Pelangi » Pernik | Ahad, 12 Agustus 2012 pukul 13:00 WIB

Insomnia dan Mata Tidur

Penulis : Salman Rafan Ghazi

Aneh. Sungguh aneh. Sejak beberapa hari lalu mataku semakin sulit dipejamkan. Meski malam sudah larut. Meski rembulan perlahan surut ke barat. Namun, tetap saja mata ini tidak bisa diajak bersepakat untuk terpejam, padahal hati dan pikiranku sudah ingin istirahat sedari tadi, tidur dan mengembara ke alam mimpi.

Jika dihitung-hitung, ini sudah hari yang ketujuh aku mengalami kejadian seperti ini, sulit memejamkan mata. Yang artinya sulit juga bagiku untuk tidur. Malam-malamku terasa sangat panjang seminggu terakhir ini.

“Mungkin kau minum kopi sebelum pergi tidur,” kata salah satu temanku. Ah, rasanya tidak. Tentang kopi yang kata orang bisa menghambat rasa kantuk menurutku tidak juga.

“Mungkin kau terlalu banyak tidur siang atau sore,” ujar salah satu temanku lagi. Tidak juga. Malahan aku jarang tidur siang atau sore. Mana bisa tidur pada saat jam kerja. “Ada-ada saja kau ini,” balasku.

“Kau harus periksa ke dokter,” perintah teman yang lain.

Barangkali memang sudah waktunya aku memeriksakan keanehan ini ke seorang dokter. Tujuh hari sulit memejamkan mata bukan hal sepele untuk orang sepertiku. Orang yang membutuhkan banyak tenaga dan pikiran dari pagi sampai sore hari untuk melakukan pekerjaanku. Sebagai seorang sibuk, aku sangat membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam bekerja.

Esoknya, tepat hari kedelapan di mana mataku masih sulit dipejamkan, aku putuskan pergi ke dokter di sebuah rumah sakit ternama di kotaku. Dokter bilang, aku mengidap insomnia, penyakit susah tidur. Masih bisa diobati, katanya, mumpung baru memasuki hari kedelapan, katanya lagi. Kemudian dokter memberikan secarik kertas resep kepadaku.

Sebelum meninggalkan ruang periksa, dokter sempat berpesan kepadaku, “Coba nanti malam saudara lakukan ini : Matikan lampu ketika hendak pergi tidur atau gunakan lampu yang samar dan remang saja. Bisa juga saudara gunakan wewangian sebagai aroma terapi untuk merilekskan pikiran saudara. Jangan pikirkan hal apapun ketika hendak pergi tidur. Jika belum berhasil, pakai cara lama, pejamkan mata dan mulai berhitung dari satu sampai saudara terlelap. Dan jangan lupa, obatnya diminum.”

Dua malam berikutnya masih sama. Lampu kamar sudah kumatikan. Aroma terapi wangi bunga eksotis sudah kugunakan. Tidak memikirkan seuatu apapun sudah, bahkan metode berhitung pun kulakukan. Namun, hanya ada sedikit perubahan. Jam tidurku bertambah 10 menit. Setelah kutebus resep dari dokter dan kuminum sesuai aturannya, mataku masih belum mau berkompromi untuk terpejam lebih awal lagi.

Penyakit ini semakin menyiksaku. Kadang, kepalaku pusing dibuatnya karena metode hitungan yang kurapalkan sudah seperti mantra do'a saja.

“Kata dokter, apa penyakitmu?” tanya salah satu temanku dengan wajah penuh penasaran.

“Insomnia, penyakit sulit tidur,” jawabku datar. “Dan hasilnya sama saja, aku masih sulit untuk tidur.”

“Sudah kau coba minum jamu? Coba saja, ramuan tradisional biasanya manjur, boy,” temanku yang lain mengusulkan.

Dua malam berikutnya lagi masih sama. Lampu kamar sudah kumatikan. Aroma terapi wangi bunga eksotis sudah kugunakan. Tidak memikirkan sesuatu apapun sudah, bahkan metode berhitung pun kulakukan. Obat sudah kuminum juga. Dan minum jamu pun sudah mulai rutin. Namun, tetap saja tidak ada perubahan. Nampaknya mataku ini mata kelelawar yang susah terpejam saat malam hari.

Aku semakin putus asa. Kualitas pekerjaanku memburuk. Kata teman kerja, aku sering terlihat terkantuk-kantuk saat bekerja. Ini semacam tanda bahaya bagiku. Untung saja atasan tidak memergoki.

Entah pada hari keberapa semacam keajaiban terjadi. Mataku merasakan lelah yang amat. Padahal hari itu berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya. Kali ini nampaknya mataku bisa lebih kooperatif untuk terpejam lebih awal. Mata yang lelah dengan rasa kantuk yang mulai kurasakan menghasilkan ramuan yang hasilnya menakjubkan; tidur lebih cepat dari malam-malam sebelumnya.

Aku bermimpi. Semua gelap dan –seperti adegan-adegan film– semua perlahan berubah menjadi terang. Aku berada di sebuah tempat yang tidak kukenal. Seperti sebuah deretan ruko atau mungkin juga pasar, karena terdapat banyak kios dan toko di sana. Tapi aneh, semua toko itu sepi. Penjualnya hanya menopang dagu menunggu pembeli datang. Kecuali satu toko di pojok deretan ruko atau mungkin pasar tersebut. Ada banyak orang di sana, sepertinya mereka semua sedang mengantri untuk mendapatkan sesuatu di toko itu. Ah, entah apa yang mereka antrikan di sana. Namun, dari nama toko itu –Toko Tidur– aku sudah bisa menduga bahwa toko itu menjual segala perlengkapan keperluan tidur, atau paling tidak toko itu menyediakan bantal, guling, kasur, dan sebagainya.

Aku mencoba menyeruak di antara kerumunan antrian untuk melihat apa yang dijual toko tersebut, tapi gagal. Kutanyakan pada orang-orang di depanku. Ternyata toko itu memang menyediakan perlengkapan tidur, namun bukan bantal, guling, kasur, dan sebagainya seperti yang kuduga tadi. Tapi menjual sepasang mata. Sepasang mata untuk tidur. Sepasang mata yang kantuk dan lelah.

“Semua orang yang sulit tidur datang ke sini untuk membeli mata tidur agar bisa cepat tidur,” jawab salah seorang yang ikut antri saat aku bertanya mengapa banyak sekali orang yang antri.

“Mudah saja, tinggal kita lepaskan saja mata kita lalu ganti dengan mata tidur, pasti akan terlelap karena mata tidur memang diciptakan untuk tidur,” sambung yang lain saat aku bertanya bagaimana cara menggunakan mata tidur. Aneh, mana bisa kita lepaskan mata untuk diganti dengan mata lain, kecuali dengan melakukan operasi. Aku jadi penasaran seperti apa mata tidur itu.

Lama kutunggu akhirnya sampai juga aku di antrian terdepan. Setelah aku mendapatkan mata tidur, salah satu pelayan toko itu langsung memasang tanda “MAAF, MATA TIDUR HABIS, SILAKAN DATANG LAGI BESOK”. Terdengar gerutuan dari orang-orang di belakangku.

“Kau beruntung mendapatkan mata tidur itu, Nak,” kata seorang tua di belakangku. Barangkali memang aku beruntung. Sudah beberapa hari ini aku sulit tidur.

Bentuk mata tidur sama seperti mata-mata biasa, hanya terlihat lelah yang amat di pelupuknya dan memiliki kantuk yang membuat mata tidur terlihat lebih merah. Aku masih berpikir bagaimana caranya menggunakan mata tidur ini. Menurutku adalah susah melepaskan sepasang mata untuk diganti dengan mata lain. Tapi kata orang-orang tadi, hal itu sangatlah mudah. Ingin aku bertanya lagi pada mereka, namun mereka yang telah mendapatkan mata tidur langsung memakainya. Dan mereka semua pun tertidur.

Sesuatu yang entah apa tiba-tiba saja membangunkanku dari mimpi itu. Jarum jam di dinding kamar menunjukkan angka sebelas. Aku mendesah. Nampaknya malam-malam panjang akan menemaniku lagi malam ini. Namun, aku merasakan tangan kananku memegang sesuatu. Terkejut aku melihat benda itu, tak percarya kalau mata tidur bisa terbawa sampai ke alam nyata. Hampir saja aku menjatuhkannya. Dan hup, aku berhasil menangkapnya.

Kuingat-ingat lagi mimpiku tadi. Mata tidur, toko tidur, antrian orang-orang yang sulit tidur –sama sepertiku, pembicaraan dengan orang-orang di sana dan pesan seorang tua. Ah, aku ingat. Semua orang menginginkan mata ini agar bisa cepat tidur. Ya, aku ingat sekarang. Aku akan mencoba mata tidur, meski aku ragu akan kebenaran mata tidur ini.

Seketika aku merasa berada di dimensi lain atau mungkin di tempat lain. Tempat yang gelap sempurna yang hanya menyisakan setitik terang di bagian ujung atasnya. Ah, biarkan saja. Sebentar lagi –seperti adegan-adegan film– pasti tempat ini akan berubah menjadi terang dan aku akan tahu di mana aku berada sekarang.

Perlahan aku tahu di mana aku berada. Di sebuah taman indah. Padang rumput terbentang luas di depannya. Aku duduk di bawah pohon yang begitu rindang. Matahari pun bersinar cerah. Tidak panas. Tidak juga mendung. Begitu damai dan menenangkan. Selintas, kulihat seorang tua di mimpiku sebelumnya. Dia tidur dengan sangat pulas. Kelihatannya dia telah mendapatkan mata tidur.

Ah ya, mata tidur. Aku sedang memakainya sekarang. Namun sial, aku melupakan sesuatu. Aku tidak tahu bagaimana cara melepaskan mata ini.

Mata tak pernah mati
sebab ada mata-mata yang mondar-mandir
antara mata kanan dan mata kiri. (Insomnia, Joko Pinurbo)

KotaSantri.com © 2002-2026