Pelangi » Refleksi | Jum'at, 13 Februari 2009 pukul 03:20 WIB

Menjemput Rezeki di Perut Bumi

Penulis : Muhammad Rizqon

Namanya Doddy. Usia hampir 40 tahun. Bergabung di perusahaan pertambangan ini sejak beliau tamat dari sebuah universitas di Palembang. Orangnya rendah hati, humoris, dan suka membantu rekan yang kesulitan. Dengan sifat-sifat itulah, banyak orang, terutama di unit kerjanya, termasuk saya, merasa akrab dengan beliau.

Perusahaan tempat kami bekerja ini, dulunya adalah milik Belanda yang kemudiaan diambil alih pengelolaannya oleh pemerintah. Kantor pusat pada awalnya ada di Jakarta, sedangkan unit-unit produksi tersebar di Kepulauan Bangka - Belitung dan Kepulauan Riau. Banyak cerita hiperbolis yang berkaitan dengan masa-masa kejayaan perusahaan itu.

Para pejabat di unit-unit produksi pada waktu itu, pergi-pulang Jakarta layaknya orang masuk-keluar toilet. Itu adalah gambaran dari frekuensi mobilitas yang tinggi dan kondisi finansial yang sangat kuat. Para pejabat yang mandi menggunakan air mineral adalah hal sudah biasa, karena kualitas air tanahnya buruk dan mengandung unsur tambang. Berbagai fasilitas dan kemudahan diberikan kepada Pejabat Pemda tanpa harus merasa menjadi "sapi perah" mereka.

Fasilitas umum dan infrastruktur banyak dibangun. Sekolah, Rumah Sakit, tempat ibadah, jalan, jembatan, lapangan terbang, listrik, dan banyak lainnya. Waktu itu pulau Sumatera masih gelap gulita karena belum ada listrik. Namun pulau Bangka sudah terang benderang karena memiliki PLTU terbesar di Asia Tenggara yang dibangun oleh perusahaan. Hasil tambang perusahaan lebih berharga dibanding minyak. Dan perusahaan memiliki kendali atas harga tambang di pasaran dunia. Kondisi yang cukup Fantastik!

Itulah kejayaan masa lalu. Seiring dengan berjalannya waktu, penurunan berjalan hari demi hari sampai pada titik nadhirnya. Restrukturisasi pernah dilakukan, namun tidak mampu mengejar kenangan akan kejayaan masa lampau. Zaman telah berubah. Cadangan tambang kian menipis, alat produksi makin tua, harga tambang jatuh di pasaran, laba perusahaan makin menurun, dan penyakit KKN kian menggerogoti perusahaan.

Dulu, hasil penggalian jarang meleset dari rencana. Namun sekarang, tidak lagi. Suatu cadangan tambang telah disurvey matang, tetapi pada saat digali, ternyata tidak ada apa-apanya. Nihil atau bernilai tidak signifikan. Padahal biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan cukup besar. Belum lagi biaya penggalian yang menelan biaya puluhan miliar. Ironis memang. Aroma kecurigaan antar unit pun tak terelakkan terjadi. Masing-masing merasa sudah optimal dalam tugasnya. Tetapi kenapa hasilnya tidak memuaskan? Muncullah sebuah lelucon bahwa cadangan tambang itu bisa berpindah-pindah atau hilang tanpa sebab. Sesuatu yang tidak masuk akal dan absurd tentunya!

***

"Bapak-bapak, sebelum bekerja, mohon agar bapak-bapak mau melakukan shalat dhuha. Mungkin Allah tidak mengeluarkan cadangan tambang dari perut bumi, karena kita tidak rajin shalat dhuha." Kata Doddy saat melakukan kunjungan pada unit-unit produksi perusahaan suatu ketika.

"Do'a dhuha itu kan bunyinya kalau nggak salah, "Ya Allah, jika rezekiku jauh, maka dekatkanlah. Jika sulit, maka mudahkanlah. Jika ada di langit, maka turunkanlah. Jika ada di perut bumi, maka keluarkanlah." Nah, Rezeki kita ini ada di perut bumi. Kalau hasil kita sedikit, mungkin Allah belum mengeluarkannya kepada kita."

Demikianlah, Doddy selalu "berkampanye" untuk shalat dhuha. Beliau begitu antusias dan yakin betul bahwa seandainya karyawan perusahaan secara kompak rajin menunaikan shalat dhuha, keajaiban akan terjadi. Tanpa segan beliau ungkapkan "hipotesa" ini di hadapan para pejabat perusahaan pada momen rapat bulanan produksi. Cukup kontroversial. Bukankah seharusnya Doddy, sebagai auditor perusahaan, memberikan rekomendasi yang rasional, yaitu menghilangkan penyebab utama atau meminimalisir dampak yang terjadi?

***

Saya berfikir, bisa jadi benar bahwa rekomendasi shalat dhuha itu menghilangkan sebab utama yang menimpa perusahaan. Karena sebenarnya sumber dari operasi yang tidak efisien, tidak efektif, dan tidak ekonomis (boros) adalah karena penyakit KKN yang bersarang. Shalat dhuha memang tidak serta merta membatasi dan mereduksi penyakit tersebut. Namun jika perusahaan membudayakan shalat dhuha, itu artinya perusahaan menciptakan "lingkungan pengendalian" yang baik. Dan ini bisa berimbas pada penguatan moral karyawan untuk tidak melakukan penyimpangan atau korupsi.

Saya mengambil hikmah bahwa ajakan shalat dhuha itu adalah ajakan untuk menyerahkan pengaturan rezeki hanya kepada Allah semata. "Laa raaziqan illa Allah, Tiada pemberi rezeki selain Allah." Jika demikian hati yang tertambat, maka niat pun terjaga, langkah terbimbing, dan keberkahan diperoleh.

Saya merenung, ketika sahabat Rasulullah mengetahui bahwa ada makanan haram yang masuk ke perutnya, maka dengan segala upaya mereka berusaha memuntahkannya. Mereka melakukan demikian karena mengetahui resiko yang luar biasa. Do'a mereka bakal tidak didengar Allah SWT dan daging yang tumbuh darinya (makanan haram itu) akan dibakar dengan api neraka. Na'udzubillahi min dzalik.

KKN tidak hanya menimpa perusahaan Doddy. Mayoritas perusahaan dan organisasi di negeri ini terkena penyakit KKN yang kronis. Alangkah baiknya jika kita selalu mengingat akan firman Allah, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." Dengan mengingat demikian, maka kita akan bisa menjaga diri dari tindak korupsi.

Wallahu a'lamu bishshawab.

KotaSantri.com © 2002-2026