
Pelangi » Pernik | Ahad, 20 Januari 2013 pukul 11:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
“Cinta,” diucapnya kata itu dengan sangat pelan.
Kali ini ia benar-benar mengaku kalah. Tak ada satupun lelaki yang sanggup memberinya cinta, melebihi cinta yang dimiliki Rani. Ah, jangankan melebihi, menyamainya saja tak bisa. Tak ada yang bisa mencintai dengan cara seperti itu.
“Atau jangan-jangan Rani telah berbohong?” tanya hatinya sendiri. Namun segera tanya itu ditepisnya jauh-jauh. Rani begitu tulus bercerita, bahkan ia mampu merasakan apa yang Rani rasakan. Cinta yang Rani miliki, sungguh sangat istimewa. Setiap kali Rani bercerita tentang cintanya, hatinya ikut bergejolak hebat, ada rasa yang meletup-letup. Kedahsyatan rasa yang tak pernah ia alami di manapun dan dengan siapapun sebelumnya.
“Hai, Del. Lagi mikirin aku, ya?” sapa Rani mengagetkan.
“Ye, GR lu,” jawab Dela sedikit sewot.
“Idiih… ada yang lagi sensitif nih ceritanya,” goda Rani tersenyum mengejek. Sementara yang digoda hanya menatapnya malas.
“Jadi bagaimana cinta sejatimu itu, sudah ketemu?” Dela hanya mendesah.
“Kalau kamu mau menyerah, bukan hal yang memalukan. Seminggu itu waktu yang lama lho untuk menahan penasaran.”
“Menyerah? Tidak akan pernah. Lihat saja, gue akan menemukan cinta yang paling sejati, melebihi cinta yang lu punya. Lagian, penasaran apaan?”
Rani tersenyum lebar. Ditatapnya dalam-dalam Dela. Sementara Dela tak bisa menyembunyikan ketercengaannya. Ada kilatan rasa percaya diri di tatapan itu. Seolah hasil akhir dari pertaruhan pencarian cinta sejati yang mereka sepakati sudah ditentukan saat itu. Bahwa ia gagal dan kalah.
“Ran, kenapa kamu begitu yakin kalau aku nggak bakalan ketemu cinta sejati seperti cinta punya kamu?”
“Mmm… karena memang tak ada cinta sejati yang seperti punya aku.”
“Tak ada?”
“Tak ada.”
“Bagimana kalau ternyata ada? Aku berhasil menemukan cinta sejati, bahkan cinta sejati yang sensasinya melebihi punyamu?” lagi-lagi Rani tersenyum lebar.
“Dela, kalau melebihi, tidak akan pernah mungkin. Tapi kalau sama, berarti kita mempunyai kekasih yang sama. Ujungnya, tetap saja aku yang jadi pemenang. Karena duluan aku dong yang menjalin cinta pada cinta yang sama.”
Dela hanya terdiam, ia seolah kehilangan apa yang harusnya dikatakan. Wanita di depannya itu memang terasa begitu berbeda dan semakin berbeda dengan yang lainnya. Ia mulai berpikir, apakah setiap wanita yang berjilbab lebar seperti ini?
KotaSantri.com © 2002-2026