Pelangi » Pernik | Ahad, 6 November 2011 pukul 11:30 WIB

Emak Sudah Pulang

Penulis : Ferry Hadary

"Mak udah balek, Nak...," nada suaranya bergetar.

Sesekali batuk kecilnya masih terdengar. Rasa lelah karena baru saja usai mengikuti beragam prosesi ibadah dan juga perbedaan cuaca, tak urung membuatnya seakan bertambah renta. Namun rasa bahagia yang tak mampu dirangkainya dengan kata-kata, niscaya memenuhi setiap sudut ruang batinnya.

"Mak baek?" tanyaku secepatnya.

"AlhamduliLlah Mak baek jak Nak," sahutnya pula.

Sebelum berangkat, kondisi Emak memang sedikit payah. Penyakit jantung, asam urat dan komplikasi lain terkadang tak hanya membuatnya sulit menelan makanan, tetapi juga sukar untuk memejamkan mata saat penat dan kantuk menyapa. Karena itu pula mungkin Emak sering merasa lelah.

Syukurlah, selama di sana penyakitnya tak pernah kambuh. Emak yang sebelum ini rapuh, ternyata menjadi lebih tangguh.

AlhamduliLlah...

Hajat Emak sudah sampai. Kerinduan teramat sangat yang dipupuknya dari beberapa tahun lalu, baru saja terlaksana. Dengan untaian butir do'a yang berhamburan ke angkasa di kesenyapan malam, serta serupiah dua rupiah yang setiap waktu ditabungnya, telah dipenuhinya panggilan Allah 'Azza wa Jalla.

Labbaik, Allahumma Labbaik! Labbaik, Allahumma Labbaik!

Aku sambut panggilanMu ya Allah, aku sambut panggilanMu!

Tak lama, Emak pun asyik berkisah dengan suaranya yang kini terdengar lebih bersemangat. Cerita tentang persaudaraannya dengan beberapa muslimah dari negara yang selama ini hanya pernah didengar namanya saja. Walaupun baru saling mengenal, mereka tak sungkan bergantian memijit pundak atau sekedar bercerita melalui bahasa isyarat, karena Emak memang tak bisa berbahasa Inggris, apalagi Arab.

Emak juga bercerita seraya tertawa kecil ketika terpana melihat monumen sepeda raksasa di pusat kota, bundaran S-Sittin, Jeddah. Bahkan mungkin saking besarnya sehingga dijuluki Sepeda Nabi Adam. Tak lupa beliau bersuka cita saat menceritakan bahwa sebelum wukuf sempat pula pergi ke Jabal Rahmah yang terletak di tengah Padang Arafah. Menyaksikan sendiri sebuah bukit yang pernah menjadi saksi bagi kedua insan, Adam dan Hawa, melepaskan kerinduan serta mencurahkan kembali kasih sayang setelah terpisah puluhan tahun lamanya.

Di Arafah ini pula, tempat berhimpunnya jutaan manusia untuk lebih mengenal Allah Sang Maha Pencipta, juga aneka suku dan bangsa. Tempat perenungan bagi setiap manusia tentang hakikat kehidupan serta gambaran masa depan akan sebuah pengadilan, kelak di Padang Mahsyar.

Sungguh, teramat banyak yang Emak ceritakan. Walaupun terpisahkan oleh bentangan jarak, namun aku yakin bola matanya pasti berbinar-binar bahagia. Rasa syukurnya juga tentu berlimpah ruah, karena bisa pulang dengan selamat. Padahal sebelumnya sempat terbersit pula dalam pikirannya bahwa beliau ikhlas, kalau ternyata nanti bisa kembali ke tengah keluarga atau tidak.

Kemudian, suara Emak di ujung telepon sana mendadak berubah setelah panjang lebar bercerita,

"Makaseh ye, Nak...," kini dengan nada suara kembali bergetar. Sementara aku hanya diam seribu bahasa, sambil menahan jutaan rasa yang menghentak-hentak di dada.

Aaah Emak...

Sesungguhnya, tak perlu beliau mengucapkan terima kasihnya. Sedikit rezeki yang juga bisa kusisihkan untuk membantu keberangkatannya ke Mekkah, tidaklah setimpal dengan segala perbuatan yang pernah dilakukannya. Pun, begitu pula jutaan emak lain di seluruh penjuru dunia, niscaya tak terhitung kasih sayang mereka kepada kita sebagai anak-anaknya. Betapa keajaiban cinta itu selalu saja mempesona hingga akhir zaman. Luruh sepanjang masa, sehingga surga ada di telapak kaki mereka.

Saat aku masih tercenung karena ucapan Emak barusan, dan juga seraya mengingat jutaan kasih sayang yang telah dilimpahkannya, Emak kembali berkata dengan bahasa Melayu Pontianak-nya yang kental,

"Mak dak bise balas ape-ape, Nak. Cume do'e agar engkau dan keluarge dibalas kebaikannye oleh Allah. Dinaekkan derajatnye..."

Seketika itu juga aku semakin dalam merenung. Mata mengabur dan dada bagaikan ingin pecah. Tak kuasa menahan, airmataku pun tumpah, meruah di wajah.

Tulisan ini saya tulis sekitar tahun 2005, di sela-sela kesibukan waktu ambil S3 di Jepang.

KotaSantri.com © 2002-2026