
Pelangi » Refleksi | Ahad, 5 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Eno Karta Susana
Ciri bahwa Allah ridha kepada seorang hamba adalah Allah memberikan rasa sakinah (ketenangan) dalam jiwa seorang hamba, hatinya merasa tegar, ajeg, mantap dengan apa pun kejadian yang Allah berikan, meskipun kejadian itu kelihatannya tidak wajar atau hina dalam pandangan makhluk.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2 : 216).
Seorang sahabat pernah curhat kepada saya, sebut saja namanya Azmi (nama samaran). Tahun kemarin, Azmi mengikuti UN SMA 2008. Saat pelaksanaan UN, teman-teman, guru, dan keluarganya menyarankan untuk mengikuti aturan-aturan tidak lazim yang ditetapkan pihak sekolah, yaitu harus kerja sama dengan sesama siswa saat pengisian lembar jawaban soal-soal UN, tentunya dibantu dengan guru-guru, tetapi Azmi tidak mau mengikuti aturan itu karena Azmi berkeyakinan bahwa hal itu tidak benar, bahkan berdosa.
Singkat kata, tibalah waktunya pengumuman kelulusan UN, dan ternyata Azmi benar-benar tidak lulus, sementara teman-temannya pada lulus. Guru dan teman-temannya datang ke rumahnya untuk memberikan motivasi supaya tidak putus asa dengan ketidaklulusannya.
Ketika menemui dan bincang-bincang dengan Azmi, teman-temannya sangat kaget dan terharu, ternyata Azmi sangat tegar, tidak mengeluh, bahkan ia berkata kepada teman-temannya, ”Prinsipku, apa pun yang terjadi, yang penting Allah ridha dengan jalanku, meskipun harus menelan kenyataan pahit."
Setelah mendengar kata-kata dan prinsip Azmi, teman-temannya yang awalnya ingin memotivasi Azmi supaya tegar, tidak bersedih, justeru sebaliknya, teman-temannyalah yang menjadi terharu, menangis, merasa lemah dengan dirinya sendiri, dan mengacungkan jempol merasa salut dengan prinsip dan kebenaran keyakinan yang dipegang Azmi.
Hikmahnya, selama jalan yang kita tempuh berada di jalur yang benar dan ada dalam ridhaNya, maka janganlah merasa takut dengan apa pun kenyataan (hasil) yang terjadi, karena Allah akan melindungi dan memulyakan kita.
Wallahu a’lam bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026