Pelangi » Pernik | Ahad, 19 Februari 2012 pukul 15:00 WIB

Malaikat-Malaikat Kecilku

Penulis : Nurul_Adhim

Penat kembali mendatangiku saat aku memasuki rumah kost yang selama tiga tahun ini aku tinggali. Kembali sepi mendatangiku, karena lagi-lagi tak satupun penghuni rumah berada di sini dan rumah ditinggalkan kosong begitu saja.

Rumah ini, menjadi saksi bisu atas semua hal yang telah kualami selama tiga tahun ini, suka dan duka telah banyak kualami dalam rumah yang cukup sederhana ini, yang berdindingkan papan tripleks dan berlantai terpal plastik ini. Walaupun mungkin jika aku mau, bisa saja aku mencari tempat kost yang lebih ramai dan lebih bagus dibandingkan rumah ini. Tapi bagiku, ada nilai lebih yang kutemukan di sini dibandingkan tempat kost yang lain.

Di sini ada sepasang nenek dan kakek yang kehidupannya sangat sederhana sebagi penjual getuk dan jajanan pasar. Walaupun hidup seadanya, mereka begitu terlihat bahagia dan menganggapku sebagai cucu mereka yang selalu mereka sayangi. Terkadang memang jika aku punya waktu luang dan kesepian, segera aku menuju dapur tempat mereka membuat jajanan pasar untuk sekedar membantu mereka dan mengusir sepi yang kurasakan. Tapi entahlah malam ini, aku benar-benar hanya ingin menangis dan tidak ingin ke luar dari kamarku.

Dahulu aku adalah satu-satunya mahasiswa yang kost di tempat ini, karena memang tadinya rumah ini memang bukan rumah yang biasa menerima mahasiswa untuk kost. Hingga kini ada dua orang temanku yang menemaniku di sini karena memang harga sewa yang lebih murah dibandingkan tempat kost yang lain. Karena kami hanya bertiga, sehingga membuat kedekatan emosional terjadi antara kami. Jadi bisa dibilang apapun yang terjadi pada salah satu dari kami, dapat dipastikan akan menceritakan pada yang lainnya.

Walaupun seringkali keadaan seperti ini kualami, akan tetapi malam ini aku merasakan hal yang berbeda. Entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa benar-benar sendiri. Entah karena aku sudah begitu letih dengan semua aktivitasku akhir-akhir ini, atau mungkin karena aku memang sedang labil, terutama hari ini yang benar-benar melelahkan karena aku harus mengerjakan praktikum sampai menjelang maghrib dengan hasil yang kurang memuaskan pula.

Tak lama setelah aku masuk, terdengar suara adzan maghrib menggema dari masjid yang terletak tak jauh dari rumah kost yang kutempati ini. Segera aku bersiap untuk mandi dan mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan shalat maghrib, aku berdzikir demi menenangkan hatiku yang memang sedang dilanda perasaan tak tentu ini. Aku tahu, di saat-saat seperti ini aku harus mendekat pada-Nya agar aku tak terlalu larut dalam perasaan yang menyesatkanku.

Tanpa terasa air mata ini mengalir deras, laksana limpahan perasaan yang sudah tak kuasa kubendung. Aku bersujud pada-Nya yang Mahakuasa atas segalanya. Kuminta pertolongan-Nya untuk dapat menenangkan hatiku yang sedang bingung ini. Karena saat ini memang tak satupun yang menemaniku selain Dia.

Tak lama kemudian samar-samar kudengar ada suara yang memanggilku dari kamar sebelah yang memang kamar milik si mbah. Ternyata suara itu adalah suara dek Ipang, cucu terkecil nenek yang memang rumahnya tak jauh dari rumah ini. Anak yang sangat lucu dan menggemaskan itu tiba-tiba saja sudah membuka pintu kamarku. Segera ku menghapus air mata, dan tersenyum padanya.

”Loh, dek Ipang. Wonten napa, dek?”

”Mbak, iku nang meja bubule capa? Bubule Ipang?” dengan perkataan yang masih celat dia bertanya kepadaku.

”Oh... Enggeh niku bubure Ipang. Purun didulang po kaleh mba?” aku mencoba menawarkan padanya.

”Ipang bubule nang omah, iku bubule mba ya? Kan Ipang wes duwe.”

Sejenak kemudian aku sudah dapat tertawa ketika Ipang mulai bertingkah lucu. Dan tak lama kemudian datang dek Amel, kakak perempuan Ipang. Dek Amel datang mebawa Mushaf yang dipegangnya dengan erat, kemudian dengan malu-malu dia berkata bahwa dia sekarang sudah lancar dan hampir dapat menghafalkan juz amma. Lalu aku merayunya untuk membacanya di depanku. Dengan masih malu-malu dan cukup lancar, dek Amel membacakan surah An-Naba’ yang membuat hati ini semakin damai. Menyusul kemudian datanglah dek Nur, kakak sepupu dek Amel dan dek Ipang yang kebetulan serumah dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri.

Lengkap sudah kini malaikat-malaikat kecil itu datang menghampiriku yang sedang merasakan kesendirian. Dengan berjuta keceriaan dan kebeningan hati mereka yang membuat aku lupa akan kesedihan yang kurasakan. Yang selama ini telah Dia kirimkan untuk menghiasi hari-hariku.

Ya, Allah telah mendatangkan malaikat-malaikat kecil-Nya untuk menghiburku, menenangkan jiwaku, dan membasuh kering jiwaku. Syukurku, ya Allah, tak akan mampu melebihi ni’mat yang Engkau limpahkan padaku.

KotaSantri.com © 2002-2026