
Pelangi » Pernik | Ahad, 19 Juni 2011 pukul 11:55 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Malam semakin larut. Sebentar lagi pagi menjelang. Ana masih terjaga. Matanya sembab, sarung bantal basah, dan bantal menjadi saksi atas kepedihan yang dialami Ana.
Beberapa minggu terakhir Ana memang sering menangis. Ia bingung bagaimana harus bersikap dalam menentukan pilihan siapa yang akan mendampingi hidupnya kelak.
Raja adalah pilihan hatinya. Ia sangat mencintai Raja, begitu juga Raja sangat mencintai Ana. Beberapa perbedaan yang sempat mencuat, berhasil mereka atasi. Dan, menikah adalah keputusannya.
Keputusan Ana untuk menikah dengan Raja mendapat tentangan dari teman-teman dan lingkungannya tempat beraktifitas. Padahal, keluarga Ana tidak mempermasalahkan dengan siapa ia bakal menikah.
Karena tentangan itu, Ana semakin bingung. Maklum, sifat Ana memang selalu merasa tidak enak dengan orang lain. Saat kebingungannya itu, salah seorang teman dari tempatnya beraktifitas menyodorkan seorang lelaki pilihannya untuk menjadi pendamping Ana, Adi namanya.
"Raja atau Adi?" tanya Ana dalam hati.
Setiap malam, hati Ana selalu berkecamuk. Menjelang tidur, ia selalu menangis. Menangis karena bingung dalam menentukan sikap. Jika memilih Raja, ia merasa tidak enak dengan temannya yang sangat dihormatinya itu. Dan jika ia memilih Adi, tentu ia akan membuat Raja kecewa.
"Adi memang baik. Agamanya pun bagus dan mungkin ke depannya bisa bersinergi dalam beraktifitas. Tapi, Raja adalah sosok yang selama ini kudambakan. Aku merasa nyaman dengannya. Pilihanku adalah Raja," pikir Ana.
Keputusan Ana sudah bulat, Raja adalah pilihannya.
"Coba kau pikirkan lagi matang-matang. Siapa itu Raja? Sedangkan Adi, ia baik agamanya dan bisa mendampingimu dalam beraktifitas. Lagi pula, Adi adalah orang yang cocok menurutku," perkataan temannya selalu membayangi Ana setiap saat.
Waktu terus berlalu. Istikharah dan konsultasi sering Ana lakukan. Ia masih saja bimbang.
Akhirnya, karena desakan temannya itu dan untuk menghormati beliau, Ana rela mengorbankan cintanya. Ana akan memilih Adi sebagai pendamping hidupnya.
"Mungkin Adi-lah yang terbaik yang telah Allah SWT pilihkan untukku. Jika memang proses dengan Adi lancar, maka Adi memang jodohku," batin Ana.
Ana menyerahkan semuanya pada temannya itu. Semua diatur oleh temannya. Dan proses menuju pernikahan pun berjalan dengan cepat. Ta'aruf, Khitbah, dan persiapan Akad Nikah berlangsung lancar tanpa ia duga.
Beberapa minggu menjelang akad nikah, Ana masih bimbang. Ia merasa telah mengecewakan Raja. Ana merasa bersalah pada Raja. Dan Ana pun berkali-kali minta maaf pada Raja.
"Gak mungkin aku membatalkan khitbah. Dampaknya akan besar. Aku akan mengecewakan Adi, temanku, dan tentu kedua keluarga," ungkap Ana saat berkomunikasi dengan sahabatnya.
Saat itu, sahabatnya Ana memberitahu bahwa Raja sedang sakit. Raja terus memikirkan Ana. Raja menerima keputusan Ana, tapi ia masih butuh waktu untuk melupakan Ana.
"Adi memang bukan pilihan hatiku. Tapi, sepertinya Allah SWT berkehendak lain. Prosesku dengan Adi berlangsung cepat tanpa kuduga. Mungkin Adi adalah pilihan Allah SWT untukku. Pilihan yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah kan?" Ana meyakinkan diri pada sahabatnya itu.
Hari yang ditentukan tiba. Akad nikah berjalan lancar. Adi telah resmi menjadi suami Ana.
"Kau memang bukan pilihan hatiku. Tapi, kau adalah pilihan Allah SWT untukku. Insya Allah, aku akan memberikan yang terbaik untukmu, karena kau adalah suamiku," ucap Ana dalam hati.
Pernikahan Ana dengan Adi bukan atas dasar cinta, tapi mereka berkomitmen untuk membangun dan menumbuhkan cinta. Cinta karena Allah SWT. Ana yakin dengan pilihan yang diberikan Allah SWT, karena Ia mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya.
KotaSantri.com © 2002-2026