Pelangi » Refleksi | Ahad, 28 Juni 2009 pukul 16:09 WIB

Pantaskah Menjadi Idola?

Penulis : Teguh Yulyono

Telah 3 hari seorang bintang ternama dengan julukan “King of Pop” meninggalkan dunia fana ini. Tapi misteri kematian dan perjalanan hidupnya masih tetap diperbincangan oleh khalayak ramai. Begitu pula dengan teman-teman di akomodasi tempat kami tinggal, yaitu Al-Qouz, melakukan hal yang sama dan telah menjadikan topik ini sebagai bahan pembicaraan ataupun pembuka sebuah pembicaraan.

Tadi siang pukul 13:26 siang waktu Dubai, di akomodasi sebuah hotel bintang lima ternama yang berlokasi di jalan Sheikh Zayed, sekelompok karyawan yang sedang menikmati makan siang pun menghabiskan waktu makan mereka dengan membicarakan tentang kematian pelantun lagu Thriller dan Billie Jean tersebut. Saya adalah salah satu pendengar setia bagi para penceloteh tersebut.

Ada yang mengungkapkan kepedihan yang mendalam, bahwa “King of Pop” adalah Idolanya. Sang Idola yang telah mengambil sebagian hari-harinya dengan tembang-tembang ternamanya, dari I’ll Be There s.d. Black or White. Dia tahu persis tanggal kelahiran, sejarah kesehatan, perjalanan karier, sampai dengan kisah hidupnya.

Itu salah satu dari sekian milyar umat manusia yang menjadikan Sang Legenda sebagai Idolanya. Ada juga yang memasang posternya dengan bangga di kamar tidur. Dengan alasan tidak bisa tidur tanpa memandang wajahnya dan mendengarkan lagu-lagunya yang menjadi Best Seller dan belum ada satu artis pun yang mampu mematahkan record tersebut.

Saya tidak mengerti mengapa mereka bisa menjadikan Sang Bintang sebagai Idola mereka. Saya tak tahu kenapa pula mereka begitu terkesima dengan kilau Sang Legenda. Saya tak tahu kenapa pula banyak umat muslim yang ikut menangis tersedu-sedu atas kepergiannya. Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, bahwa mengidolakan manusia ciptaan Allah SWT seperti di atas bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang mengkultuskan. Dan Allah SWT membencinya. Kenapa saudara-saudariku seiman mengidolakan makhluk ciptaan Allah SWT yang masih perlu dipertanyakan kwalitas hidup dan manfaat yang pernah dilakukan semasa dia masih hidup?

Saya bertanya ke diri sendiri, ”Adakah manfaat yang saya dapat dengan mengidolakan dia?” Yang saya tahu, Nabi Besar Muhammad SAW adalah contoh teladan dan panutan yang bisa kita jadikan IDOLA. Dari sejarah penciptaan sampai dengan akhir hayatnya, banyak contoh dan teladan yang bisa kita ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap dan akhlak beliau yang mempunyai julukan Al-Amin, orang yang sangat jujur, bisa kita jadikan pegangan dalam berinteraksi dengan makhluk lainnya. Contoh keteladanan beliau sewaktu menjadi pedagang, suami, dan pemimpin. Semuanya pernah diperlihatkan kepada kita walau di masa yang berbeda. Ada banyak buku-buku kumpulan hadits yang mengungkapkan tentang hal-hal tersebut di atas, bisa dijadikan rujukan dalam mengarungi lautan kehidupan.

Saya mencoba mengingat-ingat berita apa saja yang pernah diulas di CNN, majalah, dan koran domestik maupun international tentang penyanyi berkulit hitam ini. Yang bisa saya kumpulkan dari sekian banyak potongan memori puluhan tahun adalah; Dia menyanyi dengan baik, tapi tidak mempergunakan suaranya yang merdu untuk membaca Al-Qur’an. Dia melakukan operasi plastik untuk merubah hasil ciptaan Allah SWT yang Mahasempurna, sehingga dia terlihat sangat aneh. Dia kaya, tapi tidak menyantuni anak yatim. Dia punya pengaruh, tapi tidak membantu orang-orang yang tertindas di Palestine, Afghanistan, Indonesia, dan Negara-negara lainnya. Serta masih banyak informasi-informasi lainnya yang tidak perlu saya sebutkan di sini.

Lantas, dengan sedemikian banyak daftar berita yang “King Of Pop” lakukan semasa hidup, saya bertanya, "Pantaskah dia menjadi Idola?"

Dubai Airport 27062009 19:11

KotaSantri.com © 2002-2026