Pelangi » Refleksi | Ahad, 21 Juni 2009 pukul 15:00 WIB

Sampul atau Isi Buku?

Penulis : Teguh Yulyono

"Jangan melihat buku dari sampulnya!" Kalimat itu sering terngiang di telingaku, seolah mengingatkan diri ini, yang semakin bertambah umur, kadang semakin mudah tertipu oleh sampul buku.

Dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, kita sering menjumpai banyak karakter, baik itu ciptaan Allah SWT sebangsa maupun dari negeri lainnya. Banyak hal yang bisa membuat kita tertarik untuk menjalin tali silaturrahim dengan mereka. Kadang kita tertarik dengan kecantikan wajahnya, ketampanan struktur muka, atau juga bisa karena kepandaiannya berkomunikasi dengan kita.

Terkadang semua itu bisa melalaikan kita akan fitrah dan jati diri ini. Bahwa kita ini, di mana pun berada, tetap membawa dua hal tersebut, karena Fitrah dan jati diri kita melekat dan selalu mengikuti setiap langkah kita, di mana pun kita berada, baik itu di tanah air maupun di luar negeri.

Kehidupan di luar negeri, terkadang membuat sebagian dari kita diharuskan menyesuaikan diri dengan budaya, adat istiadat, dan lingkungan sekitar kita. Ada kata pepatah, "Di mana kaki berpijak, di situ bumi dijunjung." Kalimat bijaksana itu ada benarnya.

Namun, sudahkah kita mengetahui siapa diri kita ini sebelumnya? Sebelum kita menjunjung budaya dan adat istiadat masyarakat di mana kita tinggal, tanyalah sekali lagi siapa diri kita, apa agama kita?

Dari sini, kita bisa mulai menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar dengan pola hidup dan pikirnya. Karena tanpa kita mengetahui fitrah dan jati diri kita, sangatlah mudah untuk terkontaminasi oleh tingkah laku dan pola pikir yang tidak sesuai dengan agama dan nilai-nilai luhur sebagai bangsa Indonesia.

Memang tidaklah mudah untuk memadukan antara fitrah kita sebagai seorang muslim atau muslimah yang berkewarganegaraan Indonesia dengan masyarakat sekitar yang berbeda agama, adat istiadat, dan juga kebangsaannya. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati menilai sampul dari setiap orang agar tidak sampai terpesona dan terlena, sehingga terlupa bahwa kita adalah seorang Muslim/Muslimah Indonesia yang mempunyai tanggung jawab untuk menjaga jati diri dalam beraktifitas di kesehariannya.

Bila kita hanya menilai orang lain dari sampulnya saja tanpa membuka lembar demi lembar isi di dalamnya, akan sangat sulit mengerti dan memahami karakter asli orang tersebut. Ada kemungkinan kita akan tersinggung, terluka, atau tertipu karena keapikan tampilan sampul orang tersebut. Alangkah lebih bijaksana bila kita bisa lebih berhati-hati dalam memilih teman atau sahabat di negeri orang.

Dubai Airport 04/06/2009 10:30 hrs

KotaSantri.com © 2002-2026