Pelangi » Refleksi | Sabtu, 11 April 2009 pukul 15:22 WIB

Menjaga Perasaan

Penulis : Seriyawati

"Mama... Pergi dulu, ya!" kata anakku Chichi dengan riang sambil menunggu Kiki, adiknya, memakai sepatu.
"Baca do'a mau pergi, sudah?" tanyaku padanya.
Langsung disahut dengan, "Bismillahi tawakkaltu..."
Perhatianku berpaling kepada adik kembarnya, Kiki, yang sedang memakai tas punggung sekolahnya dan juga akan membawa termos air.

"Sebaiknya termos airnya ditaruh dulu, yah!" kataku.
Aku khawatir termos airnya akan terbaret-baret kena lantai. Tentu Kiki tak suka termos barunya lecet-lecet.
"Kan susah, berjongkok pakai sepatu sambil megangin termos air?!" kataku lagi.
"Kiki?" tanyaku melihat dia diam saja.

Tapi dengan menyelempangkan termos air di bahunya, dia turun ke beranda dan mulai berjongkok hendak memakai sepatu warna pinknya. Sret... Sret... Terdengar suara termos air beradu dengan lantai marmer.

"Makanya pakai sepatu dulu, baru suitonya dibawa!" kataku untuk yang kedua kalinya.
"Hai... Hai... Wakarimashita," jawab anakku Kiki dengan nada tak senang. Tak senang dengan kata-kataku yang seakan menilainya tidak becus atau karena merasa malu dengan sikapnya yang berakibat dia ditegur olehku.

Melihat wajah anakku Kiki, yang terpancar di sana adalah rasa kesal pada diri sendiri, rasa malu, dan perasaan tidak enak lainnya yang aku tak tahu.

***

Kring... Kring... Terdengar telepon di kamar sebelah. Aku pun segera mengangkatnya.
"Halo," kataku menjawab pada deringan ketiga.
"Assalamu'alaikum," sahut seorang sahabatku di sana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," jawabku.
Telepon dari teman yang menanyakan kesiapan tugas saya.

"Maaf mbak, pesanannya terlewat oleh saya. Jadi barangnya belum bisa sampai nanti sore. Mungkin besok sore baru bisa sampai, mbak," kataku.
"Aduh... Gimana nih?" pikir saya sedikit kalut. Padahal barang itu akan saya bawa besok untuk teman-teman. Dan saya sudah menyatakan sanggup untuk membawanya. Langsung saya menelepon teman yang menjadi penanggung jawab acara untuk besok.

"Maaf banget yah... Saya besok nggak bisa membawa barang pesanannya. Tapi kalau boleh, saya bisa ganti dengan barang lain yang ada di rumah, gimana?" saya mencoba mengurangi kekecewaan yang bakal timbul.
"Yah... Nggak apa-apa, mbak. Khan, nggak disengaja, ya?! Iyya deh... Tolong barang yang ada aja deh," katanya.

Tak berapa lama kemudian, dia kembali menelepon dan mengatakan bahwa saya tak perlu membawa barang yang ada di rumah, karena ada teman lain yang mempunyai persediaan barang pesanan.

Untuk mengucapkan terima kasih, saya lalu menelepon teman yang mempunyai barang itu.
"Aduh... Terima kasih banyak ya. Maaf ya, saya jadi merepotkan mbak. Iya nih, pesanan saya ternyata nggak bisa datang nanti sore. Padahal barang itu diperlukan untuk besok pagi."
"Memang, kalau mau pesan itu harusnya pesan seminggu sebelumnya," kata temanku.
"Iya, saya pesan hari Rabu, dan saya tanyain lagi hari Jum'atnya," sahutku mau membela diri.

Kudengar dia berkata lagi, "... atau sebelumnya lagi, apalagi kita perlunya untuk minggu ini, khan?! Kita mesti sering tanyain lagi pesanan kita. Biasanya kan, kirimannya lama baru nyampe, yah."
"Oh, begitu. Yah... Nggak apa-apa. Terima kasih banyak atas teleponnya, ya.
"Ya... Wa'alaikumsalam," kataku mengakhiri percakapan.

Entah kenapa, perasaanku menjadi tidak enak. Kurang hati-hati dan kurang perhitungan, rasa itu jelas ada. Aku mengakui dalam hati, seandainya aku sering-sering menanyakan kapan pesananku bisa sampai, tentulah aku bisa mencari kemungkinan lain. Tetapi rasa tak mau menerima nasehat berkali-kali, ternyata lebih mendominasi perasaan saya. "Iya, iya. Ngerti! Ngapain sih ngomong berkali-kali?!" saya menggerutu dalam hati.

***

Aku jadi teringat dengan kejadian tadi pagi, saat anak-anakku mau pergi ke sekolah. Kiki menekuk mukanya karena ceramahku, dan termos air pun jadi tergores. Tentulah dia juga berusaha agar tidak terlambat pergi ke sekolah. Sekarang, aku bisa merasakan bagaimana perasaan anakku Kiki. Mungkin seperti beginilah perasaannya. Kecewa, sedih, kesal, malu, dan perasaan tidak enak lainnya.

Sedih dan kecewa karena merasa gagal memenuhi permintaan teman. Kesal karena merasa diri ini kurang sigap untuk lebih sering lagi menanyakan barang pesanan. Coba aku bertanya dan bertanya lagi, mungkin hal seperti ini bisa dihindari. Malu, karena mendapat nasehat dua kali dalam satu kesempatan dari teman. Juga malu, karena akhirnya merepotkan orang lain gara-gara keteledoran diri ini.

Tapi di balik kejadian ini, aku mendapatkan hikmah. Aku makin memahami perasaan anakku Kiki. Seharusnya aku tak perlu mengulang-ulang, apalagi kalau kata-kataku itu hanya untuk mengatakan dan memperjelas akibat dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Aku akan menjaga perasaannya supaya terhindar dari perasaan-perasaan tidak mengenakkan hati sebagaimana aku pun tidak ingin dihinggapi perasaan-perasaan seperti itu.

***

Catatan :
- Itte kimasu : Selamat tinggal ("pergi dulu ya").
- Suito : Termos air.
- Genkan : Beranda pintu depan.
- Hai.. Hai... Wakarimashita : Ya... Ya... Mengerti.

KotaSantri.com © 2002-2026