
Pelangi » Refleksi | Selasa, 21 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Eko Prasetyo
Kawasan sekitar Raya Darmo dan Wonokromo sehari-hari memang amat padat. Jika sore, arus lalu lintas tak jarang macet dan tersendat. Jika sore melintas di depan Masjid Al-Falah di Raya Darmo, saya teringat kejadian dua tahun yang lampau. Seorang laki-laki separo baya bertampang lusuh dan menggelar tikar di pinggir trotoar, kini tak pernah saya jumpai lagi.
Awalnya, saya menyangka bahwa orang itu adalah gelandangan ataupun pengemis. Sebab, hampir tiap sore saya melihatnya di tempat yang sama. Namun, sore itu, sore yang kesekian saya melihatnya, ada hal yang terus membekas di hati saya hingga sekarang.
Kumandang adzan Ashar bergema sayup-sayup dari Masjid Al-Falah. Terdengar indah dan menggugah hati untuk segera menghadap Allah. Kebetulan, saat itu saya membelokkan motor ke masjid tersebut untuk mengikuti shalat Ashar berjama'ah. Suasana teduh dan basuhan air wudhu membuat wajah segar kembali karena cuaca di Surabaya yang amat terik terasa membakar kulit waktu itu.
Usai shalat, saya bermaksud kembali ke kantor. Tegukan air mineral terasa segar membasahi kerongkongan yang haus. Cuaca sore itu benar-benar panas. Tak terbayang, jika panasnya surya di dunia saja sudah amat menyengat seperti ini, lantas bagaimana bila manusia sudah berada di Padang Mahsyar saat matahari hanya berjarak satu jengkal di atas kepala? Mahasuci Allah dengan segala kebesaran dan keagunganNya.
Bermaksud menggeber motor bergegas kembali, di seberang trotoar dekat POM bensin, saya tak sengaja melihat laki-laki paro baya yang biasa saya jumpai sedang tegap berdiri. Tetap sama dengan penampilannya yang agak dekil, namun gelaran tikarnya menjadikan orang itu berbeda daripada biasanya.
Entah, terlepas orang tua itu gelandangan atau bukan, namun aksinya saat itu membuat hati saya bergetar kagum. Saya tak menyangka dan tak percaya ketika melihat orang tua itu sedang shalat. Detik demi detik berlalu, saya tak lagi berselera mempercepat laju motor saya. Dari kejauhan, saya termangu dan merasa bersalah.
Mungkin, dia miskin. Atau, barangkali dia memang gelandangan karena pakaiannya memang sungguh tak layak untuk dipakai. Tapi, perbuatannya mampu membuat saya tercenung.
Di tengah lalu lalang padatnya arus kendaraan, di tengah padatnya aktivitas kerja, ada hamba Allah yang tak alpa menunaikan kewajibannya, shalat. Kadang, dengan alasan sibuk dan menuntaskan pekerjaan, kita lalai dan mengabaikan waktu shalat. Dunia serasa mendapat tempat istimewa ketimbang perbuatan yang pertama dihisab di akhirat nanti. Slogan waktu adalah uang terkadang membuat kita lengah dan mau diperbudak oleh dunia. Uang dianggap segala dan dipuja bak dewa.
Laki-laki paro baya tadi membawa ingatan ini tatkala saya untuk pertama kalinya mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Al-Akbar. Tak banyak saksi saat itu. Nasihat ustadz yang membimbing saya bersyahadat untuk tidak meninggalkan shalat masih terngiang. Shalat adalah tiang agama. Dan orang yang tidak mendirikan shalat berarti telah merobohkan tiang agama. Saya sujud sesyukur-syukurnya saat menjadi mualaf saat itu. Ini agama yang paling indah dan ajarannya menyentuh serta menyejukkan hati.
Sejak hidayah itu menyapa lewat mimpi di tiga malam berturut-turut, saya makin mantap untuk memeluk Islam dan menjadi umat Rasulullah. Mendengarkan tausyiah dan belajar shalat adalah kenikmatan luar biasa yang saya rasakan dan tak bisa diungkapkan dengan kata.
Sungguh, ketika saya lalai dan mengutamakan pekerjaan ketimbang shalat tepat waktu, saya malu pada laki-laki tua tadi. Bahwa Allah SWT tak pernah melihat hambaNya dari harta dan fisiknya, tapi ketakwaannya. Bukankah sebaik-baik hamba yang mulia di sisi Allah adalah mereka yang bertakwa?
Menatap orang tua tersebut berdiri hingga sujud menghadap kiblat membuat hati saya menjadi gerimis. Mungkin, dia tampak rendah di hadapan sesamanya, namun di hadapan Allah belum tentu.
Senja segera menjelang. Saya kembali dengan berpeluh takjub. Tikar kusam tergelar sebagai sajadah. Wajah lusuh dan mungkin saja menahan lapar terpekur bermunajat. Dia hamba Allah, aku pun hamba Allah. Wajahnya yang tak pernah lagi terlihat di sudut trotoar itu tetap terkenang hingga kini. Semoga Allah melindunginya.
Ampuni kekufuran hamba, Yaa Rahman, Yaa Rahiim... Jadikanlah lidahku terbiasa bersyukur dan mengucap ampunan kepadaMu. Aamiin...
KotaSantri.com © 2002-2026