin segera berlari, ingin segera mengangkasa. Tapi kaki saya, sayap saya? Semoga saja belum karatan, karena sudah lumayan lama tak pernah saya maksimalkan fungsinya untuk menapak dan mengepak!
***
Ya, Ketika merasa hidup terlalu indah untuk dibiarkan mengalir begitu saja.
KotaSantri.com © 2002-2026