Pelangi » Refleksi | Rabu, 1 April 2009 pukul 15:30 WIB

Tidak Menelan 'Mentah-mentah'

Penulis : Mujahid Alamaya

Kemarin, ketika saya sedang menyusuri sebuah jalan, tiba-tiba dari belakang saya ada seorang bapak bertanya dan terlihat seperti kelelahan, "Dek, kalau di depan sana ada tempat foto kopi? Katanya ke sebelah sana ada tempat foto kopi?"

"Kalau di sana tidak ada tempat foto kopi, pak. Yang ada di sebelah sana!" jawab saya sambil menunjuk ke arah belakang.

"Tapi kata orang di sana tadi, katanya di depan sana ada tempat foto kopi," ucap bapak itu bersikeras kalau di tempat yang dimaksud ada tempat foto kopi. Lalu bapak itu berjalan mendahului saya tanpa pamit sama sekali.

"Tidak ada, pak. Kalau bapak tidak percaya, silahkan saja!" timpal saya.

Entah perkataan saya itu didengar atau tidak. Yang pasti, bapak itu berjalan cepat meninggalkan saya. Beberapa meter kemudian, bapak itu bertanya kepada orang yang ada di sana.

Saya perhatikan dengan seksama. Bapak itu masih menanyakan tempat foto kopi. Orang yang ditanya menjawab bahwa di daerah ini tidak ada tempat foto kopi serta memberi tahu bapak itu di mana letak tempat foto kopi yang terdekat. Tapi bapak itu berkata bahwa tadi ada orang yang memberi tahu bahwa di daerah sini ada tempat foto kopi.

Itu yang saya tangkap. Selanjutnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, karena saya terus berjalan menuju rumah.

Memang, ketika kita hendak mencapai tujuan hidup, perlu menuntut ilmu untuk mendapatkan petunjuk yang benar. Tentunya agar kita tidak tersesat. Tapi, kadang kita salah tempat dalam menuntut ilmu. Karena kita tidak tahu, maka kita menelan mentah-mentah. Dan ketika ada pihak lain yang memberitahu bahwa jalan yang kita tempuh salah, kita tetap bersikeras bahwa apa yang kita tempuh itu benar.

Maka, sebelum melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita tidak menelan mentah-mentah ilmu yang kita dapatkan. Alangkah lebih baik jika kita bertanya kepada pihak atau tempat yang yang lebih kredibel, sampai kita yakin bahwa ilmu yang kita peroleh itu benar. Seperti bapak itu, setelah 'menuntut ilmu' di pihak yang 'salah', berani bertanya kepada pihak lain untuk meyakinkan 'ilmu' yang diperolehnya tersebut benar atau tidak.

KotaSantri.com © 2002-2026