Pelangi » Refleksi | Ahad, 19 Juli 2009 pukul 17:30 WIB

Jangan Sok Tahu!

Penulis : Teguh Yulyono

Sewaktu ku terbangun dari tidur, jarum jam menunjukan pukul 12:09 waktu Dubai. Setelah kubaca do'a bangun tidur dan merapikan tempat tidur, dengan membaca basmallah, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidurku. Tanpa perlu ke luar kamar, dan bertukar pakaian, ku bisa melangkah ke sana kapan ku mau.

Sewaktu kucoba mengambil sikat gigi dengan menggunakan tangan kiriku, kurasakan nyeri dan linu di antara jari kelingking dan ibu jari. Kupikir, mungkin hanya sedikit salah urat sewaktu tidur lanjutan sehabis Shubuh tadi. Kulanjutkan kegiatan mandi saat itu dan bersiap-siap untuk melakukan Shalat Dzuhur sebelum makan siang.

Rencanaku, setelah shalat, kupakai seragam kerja lengkap dengan sepatu dan tas kesayanganku, yang selalu setia menemani langkah-langkahku menuju tempat kerja di Dubai Airport, di mana kusimpan tanda pengenal kerja, kunci kamar, dan obat-obatan yang harus kuminum dengan teratur sesuai saran dokter. Setelah itu, menuju kantin akomodasi untuk makan siang.

Sekitar pukul 13:00 waktu Al-Qauz, kusantap makan siang dengan lahap, tanpa melupakan bacaan basmallah sebelumnya dan hamdallah sesudahnya. Tak terasa, satu jam sudah berlalu, kini saatnya menaiki kendaraan jemputan ke tempat kami bekerja.

Sesampainya di hotel, kupatutkan diri di muka kaca dan kusimpan tas di dalam lemari khusus untuk karyawan. Kami menyebutnya locker. Kebetulan locker-ku sangat mudah dijangkau dari muka pintu masuk untuk karyawan di lantai dasar. Setelah itu, dengan cepat kupencet lift ke ground floor untuk memulai jam pertama bekerja di Concierge.

Hari itu, Rabu, 8 Juli 2009, manager kami menempatkan ku di sana untuk menggantikan teman-teman yang akan ikut serta acara perpisahan sebagian karyawan di front office yang akan pindah ke cabang baru di Abudhabi. Insya Allah hotel pertama kami di sana akan beroperasi bulan depan.

Jam kedua berlalu, kurasakan ngilu dan nyeri menyergap seketika. Tanpa tanda aba-aba, rasanya begitu menyakitkan. Kupikir karena salah cara ketika memegang kotak yang akan aku angkat. Kupijit-pinjit sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa sakit. Berangsur-angsur rasa itu berkurang. Kuucapkan hamdallah dalam hati.

Sekitar pukul 23:00 waktu jalan Sheikh Zayed, kutuntaskan sembilan jam waktu kerja dengan tanpa kurang apa pun. Kembali kunaiki kendaraan pengantar ke Al-Qauz, ini nama tempat di mana akomodasi kami berada. Setengah jam berlalu dengan cepat dan pintu kamar dengan nomor D 223 terlihat sudah. Itulah nomor kamarku.

Alhamdulilah hari telah berganti dan jarum jam baru menujukan pukul 04:30 waktu Al-Qauz. Kugerakan badan yang masih malas untuk meninggalkan tempat tidur dengan perlahan-lahan.Ketika tangan kiriku mencoba meraih meja kecil untuk menopang gerakan bangunku dari tempat tidur, aku berteriak dengan keras sambil mengucapkan istighfar. Kenapa dengan tanganku, Ya Allah? Kenapa jadi bengkak dan tidak bisa digerakan seluruh jari jemariku?

Dengan segudang pertanyaan yang berkelibat di pikiranku, kuambil air wudhu untuk menunaikan shalat Shubuh. Kualihkan pikiran yang penuh kekhawatiran dengan bermunajat kepada Sang Khalik. Kumohon kesembuhan dan kekuatan lahir dan batin.

Setelah kukompres berkali-kali, kuputusan untuk ke klinik dan diperiksa oleh ahlinya. Berdasarkan informasi perawat di hotel dan dokter Elixir klinik, mereka mengingatkanku akan penyakit lama yang telah sembilan tahun pergi dan menyergap untuk merebut kembali kesehatan dan telah kumiliki.

Aku terkena Asam Urat. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati. Walau dokter menyarankan untuk disuntik, kukatakan dengan sebaik mungkin agar dia mengerti, bahwa aku ingin menyelesaikan puasa sunnahku yang tersisa hanya lima jam kemuka. Jikalau ada alternatif lain, aku sangat bahagia menerimanya.

Dengan bijak ibu dokter menyampaikan saran untuk minum obat saja selama 5 hari kemuka. Jika dalam tempo tiga hari belum hilang sakitnya dan tidak kempis bengkak di tanganku, maka harus segera kembali untuk dites darahnya.

Alhamdulillah tangan kiri ini sudah diberikan kepercayaan sama Sang Pencipta untuk bisa dipergunakan kembali, agar memberikan kebaikan untuk diriku maupun masyarakat pada umumnya, dengan tidak melupakan fitrahku sebagai seorang muslim.

Aku senang bisa mengetik huruf demi huruf lagi, menjadi kalimat yang terangkai dalam bingkai cerita.

Semoga ku bisa mengambil ibrah dari semua kejadian ini. Aku telah diingatkan olehmu, Ya Rahman Ya Rahim, untuk tidak mengambil keputusan berdasarkan asumsi sendiri tanpa ilmu yang tepat.

Ampuni atas kesombonganku, Ya Allah. Memang Hanya Engkaulah Yang Mahatahu.

Dubai Airport 14072009 11:37

KotaSantri.com © 2002-2026