
Pelangi » Refleksi | Jum'at, 19 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Penulis : Muhammad Rizqon
Suatu ketika, organisasi dakwah di lingkungan saya menyelenggarakan acara tasyakuran. Nuansa acara tasyakuran itu terasa dari bentuk acara yang agak lain dari biasanya. Pada acara itu, tersedia beberapa meja makanan untuk disantap secara prasmanan, yang terpisah untuk tamu laki-laki dan tamu wanita, layaknya pada sebuah pesta pernikahan. Hidangan yang disiapkan tidak hanya makanan berat. Ada juga konter es krim, bakso, kue-kue pudding, dan buah-buahan. Meski tidak ada assesoris layaknya sebuah pesta pernikahan, kesemarakan suasana yang penuh senyum dan tawa akrab, menunjukkan secara jelas identitas dari acara tasyakuran di pagi menjelang siang itu.
Hadirin yang datang pun lebih banyak dibanding acara-acara biasa, yang sering dilangsungkan di sebuah markas organisasi itu. Seluruh kader dan simpatisan, baik ibu atau bapak, remaja atau anak, dikerahkan untuk menghadiri acara itu. Sambutan yang disampaikan oleh beberapa petinggi organisasi dan ceramah umum yang disampaikan seorang ustadz, bernuansa pengungkapan rasa syukur atas "kebaikan" yang diberikan Allah SWT karena telah selesai menunaikan amanat untuk menyukseskan kegiatan-kegiatan penggalangan dukungan masyarakat secara optimal berdasarkan kemampuan yang ada.
Saya, dan siapa pun yang hadir, merasakan suatu hal yang fenomenal dan unik. Bagaimana mungkin sebuah "kekalahan" bisa disikapi dengan acara tasyakuran seperti itu. Apakah sejatinya hal itu adalah benar merupakan manifestasi rasa syukur ataukah sekedar upaya untuk menghibur hati yang sedang duka dan kecewa?
Saya merasa perlu berenung, karena boleh jadi pemahaman dan penghayatan saya akan arti syukur perlu diperbaiki dan dipertajam kembali.
***
Pada masa silam, saya pernah mengalami berbagai kegagalan yang seakan mengubur harapan saya untuk duduk di bangku kuliah. Saat kelas 3 SMA, saya mengajukan diri pada program seleksi bagi siswa berprestasi untuk bisa langsung kuliah tanpa UMPTN. Saat itu, saya agak gamang dari segi kemampuan ekonomi, apakah nanti kuliah saya bisa terbiayai atau tidak. Meski demikian, tidak ada salahnya saya mencoba sebagai bentuk ikhtiar. Boleh jadi karena niatnya adalah coba-coba, maka saya tidak terpilih sebagai siswa yang lolos. Saya tidak merasa sedih atau kecewa, saya mampu menerimanya secara lapang dada.
Gagal dengan program tersebut, saya pun mencoba UMPTN di Semarang. Alhamdulillah, proses pendaftaran saya selesaikan dalam tempo satu hari, jadi tidak perlu mencari penginapan. Kemudian satu hari menjelang UMPTN, saya pergi ke lokasi ujian, melakukan survey dan pengenalan lokasi ujian. Karena kondisi keuangan yang amat terbatas, saya berniat menginap di sebuah masjid dekat lokasi ujian bilamana memungkinkan. Beruntung saya berjumpa dengan seorang kawan yang mengajak saya untuk tinggal di tempat kost-nya.
Malam menjelang ujian, saya terserang flu. Malam itu pula saya tidak bisa tidur dan tidak enak badan. Sugesti negatif pun muncul, saya tidak akan bisa mengikuti UMPTN esok hari secara optimal. Artinya saya terancam akan gagal. Sugesti itu selalu muncul, bahkan ketika saya sedang mengerjakan soal-soal UMPTN yang sambil menahan sakit dan rasa tidak nyaman.
Ternyata sugesti saya itu benar, ketika saya menyimak daftar nama-nama calon mahasiswa yang lolos di koran, nama saya tidak tercantum di sana. Saya merasa sedikit kecewa atau bersedih. Saya menjadi inferior di hadapan teman-teman, khususnya yang prestasi sekolahnya di bawah saya, namun berhasil lolos UMPTN. Saya membuat pembenaran bahwa saya mungkin salah dalam memberikan penghitaman pada lingkaran lembar jawaban yang diproses dengan komputer itu. Entah itu terlalu melebar, tidak penuh, kurang hitam, dan alasan teknis lainnya.
Tidak puas dengan UMPTN, saya pun mencoba mendaftar di sebuah Politeknik di Bandung. Kebetulan di sana ada kakak ipar yang sedang mengikuti kuliah persiapan bahasa Inggris dalam rangka pendidikan S2 di Australia. Karena sudah terlanjur malu tidak jebol UMPTN, niat saya mendaftar Politeknik waktu itu adalah pokoknya bisa kuliah. Namun malangnya, saya kembali gagal dan harus rela kembali pulang kampung tanpa berita keberhasilan.
Sungguh tragis dan ironis. Saya yang dianggap berprestasi di bangku sekolah, memiliki nasib lebih buruk dibanding teman yang biasa-biasa saja. Saya berusaha bersabar dan tidak begitu bersedih, karena saya menyadari bahwa pastilah yang Allah berikan adalah hal yang terbaik bagi saya.
Saya mencoba mengevaluasi diri. Boleh jadi, saya belum mempersiapkan diri secara optimal dalam menghadapi ujian itu. Masih banyak kekurangan-kekurangan yang harus dibenahi. Baik dari sisi ibadah, kedekatan dengan orangtua, metode belajar, sensifitas terhadap informasi, mentalitas, dan lain sebagainya.
Kesadaran tersebut ternyata berimplikasi positif. Saya merasa lebih siap mempersiapkan ujian di tahun berikutnya. Emosi saya stabil, jiwa saya menjadi lebih matang, dan saya lebih percaya diri. Hasilnya, pada tahun kedua, saya menghadapi kondisi yang terbalik dengan tahun pertama. Saya banyak menunai keberhasilan dalam ujian-ujian. Tercatat ada tiga jenis ujian yang berhasil saya lewati, yaitu saringan awal masuk sekolah tinggi telekomunikasi, lulus UMPTN di Universitas Indonesia, dan lulus tes masuk di sekolah tinggi kedinasan milik departemen keuangan.
***
Tatkala kegagalan, kemalangan, atau bencana secara beruntun menimpa diri, seringkali ruang hati kita terasa sesak oleh perasaan sedih dan kecewa. Kemudian seiring dengan berlalunya waktu dan terbukanya hikmah, barulah rasa syukur itu mulai mendominasi jiwa. Dengan fenomena yang saya alami, saya makin menyadari bahwa apa yang menimpa diri seseorang adalah hal terbaik dan semata-mata merupakan kebaikan dari Allah SWT.
Namun seringkali, kesadaran untuk bersyukur itu datang belakangan (atau terlambat). Padahal kesyukuran itu bisa dimunculkan di depan, yaitu beberapa saat setelah kita menerima kegagalan atau musibah. Bagaimana bisa? Dengan cara kita percaya (tsiqah) kepada Allah bahwa apa yang terjadi adalah anugerah terbaik. Tsiqah seperti ini yang pernah dicontohkan oleh Abu Bakar radhiyallahu anhu tatkala Rasul Muhammad SAW mengungkapkan hal di luar jangkauan akal. Muhammad SAW berkata, "Wahai sahabatku, sesungguhnya semalam aku telah melakukan perjalanan dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha, kemudian dari sana aku menuju Sidratul Muntaha bertemu Allah SWT hingga aku kembali dalam tempo satu malam saja. Apakah engkau mempercayai aku?"
Abu Bakar berkomentar, "Ya Muhammad, ya Rasulullah, seandainya engkau berkata kepadaku hal yang lebih tidak masuk akal dari itu, aku tetap percaya kepada engkau."
Abu Bakar tidak membutuhkan pembuktian. Ia tsiqah kepada Allah dan RasulNya. Hendaknya kita, di tengah banyaknya musibah atau ujian yang melanda seperti akhir-akhir ini, harus meyakini bahwa apa yang menimpa kita adalah kondisi terbaik menurut Allah tanpa harus menunggu datangnya sebuah hikmah bagi kita. Cepat atau lambat hikmah itu akan terbuka, dan itu adalah suatu keniscayaan bagi orang-orang yang beriman (tsiqah) kepada Rabb-nya.
Allah menegaskan dengan firmanNya, "Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. 94 : 5-6). Ada sebuah kata indah di sana, yaitu bersama. Bersama kesulitan itu ada kemudahan. Saya menafsirkan bahwa bersama kesabaran itu pasti ada hal yang bisa disyukuri.
***
Cukup banyak kisah yang berkaitan dengan musibah atau ujian yang ternyata berakhir dengan kesyukuran. Di antara banyak kisah itu adalah kisah tentang sahabat yang di PHK, kisah sahabat yang diuji dengan kematian anak, suami, dan orangtua, kisah sahabat yang diuji dengan kemiskinan dan lain-lain, termasuk kisah tersebut di atas.
Semua kisah itu memberi pelajaran bahwa apa pun yang dialami oleh seorang hamba yang beriman adalah kebaikan dari Allah SWT. Selalu ada dalam hati kita ruangan untuk bersyukur. Namun sedikit sekali di antara kita yang menyadari adanya ruangan itu dan kebanyakan manusia, manakala ditimpa musibah, enggan berpindah dari kepekatan ruangan duka dan putus asa menuju ruangan syukur yang penuh ketenangan dan optimisme itu.
Allah berfirman, dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih."
Ya, andai kita berpikiran bahwa ujian itu bukanlah kebaikan dari Allah, maka ruang hati akan menjadi sesak, dan kesesakan itu bisa mematikan sensifitas hamba untuk memperbaiki diri atau melakukan amal kebaikan. Tidak sekedar itu, boleh jadi kesedihan yang berlarut-larut itu akan benar-benar membinasakan dirinya secara fisik.
Namun sebaliknya, andai kita yakin bahwa ujian itu adalah kebaikan dari Allah, maka ruang kesedihan akan mengecil dan ruang kesyukuran pun akan bertambah luas. Hati terpacu untuk memperbaiki diri dan bergegas untuk bangkit dengan amal nyata kebajikan. Tiada kata gagal, kalah, terpuruk, terjerambab, tersungkur, putus asa, lemah, jatuh, dan kata-kata penistaan lainnya. Yang mengemuka adalah kata-kata terpuji, karena sesungguhnya segala puji itu adalah milik Allah, Rabb semesta alam.
Allah Maharahman dan Maharahim. Dan Allah adalah Maha Pemberi Kebaikan. Tiada hal yang Dia anugerahkan kecuali adalah kebaikan. Maka yang patut kita hindari adalah janganlah sampai kita mendustakan kebaikan (kenikmatan) Allah yang tak terhingga itu. Adzab Allah yang pedih bisa langsung kita rasakan manakala kita tidak pandai bersyukur.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kesyukuran. Sebab dengan kesyukuran itu, hidup menjadi indah dan baik adanya. Amin.
Wallahu a'lamu bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026