
Pelangi » Pernik | Ahad, 6 Januari 2013 pukul 11:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Entah apa yang aku pikirkan, tapi rasanya hari itu aku gak enak hati hingga bawaannya bete mulu.
Tiba-tiba hatiku mengeluh, "Mau sampai kapan aku menjalani kehidupan kayak begini?" Sudah satu tahun aku bekerja menjadi seorang pembantu rumah tangga di negeri yang penduduknya adalah orang-orang non muslim. Aku tidak tahu apa yang membuatku tertarik untuk bekerja di Hong Kong, padahal masih banyak negara lain yang bisa menjadi pilihan sebagai tempat untuk mengais rezeki yang lebih diridhai Allah SWT.
"Mungkin inilah garis hidup yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT untukku," batinku menghibur diri. Meskipun aku bekerja di keluarga yang tidak beragama, aku merasa bersyukur karena mereka cukup bisa mengerti dengan agama yang aku yakini berikut aturan yang ada dalam agamaku. Aku bisa menjalankan shalat fardhu sekalipun seringkali harus dijamak, bisa mengaji (saat keluarga majikan tidak berada di rumah), bisa menjalankan puasa wajib dan puasa yang sunnah, alhamdulilah.
"Semua pekerjaan sudah selesai, diam saja di rumah juga bete," kataku dalam hati. Mataku tertuju pada jam dinding yang tergantung di tembok ruang tamu. "Jam 3 kurang 10 menit," batinku. Aku buru-buru memakai sepatu dan jaket. Aku berniat untuk pergi ke perpustakaan yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggalku. Aku memang terbiasa ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku atau menggunakan fasilitas internet gratis.
Baru saja aku mau membuka pintu, tiba-tiba telepon berdering. Aku angkat gagang telepon dan langsung meluncur kata-kata dari mulutku, "Wai, wan pin wai?" tanyaku. Suara di seberang sana menjawab, "Luigy, jie-jie emkoi." Karena merasa orang yang di seberang sana mencari aku, pastilah dia kenal aku dan aku pun mengganti bahasaku dengan bahasa Indonesia.
"Apa kabar, Jie? Dah sebulan lebih loh Jie-jie tidak pernah menghubungi aku, telepon enggak, sms juga gak pernah," ucapnya berkesan sedikit protes.
Ode nama panggilannya, wajahnya mirip dengan 'Karen Indonesian Idol'. Dia lahir di Ambon dan pindah ke Jawa setelah bapaknya meninggal. "Bapakku orang Ambon dan ibuku orang Cilacap," begitu dia pernah cerita.
"Dulu, sebelum ibuku menikah dengan bapak, ibu adalah seorang muslim yang taat beribadah. Tapi setelah menikah dengan bapak, ibu berpindah keyakinan, mengikuti agama bapak. Aku dan adik-adikku lahir di Ambon dalam keluarga Kristen dan lingkungan orang-orang Kristen, tetapi setelah bapak meninggal dan di Ambon ada kerusuhan, ibu membawa aku dan adik-adikku pulang ke Jawa", lanjutnya.
Pada usia 12 tahun, dia menjadi seorang mualaf, karena masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya yang baru mayoritasnya adalah orang yang beragama Islam. Aktifitas masyarakat di lingkungan barunya itu membuat Ode kecil tertarik ikut teman-temannya untuk belajar ngaji.
Ada kebahagiaan tersirat dalam hatiku krtika mendengar ceritanya.
Waktu terus berjalan, Ode yang mulai beranjak dewasa mulai bergaul dengan banyak orang, dan merupakan tipikal orang yang menyukai kebebasan. Sebagai mualaf, Ode tidak begitu ingin tahu lebih banyak apa yang ada dalam aturan agama barunya.
Saat aku mengenalnya, usianya sudah hampir 20 tahun, itu berarti dia sudah menjadi seorang muslim selama 8 tahun.
Astaghfirullahal adzim...!!! Hal yang sangat mengagetkanku, karena sekalipun Ode sudah meyakini agama barunya selama kurang lebih 8 tahun, tapi dia masih belum bisa shalat dan bahkan sama sekali tidak mengenal bacaan shalat. Aku merasa begitu sangat prihatin dengan keadaan hatinya. Bagaimana mungkin orang yang sudah meyakini Islam sebagai agamanya, tapi sama sekali tidak tahu apa yang ada pada agamanya.
Aku pernah memberikan nasehat kepadanya untuk lebih banyak mengenali agama barunya sedikit demi sedikit. Aku merasa suasana waktu itu tidak memungkinkan bagi aku untuk banyak membimbingnya dan memperkenalkan Islam lebih jauh. Keterbatasan waktu dan juga aturan yang di berlakukan di tempat pelatihan CTKI yang mau di tempatkan di luar negeri membuat aku tidak leluasa untuk berbagi cerita bagaimana indahnya Islam.
Aku bangga saat dia bilang, "Kak Luigy, aku yakin, walaupun aku belum tahu banyak soal Islam, tapi hatiku meyakini agama yang aku pilih adalah yang terbaik bagiku." Dan satu bulan yang lalu, dia menyatakan rasa bahagianya karena adiknya mau masuk pesantren.
Sore itu, saat dia meneleponku, saat dia tiba-tiba minta maaf kepadaku, saat dia memintaku untuk tidak menjauhinya, saat dia mengatakan bahwa dia akan kembali ke agama lamanya, hatiku seperti diiris-iris, miris sekali rasanya aku mendengar pengakuannya. Batinku menjerit dan sakit rasanya ketika aku menerima apa yang menjadi keputusannya.
Dalam hatiku seperti ada setumpuk rasa sesal karena sudah mengangkat teleponnya. "Kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa?" segudang pertanyaan tiba-tiba memenuhi otakku. Entah kenapa aku merasa emosi dan timbul rasa benci dengan pernyataannya.
"Jie..., Jie-jie tidak akan memutus persahabatan denganku karena aku pindah ke agama lamaku khan?" tanyanya.
Aku terdiam beberapa detik karena menahan rasa kagetku. Dengan suara yang sedikit gemetar karena rasa marah, tersinggung, benci, dan emosi, aku mengajukan pertanyaan padanya, "Apa yang membuat kamu tiba-tiba berpikiran untuk kembali ke agama lamamu?"
Dia menjelaskan panjang lebar apa yang menjadi alasannya dan buatku ini adalah hal yang sangat memuakkan. Aku pun mulai bisa menenangkan pikiranku dan bicara dengan kata-kata berkesan lebih bijak dari sebelumnya.
Nasehatku sudah tidak berlaku, kata-kataku seperti dianggap angin lalu, aku tidak sanggup lagi meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan besar, dan aku tak dapat lagi menunjukkan dia jalan untuk kembali pada jalan kebenaran. Sepertinya, hati dia sudah tertutup dan terkunci rapat, sekalipun aku coba untuk menggedor-gedornya.
Aku sadar, aku tidak berhak untuk mencongkelnya.
Hatiku pun menjerit menyesali dan meratapi kebodohan yang menghinggapi hatinya. Dan hatiku menjerit karena aku tak kuasa meluluhkan perasaannya yang tengah dihinggapi syetan.
Rabbi...
Apa yang harus aku perbuat untuk menyelamatkannya dari jalan kegelapan?
Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya kembali pada jalan yang Engkau ridhai?
Bukakan mata hatinya, Ya Allah...
Berikan dia cahayaMu (hidayah) supaya dia tetap meyakini kebenaran dan kelembutan Islam, sebelum dia terlambat.
Luigy Fitriany # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 23-03-2007
KotaSantri.com © 2002-2026