Pelangi » Refleksi | Ahad, 17 Mei 2009 pukul 16:09 WIB

Demi Seperak Rupiah

Penulis : Fiyan Arjun

Lusuh dan tak terawat, pakaian itu melekat di tubuhnya, tubuh ringkih yang sudah sepantasnya menikmati hari tuanya. Tubuh itu tak lain pemilik dari seorang perempuan tua yang saat itu sedang mencari sesuap nasi demi seperak rupiah. Meminta belas iba dari penumpang bus dengan cara mengeluarkan tembang-tembang dari mulutnya yang sudah mulai kering. Dengan cara mengamen.

Saya pun terus melihat parasnya yang sudah dihiasi keriput di sana-sini. Rambut putihnya yang terlihat, terurai, tersembul dari balik topi hitam yang digunakannya saat itu. Topi hitam sebagai pelindung dari sengatan terik panas mentari disaat melakukan aksinya. Di tangan kanannya, ia memegang alat musik yang sangat manual. Mungkin dibuatnya sendiri. Botol kosong diisi sedikit beras sebagai alat untuk mengiringi saat "konser" kecil-kecilan di dalam bus. Ditambah dengan suara yang menyayat hati dilatunkan untuk mengiba para penumpang bus. Dan mulailah menembang sebuah lagu sebagai jerih payah bahwa ia sudah bekerja walau hanya mengeluarkan nada-nada yang tak berirama. Bahkan nyaris sumbang bila didengar.

"Kok sudah tua masih nyari duit aja, sih. Ke mana ya anak-cucunya? Sudah tua bukannya istirahat, tapi masih nyari duit. Apa nggak kasihan tuh." Terdengar celetukan kecil dari arah belakang kursi penumpang yang saya duduki, sebelum pengamen perempuan tua itu melakukan aksinya, mempertunjukan "konser" kecil-kecilan di dalam bus yang saya tumpangi.

Saya yang mendengar celetukan itu, hanya mampu menyelusup dalam kisi-kisi rongga saya. Tersentuh. Kebetulan celetukan itu berasal dari seorang lelaki muda, mungkin anak kuliah atau seorang pekerja, saya tidak tahu pasti. Yang membuat saya merasa tersentuh, yaitu saat ia merasa iba terhadap perempuan tua pengamen itu.

Tanpa sadar, celetukan lelaki muda itu membuat saya larut dalam suasana yang mengingatkan saya pada orangtua (ibu) di rumah. "Andai itu orangtua (ibu) saya, apa jadinya. Mungkin saya sebagai anak merasa berdosa telah menelantarkan orangtua saya. Bekerja seorang diri hanya demi seperak rupiah untuk sesuap nasi." Saya pun terus membayangkan ibu saya yang tak jauh beda dengan pengamen tua itu. Hingga tak menyadari jika perempuan tua itu telah usai menembangkan sebuah lagu. Saya benar-benar tak menyadari itu.

"Permisi, Mas," terdengar suara berat dari arah samping saya. Di hadapan saya sudah terhampar kantong plastik bekas bungkusan permen dari tangan yang nyaris mirip dengan tangan ibu saya. Penuh dengan urat perjuangan keras sebagai seorang ibu. Tangan keriput itu menengadahkan ke hadapan saya.

Saya pun bergegas memberi dan tersenyum. Ya, agar ia merasa senang bahwa masih ada yang memberi dan memperhatikannya. Bukan hanya sekedar demi seperak rupiah, tetapi senyum yang mungkin bagi sebagian orang yang (sampai) saat ini tak mampu untuk tersenyum sedikit pun kepadanya, orang-orang yang belum beruntung dalam kehidupannya. Ia, pengamen tua di dalam bus yang saya tumpangi, miskin dan papa. Mengamen demi seperak rupiah untuk kelangsungan hidupnya.

"Terima kasih, ya, Mas," jawabnya dengan lirih sambil membawa kantong plastik bekas permen. Lalu ia berjalan lagi menuju para penumpang bus yang lainnya untuk mengiba demi seperak rupiah. Saya melihat terus ke arahnya, dan ia tahu jika ia saya perhatikan. Namun ia merasa tak terganggu oleh ekor mata saya yang terus melihat ke arahnya.

Kejadian itu membuat saya sebagai anak merasa terpanggil untuk selalu menjaga dan merawat ibu yang sudah membesarkan saya. Apalagi telah membanting tulang ketika saya masih kecil. Halnya seperti perempuan tua yang berprofesi sebagai pengamen bus, mencari seperak demi seperak untuk kelangsungan hidupnya di dunia ini. Semua itu mengingatkan saya agar saya tahu bahwa jasa seorang ibu kepada anaknya sangatlah banyak.

KotaSantri.com © 2002-2026