
Pelangi » Refleksi | Ahad, 3 Mei 2009 pukul 16:09 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Masih segar dalam ingatan kita tentang peristiwa Senin (15/09) maut di medio September 2008 di kota Pasuruan yang telah memakan korban kurang lebih 21 jiwa. Meninggal secara tragis dan mengenaskan. Lantaran hanya untuk mendapatkan uang sejumlah Rp. 30.000,- yang dibagikan oleh sang dermawan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim di bulan Ramadhan, memberikan zakat.
Mereka yang berangkat dari rumah dengan niat masing-masing, menggebu-gebu ingin mendapatkan uang dari sang dermawan agar bisa memperolehnya. Namun apa dikata, harapan tak sesuai dengan angan-angan. Yang ada hanya pulang meninggalkan nama saja. Inna lillahi wa inna ilahi raji'un. Menyedihkan. Pupus sudah semua harapan dan angan-angan ketika malah maut yang dijumpai. Semua berubah menjadi arena tumpah air mata seketika. Penuh kedukaan yang tampak saat itu juga!
Memang, kalau dilihat, apa yang dilakukan sang dermawan, dengan memberikan secara langsung, itu boleh saja. Tak ada yang melarang. Tapi itu bukan yang dianjurkan oleh kacamata Islam. Bukankan yang namanya beramal, bersedekah, dan berzakat hanya kita dan Sang Khalik yang tahu? Tangan kanan boleh memberi, tapi janganlah sampai tangan kiri mengetahui hal apa yang kita lakukan. Janganlah hal ini sampai mengotori niat dari awal saat kita melakukan pekerjaan yang mulia. Terlebih di bulan Ramadhan, tentu pahala-pahala berlipat ganda sedang menunggu kita.
Sudah jelas Allah menerangkan kepada kita bahwa pada sebagian harta yang kita miliki ada sebagian yang merupakan milik orang lain (yang patut untuk ditolong). "Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian." (QS. Adz-Dzariyat : 19). Ya, betapa kita harus menyadari itu. Dan tak sepatutnya kita berbangga apalagi memamerkannya. Sangatlah tak terpuji.
Jujur, ketika saya melihat peristiwa itu terjadi di layar kaca, sungguh sangat disayangkan dan juga membuat hati saya merasa tergerus. Merasa prihatin melihat kejadian tersebut. Di sana saya melihat para manula, para orangtua renta, dan ibu-ibu muda. Dan ternyata semua itu datang dari kalangan kaum marginal, fakir, yang ingin mendapatkan uang sejumlah Rp. 30.000,-, yang bagi mereka menurutnya sangat besar untuk memenuhi kehidupannya. Terlebih di bulan Ramadhan dan ditambah dengan kenaikan harga-harga.
Mereka pun tak peduli walau tubuhnya tergencet, terinjak, bahkan sampai tertindih. Bagi mereka, hanya satu di benaknya saat itu, bagaimana bisa mendapatkan uang sejumlah tersebut dari tangan sang dermawan itu. Walau embrio maut sudah tampak di depan mata mereka, namun mereka tak menggubris dan tak peduli bahwa nyawanya akan melayang. Sungguh membuat hati saya sesak melihatnya dan tak mampu untuk melihatnya lagi.
Ternyata hati saya yang masih diliputi rasa sesak dan merasa tergerus, belum berhenti sampai di situ. Dan yang lebih sangat mendalam adalah ketika saya mendengar bahwa kabarnya pemerintah akan memberi ganti rugi bagi mereka yang sanak saudaranya, familinya, maupun segenap keluarga yang telah mengalami musibah tersebut. Ganti rugi dengan uang sejumlah Rp. 1 juta per keluarga.
Masya Allah, saya yang mendengar kabar berita itu tak mampu membendung andrenalin saya untuk memprotes ketidakadilan tersebut. Masa iya sih nyawa bisa digantikan dengan uang dan ini hanya satu juta rupiah. Na'udzubillahi min dzalik. Di manakah mata hati mereka? Apakah cukup dengan uang sejumlah itu dan bisa menggantikan air mata mereka yang sudah jatuh? Saya rasa tidak akan cukup dan tak akan pernah cukup, bahkan membendung air mata mereka dengan uang tersebut. Tak perikemanusiaan sekali.
Satu hal yang saya sesalkan lagi terhadap pemerintah, kenapa memberi ganti rugi untuk para korban tragedi tersebut perlu disebarluaskan ke khalayak. Padahal kalau pemerintah ingin membantu keluarga para korban, tak perlu mengeluarkan statement akan diganti dengan 1 juta rupiah! Sungguh benar-benar sudah dibutakan mata hati mereka dan juga tak mengingat pepatah bijak. Tangan kanan memberi, tangan kiri tak boleh tahu!
KotaSantri.com © 2002-2026