Pelangi » Refleksi | Kamis, 19 Maret 2009 pukul 15:49 WIB

Rumput di Halaman Tetangga Terlihat Lebih Hijau

Penulis : Meyla Farid

Januari, awal saya mengenalnya. Dia orang yang sangat baik, ramah, dan tidak sombong. Dari dirinya, saya benar-benar melihat keberlakuan peribahasa "padi, makin berisi makin merunduk". Kadang-kadang dia cerita tentang kehidupannya sebagai atlit tetap di sebuah Negara. Dia bilang, karena dia kalah bersaing di Indonesia dan kebetulan dilirik negaranya sekarang, maka jadilah dia warga negara itu.

Ada banyak cerita yang saya dengar dari dirinya. Tiap ceritanya membuat saya sadar, saya bukan apa-apa atau siapa-siapa. Dari sinilah awal saya suka pada dunia maya, tapi tidak berlebihan. Saya bisa mengenal banyak orang di dunia. Di antara ceritanya, dia pernah membicarakan tentang temannya yang waktu itu sedang proses cerai dengan istrinya. Dia bilang temannya sebenarnya tidak mau cerai, meskipun istrinya terbukti selingkuh. Temannya itu sangat baik, terlalu baik malah. Tapi istrinya malah yang maksa ingin bercerai.

Ketika saya tanya kenapa bisa selingkuh. Dia menjawab, "Karena rumput di halaman tetangga kelihatan lebih hijau." Saya termangu. Mungkin benar, seperti kata teman saya itu, alasan perselingkuhan yang saat ini kerap terjadi mungkin karena alasan itu. Padahal, kalau lebih didekati, belum tentu rumput di halaman tetangga itu lebih hijau. Jangan-jangan, tetangga pun malah sebaliknya, melihat rumput di halaman rumah kita lebih hijau.

Atau, dengan kata lain, permasalahan tersebut merupakan salah satu perwujudan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan keadaan dirinya (qana'ah). Diberi satu danau, dia ingin dua. Diberi dua, ingin tiga. Dan seterusnya. Manusia yang susah sekali menyadari bahwa apapun yang ada pada dirinya sekarang adalah yang terbaik bagi dirinya. Pantas saja, Allah sering mengingatkan kita tentang pentingnya 'syukur'. Berulang-ulang diingatkan tentang syukur, tentang nikmat mana lagi yang kita dustakan, dalam ayat-ayat cintaNya.

KotaSantri.com © 2002-2026